34. Jailangkung

168K 16K 397
                                        

Pria dengan balutan kaus hitam itu termenung di sebuah kafe ternama di ibu kota. Ucapan mertuanya terus terputar di kepalanya. Dia sudah janji, kan? Maka ia harus menepatinya. Calvin tak mau menjadi seorang pengecut yang berani mengingkari janjinya sendiri.

Sentuhan di bahunya membuat lamunan Calvin buyar. Pria itu mendongak dan ia kembali dikejutkan dengan kedatangan makhluk tak diundang satu ini. Dia Gladis, mantannya.

"Ngapain lo?" tanya Calvin tak santai.

Gara-gara wanita ini, Ayla jadi marah padanya. Dan, gara-gara wanita ini pula Calvin harus tidur di luar dan tidak mendapat jatah dari istrinya. Tanpa permisi, wanita bernama Gladis itu langsung duduk di hadapan Calvin membuat Calvin mendengus.

"Aku nggak sengaja liat kamu. Aku kira orang lain, ternyata beneran kamu. Mungkin, ini yang dinamakan jodoh."

Calvin menatap wanita di hadapannya datar, "Jodoh pala lo," umpatnya dalam hati.

"Calvin, aku mau ngomong sesuatu."

Calvin diam, malas menanggapi manusia ular di hadapannya.

"Aku mau kita kayak dulu lagi." Gladis memegang tangan Calvin yang berada di atas meja, tapi segera dihempas oleh pria itu.

"Enak banget lo ngomong. Dulu-dulu, lo ke mana?" tanya Calvin menyunggingkan senyum sinis.

"Aku bisa jelasin."

"Gue nggak butuh penjelasan lo. Gue udah punya istri, mending lo nggak usah ganggu gue lagi."

Gladis mengerutkan kening, menyibak sebentar rambut panjangnya yang menjuntai.

"Kamu emang udah punya istri? Kok, aku gatau?"

Calvin melirik gadis di hadapannya malas.

"Kemarin waktu aku ke rumah kamu, aku cuma lihat pembantu. Istri kamu di mana?" tanyanya tanpa dosa.

Calvin menatap gadis di depannya. "Orang yang lo sebut pembantu itu istri gue, Berengsek!" bentak Calvin.

Keduanya kini menjadi pusat perhatian semua pengunjung kafe. Namun, Calvin tak peduli, dia terus memberikan tatapan tajam pada wanita di depanya. Berani sekali dia menyebut istrinya sebagai pembantu. Gladis tersenyum canggung kepada pengunjung lain. Tatapannya lalu kembali ke arah Calvin.

"Ayolah, Calvin, mana mungkin wanita kemarin istri kamu. Sejak kapan seleramu jadi sangat rendah seperti itu?"

Calvin memukul meja di depannya membuat Gladis terlonjak kaget.

"Lo ngomong sekali lagi, gue robek mulut sampah lo itu."

Calvin berdiri mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu menaruhnya di atas meja.

"Gue peringatin sekali lagi sama lo, jangan pernah ganggu gue lagi atau lo akan tau akibatnya."

Calvin menunjuk wanita di hadapannya emosi, lalu pergi meninggalkan kafe.

***

Calvin mengisap nikotin di tangannya. Pria itu duduk di lantai bawah, menyandarkan kepalanya pada sofa. Sesekali memejamkan mata, menikmati nikotin miliknya.

Di atasnya, Aaron sibuk memainkan ponselnya. Mereka kini berada di rumah Calvin. Pria berambut pirang itu ingin melihat seperti apa rumah baru temanya itu.

"Ayla ke mana, Vin?" tanya Aaron yang belum melihat batang hidung Ayla sejak tadi.

"Ngapain nyari Ayla?" tanya Calvin sewot.

"Ada, lah, urusan penting."

"Sok penting hidup lo," sahut Calvin sarkastis.

Aaron mengusap dadanya sabar. Pria itu kembali merubah posisinya menjadi duduk, melipat kakinya menjadi bersila.

My Sweet Calvin [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang