"Ayla!" Calvin menggedor pintu di depanya tak sabaran. "Ay, buka biar gue jelasin dulu." Pria itu terus menggedor pintu di kamar berharap Ayla membuka pintu.
Bukannya pintu yang dibuka, melainkan Calvin mendengar suara isakan dari dalam sana. Calvin mengepalkan tangan, pria itu kemudian berlari menuruni tangga, menyeret paksa gadis berambut panjang tadi keluar rumah.
"Calvin aku-"
"Pergi lo, berengsek!" ucap Calvin emosi.
"Kok, kamu bentak aku?" tanya gadis tadi dengan mata berkaca-kaca.
"Aku kangen banget sama kamu. Kamu nggak kangen sama aku?"
"Persetan sama kangen, mending lo pergi sekarang."
"Calvin, aku Glad. Gladismu, ingat?"
Gadis tadi menyentuh pipi Calvin, tapi langsung disentak oleh pria itu.
"Ngapain lo balik lagi? Ke mana aja lo selama ini?" tanya Calvin dengan nada tingginya.
"Aku bisa jelasin."
"Gue nggak butuh penjelasan lo, mending sekarang lo pergi."
"Tapi, Calvin-"
Calvin membanting pintu di depanya menimbulkan suara dentuman yang keras. Ayla yang berada di lantai 2 saja bisa mendengarnya. Calvin meraup wajahnya emosi. Kembali menaiki tangga menuju kamar. Baru saja pria itu hendak mengetuk pintu, pintu sudah terbuka dari dalam, menampilkan Ayla yang keluar dengan mata sembab.
"Ay, gue bisa jelasin." Pria itu hendak menggapai tangan Ayla. Namun, istrinya itu justru langsung pergi meninggalkan Calvin sendirian.
Calvin meneguk saliva susah payah. Wajah Ayla sangat menyeramkan ketika marah. Pria itu mengikuti Ayla kemanapun istrinya itu pergi. Ayla berjongkok, hendak membereskan pecahan piring brownisnya. Namun, Calvin lebih dulu memotongnya.
"Biar gue aja."
Ayla hanya memandang Calvin sekilas lalu pergi meninggalkan suaminya itu. Hati Calvin sedikit mencelus ketika Ayla meninggalkannya begitu saja. Pria itu segera membereskan pecahan piring dan brownis di lantai. Calvin membuang pecahan tadi ke tempat sampah di dekat dapur. Pria itu langsung menghampiri istrinya yang sedang makan di meja makan.
Calvin duduk di kursi, di depannya sebuah makanan sudah tersaji. Calvin tersenyum kecil, meski marah Ayla masih perhatian padanya.
"Ay, gue-"
"Bisa nggak kalau makan diem?" ucap Ayla dengan wajah datar.
Calvin kembali meneguk saliva susah payah, baru kali ini ia mendengar suara Ayla yang seperti itu. Biasanya, istrinya itu berbicara dengan nada lembut. Calvin diam, pria itu lebih memilih memakan makanannya. Sesekali melirik wajah Ayla yang kini menampilkan wajah jutek.
Selesai makan, Ayla memilih untuk menonton TV, tentu saja dengan Calvin yang selalu mengekorinya ke mana pun ia pergi. Ayla duduk di sofa, pandangannya fokus dengan layar besar di depannya. Sementara itu, Calvin duduk menghadap Ayla dengan melipat kedua kakinya.
"Ay, dengerin dulu," ucap Calvin pelan.
"Yang," rengek Calvin. "Sayang." Calvin terus merengek menarik gamis yang dikenakan Ayla.
"Diem," ucap Ayla yang langsung membuat Calvin kicep.
Pria itu tak menyerah, Calvin makin mendekatkan dirinya kepada Ayla, memeluk istrinya itu dari samping.
"Lepas." Ayla langsung menolak pelukan suaminya.
Ayla menoleh ke arah Calvin yang menampilkan wajah lesunya, menatap Calvin datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Calvin [TERBIT]
Teen FictionNamanya Calvin Aldeguer. Pria penuh kharisma yang mampu membuat kaum hawa ketika melihatnya langsung terpana. Pemegang kandidat pembalap termuda di dunia membuat pria itu cukup populer di banyak kalangan. Hidup Calvin yang biasanya hanya di penuhi...
![My Sweet Calvin [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/307080265-64-k351434.jpg)