42. Ngidam

149K 15.3K 480
                                        

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini usia kandungan Ayla sudah berumur tujuh bulan. Meski Calvin kembali disibukkan dengan latihan motor, tapi pria itu tak melupakan kewajibanya begitu saja. Bahkan, sifat Calvin bertambah posesif terhadap Ayla, apalagi jika menyangkut calon buah hati mereka.

Ayla pun sudah menyelesaikan kuliahnya ketika kandungannya berusia lima bulan. Tentu saja, dengan hasil cumlaude yang membanggakan. Sekarang ini, Ayla lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, kadang juga di ajak Calvin untuk ikut menemaninya latihan atau kadang jika Ayla merasa bosan, ia akan meminta izin kepada Calvin untuk main ke pondok pesantren miliknya.

Setiap pulang latihan, Calvin selalu mengirim pesan kepada Ayla. Sekadar untuk bertanya apakah istrinya itu menginginkan sesuatu? Jika ada, Calvin akan mampir untuk membelikan barang atau makanan yang diinginkan Ayla ingin sebelum pulang ke rumah.

"Ay, pengin sesuatu nggak?"

Calvin yang berkutat dengan laptop menoleh ketika Ayla naik ke ranjang. Ayla menggeleng membuat Calvin mengembuskan napas. Pria itu menutup laptopnya menghampiri Ayla yang kini memainkan ponsel.

Calvin menyibak selimut yang menutupi kaki Ayla, memijat kaki istrinya itu.

"Capek, ya?"

Ayla meletakkan ponselnya di atas nakas, menoleh ke arah Calvin yang kini menatapnya.

"Kenapa?"

Calvin mengelus perut istrinya yang mulai membesar, memberikan kecupan singkat di sana.

"Pasti berat."

Ayla menggeleng. "Enggak," jawabnya, lalu mengelus rambut suaminya yang sibuk mengelus perut buncitnya.

"Ay, lo nggak ngidam gitu?" tanya Calvin mendongak.

"Enggak," jawab Ayla yang lagi-lagi membuat Calvin mendengus.

Sejak awal kehamilan Ayla, Calvin sangat antusias jika istrinya itu akan mengidam. Ia tak sabar untuk menuruti kemauan istri dan anaknya di dalam sana. Namun, permintaan Ayla sangat sepele, menurutnya. Seingat Calvin, Ayla hanya pernah meminta dibelikan semangka berwarna kuning. Hal yang sangat mudah bagi Calvin, pria itu langsung membelikan semangka setelah ia pulang latihan.

"Ayo, ngidam, dong, Ay."

"Gue pengin lo ngidam."

Aneh, jika laki-laki lain akan menggerutu jika disusahkan oleh keinginan istrinya. Namun, Calvin justru menawarkan dirinya.

"Enggak. Udah malam, aku mau tidur."

Calvin mengembuskan napas, sedikit mencebikkan bibir, lalu ikut berbaring menyusul istrinya yang kini sudah memejamkan mata.

***

Pukul 3.00 pagi, Calvin yang sedang tidur dengan memeluk istrinya terusik ketika Ayla menepuk pipinya, mengguncang bahu Calvin agar pria itu bangun.

"Kenapa?" tanya Calvin dengan suara serak dan mata masih terpejam.

"Mau sesuatu," ucap Ayla menarik narik kaus yang dikenakan Calvin.

"Hm," gumam Calvin yang masih mengantuk.

Ayla menduselkan kepalanya pada dada bidang Calvin. "Ngidam," ucap Ayla pelan.

Calvin membuka matanya, ia yang tadinya mengantuk langsung bersemangat setelah mendengar kata 'ngidam' dari Ayla, tak peduli jika waktu masih sangat pagi jika harus menuruti kemauan istrinya.

Calvin mengubah posisinya menjadi duduk, "Lo mau apa?" tanyanya antusias.

Ayla tersenyum cerah kemudian ikut mengubah posisinya menjadi duduk.

My Sweet Calvin [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang