Sembilan bulan waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh pasangan yang akan mendapat panggilan baru dari buah hati mereka. Perkiraan persalinan Ayla akan melahirkan satu minggu lagi. Ayla sangat antusias untuk menyambut buah hatinya. Namun, di sisi lain, wanita itu juga bersedih karena selama seminggu yang akan datang Calvin akan terbang ke Argentina untuk melakukan pertandingan.
"Anak Dad lagi apa di sana?" Calvin berjongkok di hadapan Ayla yang sedang duduk di sofa, menempelkan pipinya pada perut buncit istrinya.
Dug!
Calvin terkejut ketika merasakan tendangan kecil di sana. Pria itu mendongak ke arah Ayla dan langsung mendapat anggukan oleh istrinya dengan tersenyum.
"Dad pengin segera lihat kamu. Cepet keluar, dong." Kali ini Calvin beralih mengusap perut Ayla.
Dug!
Lagi-lagi, Calvin dibuat terkejut dengan tendangan anaknya dari dalam sana. Sepertinya, sang buah hati sedang merespons ucapan Daddy-nya.
Calvin mengekeh, kembali mengecup perut istrinya, "Tapi, jangan keluar dulu, tunggu Dad balik aja."
Ayla berdecak "Yang bener kalau ngomong."
Pria dengan balutan kaus navy itu mendongak, kemudian cengar-cengir memperlihatkan gigi rapinya.
"Kalau bisa, tunggu Dad sehari aja. Dad janji langsung balik." Calvin mengelus perut buncit Ayla nanar.
Ayla mengelus rambut hitam suaminya yang kini berjongkok di hadapannya. Sedikit terkejut ketika melihat mata Calvin yang berkaca-kaca.
"Kenapa?" tanya Ayla lembut mengelus pipi Calvin.
"Maaf."
Tanpa ditanya Ayla sudah tahu apa maksud suaminya itu.
"Nggak apa-apa," jawab Ayla pengertian.
Calvin kembali mengusap perut buncit Ayla. "Maaf, maafin Dad."
Calvin bangkit, duduk di sebelah Ayla dan Memeluk istrinya itu dari samping. Ia menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Ayla. Ayla tertegun ketika sesuatu yang basah mengenai lehernya. Melepas pelukan Calvin, lagi-lagi Ayla dibuat tertegun karena Calvin yang sudah meneteskan air mata.
"Jangan nangis," ucap Ayla pelan, lalu mengelap air mata di pipi suaminya.
Calvin menggeleng, "Harusnya, gue bisa nemenin lo. Harusnya, gue bisa jadi orang pertama yang gendong anak kita."
Calvin mengembuskan napas pelan, "Sorry, Ay, gue nggak becus jadi suami."
Ayla menggeleng. "Jangan ngomong gitu. Kamu itu seorang rider. Setiap perlombaan, setiap pertandingan, kan, bukan kamu yang ngatur jadwalnya. Jadi, ini bukan salah kamu. Janji sama aku, ya, habis race langsung pulang."
Calvin mengangguk, memeluk tubuh istrinya, "Gue janji."
"Mau pergi nggak?" tanya Calvin melepas pelukannya, lalu memandang Ayla.
"Ke mana?"
"Jalan-jalan gitu, besok gue udah harus terbang ke Argentina," ucap Calvin lesu di akhir kalimatnya.
Ayla mengganguk dan tersenyum untuk menghibur suaminya yang kini menampilkan wajah ditekuk.
"Gue ganti baju dulu, sekalian gue ambilin jilbab sama cadar lo."
Calvin mengecup pipi Ayla sekilas kemudian menaiki tangga menuju kamar.
***
Calvin yang baru saja hendak membuka pintu lemari mengurungkan niatnya ketika tiba-tiba mendengar teriakan Ayla dari bawah sana. Pria itu segera berlari keluar kamar, matanya langsung membola ketika melihat Ayla duduk di lantai dengan terus memegangi perutnya.
Calvin berlari menuruni tangga, ia tambah terkejut ketika melihat darah yang mengalir pada kaki Ayla.
"Ayla," ucap Calvin panik.
"Kenapa bisa gini?" Calvin berjongkok di hadapan istrinya.
Tanpa aba-aba Calvin menggendong Ayla ala bridal style memasukkan Ayla ke mobil, bersiap untuk ke rumah sakit.
***
Pria itu menatap tajam istrinya yang kali ini menunduk di atas ranjang.
"Kenapa bisa?" tanyanya datar.
Ayla menggeleng, takut dengan tatapan tajam suaminya.
"JAWAB!" ucap Calvin mulai menaikkan suaranya.
Ayla makin menunduk, takut dengan bentakan Calvin.
"Gue udah bilang kan, hati-hati. Kenapa bisa sampai nabrak meja?"
Ayla terus menggeleng sambil menunduk.
"Gue bahkan udah bilang berkali-kali kalau butuh sesuatu panggil aja gue, minta tolong. Apa susahnya? Jangan gedein gengsi, gue suami lo. Jangan egois, lo lagi hamil anak kita! Gimana kalau bayinya kenapa-kenapa? Lo mau tanggung jawab?"
"Maaf, maaf, hiks... maaf. Jangan ngomong gitu."
Ayla langsung memeluk suaminya yang kini berdiri di samping ranjang. Calvin berdecak keras, membiarkan istrinya menangis di sana.
"Lo tuh kalau dibilangin, didengerin, bukannya malah nangis."
Ayla menggeleng, menyembunyikan wajahnya pada perut Calvin yang kini masih berdiri. Calvin mengembuskan napas pelan, mengusap lembut rambut istrinya.
"Udah nggak usah nangis. Gue cuma pengin lo lebih hati-hati."
Calvin mencoba mengendurkan pelukan Ayla, tapi wanita itu justru memeluk pinggangnya erat.
"Lepasin dulu, nanti engap," ucap Calvin lembut.
Ayla menurut, melepas pelukannya pada pinggang suaminya, lalu menunduk. Calvin berjongkok di hadapan Ayla, mengusap pipi istrinya yang kini basah oleh air mata, lalu mengecup lembut kedua bola mata istrinya agar berhenti menangis.
"Lain kali hati-hati, ya," ucap Calvin lembut lalu menggenggam tangan Ayla.
Ayla mengangguk, memberanikan diri menatap Calvin yang kini menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Maaf," ucapnya pelan.
Calvin mengulas senyum, "Nggak usah minta maaf, cukup lo nggak ngulangin lagi."
Calvin berdiri, mengusap lembut rambut istrinya. Melirik jam yang bertengger di dinding, masih pukul 11.00 siang. "Sekarang istirahat, ya."
Ayla kembali mengangguk, tak berani melawan perintah suaminya. Wanita itu langsung mengubah posisinya menjadi berbaring. Calvin dengan sigap menyelimuti tubuh istrinya itu sampai sebatas dada. Calvin hendak beranjak, tapi tangan Ayla mencekalnya.
"Temenin," ucap Ayla pelan.
Sedikit tak enak, Calvin menggeleng. "Gue ada urusan sebentar, gue pergi dulu, ya."
Ayla tertegun, tidak biasanya Calvin menolak permintaannya.
Apa semarah itu Calvin padanya?
Mengulas senyum tipis, Ayla mengangguk pelan. Melepas cekalannya pada lengan Calvin, lalu memilih memejamkan mata.
Sorry, Ay, batin Calvin. Maafin Dad. Kemudian, beranjak keluar dari kamar.
Air mata kembali menetes setelah Calvin keluar kamar. Ayla merutuki kecerobohannya yang mengakibatkan dirinya pendarahan tadi.
Tadi setelah Calvin menaiki tangga, Ayla yang ingin mengambil remote TV di sofa seberang, justru menabrak meja di hadapannya. Nahas, perutnya mengenai ujung meja membuatnya langsung pendarahan.
Ayla mengusap perutnya yang buncit. "Maaf ,ya," ucapnya terus-menerus hingga ia lelah dan akhirnya tertidur.
**
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Calvin [TERBIT]
Novela JuvenilNamanya Calvin Aldeguer. Pria penuh kharisma yang mampu membuat kaum hawa ketika melihatnya langsung terpana. Pemegang kandidat pembalap termuda di dunia membuat pria itu cukup populer di banyak kalangan. Hidup Calvin yang biasanya hanya di penuhi...
![My Sweet Calvin [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/307080265-64-k351434.jpg)