41. Apple Hair

160K 15K 205
                                        

"Ay, mau ikut nggak?"

"Ke mana?"

Ayla yang sedang membaca buku menoleh ke arah Calvin yang masih memakai pakaian santai.

"Ke mana aja, asal sama lo."

Ayla menggeleng, membuat Calvin mencebikkan bibir kesal. Pria itu menaiki ranjang, menjadikan paha Ayla sebagai bantal.

"Kenapa?" tanya Calvin di bawah sana, wajah pria itu tertutupi dengan buku yang Ayla baca.

"Mager," jawab Ayla seadanya.

"Mager terus." Calvin mengambil buku Ayla membuangnya asal membuat Ayla terkejut.

Ayla memberi tatapan tajam pada Calvin, sedangkan si pelaku dengan tanpa dosanya menggiring tangan Ayla supaya mengelus kepalanya.

"Ayo, keluar," rengek pria itu.

Ayla melirik jam di atas nakas sekilas, pukul 5.00 sore.

"Sebentar lagi mau magrib."

Calvin berdecak. "Masih lama."

Pria itu menyingkap kaus Ayla membuat Ayla sedikit terkejut. Calvin menciumi perut Ayla yang sudah sedikit menonjol.

"Bilang sama Mom supaya mau jalan sama Dad," ucapnya mengajak berbicara janin yang masih dalam kandungan Ayla.

Ayla mengekeh, usia kandunganya masih cukup muda. Bahkan, mungkin bayinya belum terbentuk di dalam sana.

"Mau ke mana emang?" Wanita itu menyikap rambut yang menutupi dahi suaminya, membuat Calvin sedikit mendongak.

Calvin menatap Ayla sekilas. "Udah, lah! Udah nggak mood, mau tidur aja."

Calvin memeluk perut Ayla, menenggelamkan wajahnya di sana.

"Nggak baik tidur jam segini," ucap Ayla lembut, kembali mengelus rambut lebat suaminya.

Calvin bergumam, membuat Ayla berdecak pelan.

"Kemarin ngapain ke mansion?"

Seakan-akan mengingat sesuatu, Calvin mendongak, bangkit dari berbaringnya dan menggenggam tangan Ayla.

"Gue minta maaf," ucapnya lirih.

"Kenapa?" tanya Ayla bingung.

"Gue bakal pergi ke Argentina buat balapan selanjutnya."

Ayla tersenyum manis, "Bagus dong, emang kenapa?"

Calvin mengembuskan napas pelan, bersiap mengatakan kalimat selanjutnya.

"Delapan bulan lagi."

Ayla terkejut. Delapan bulan lagi? Kandunganya sekarang sudah satu bulan lebih. Apa itu berarti suaminya tidak bisa menemani proses persalinannya?

"Jadi-"

Calvin menggeleng. "Gue bakal segera balik. Semoga baby-nya belum lahir."

Ayla menggeleng, sedikit tak percaya dengan ucapan suaminya.

"Nggak bisa dibatalin?" tanya Ayla hati-hati.

Calvin mengelus rambut istrinya yang kini menunduk. "Gue kemarin udah bahas ini sama Aaron sama Dad, tapi keputusanya tetep sama. Gue harus ikut pertandingan itu."

"Gue udah lama banget pengin ngerasain race di Argentina. Gue udah daftar, bahkan jauh-jauh hari sebelum kita menikah."

Calvin mengembuskan napas pelan, tak tega melihat ke arah istrinya. Ayla menyentuh bahu suaminya itu membuatnya mendongak. Wanita itu tersenyum menampilkan senyum manisnya.

"Nggak apa-apa. Masih ada Mom, ada Bunda, ada Ayah juga, kan?"

"Tapi, gue sebagai suami ngerasa berengsek banget nggak bisa nemenin lo di bulan-bulan terakhir anak kita."

"Jauh sebelum aku nikah sama kamu, aku udah pikirin ini semua. Dan, ini risikonya, kan, kalau kita menikah dengan seorang rider? Nggak apa-apa, aku tau, kok," ucap Ayla bijak.

Calvin membawa Ayla ke dekapannya. "Nggak marah, kan?"

"Enggak."

Calvin melepas pelukannya, menatap Ayla yang kini tengah menatapnya. Beruntung sekali ia memiliki istri seperti Ayla. Ayla mengusap rambut Calvin, membuat pria itu tersenyum.

"Rambut kamu panjang banget," ucap Ayla menyugar pelan rambut Calvin.

"Lo mau gue potong rambut?"

"Emang mau?"

"Ya, nggak, lah!"

Ayla mendengus membuat Calvin mengekeh. Wanita itu mengambil karet gelang yang tadi sempat ia letakkan di nakas.

"Sini." Ayla mengkode Calvin supaya mendekat padanya.

Calvin menurut, mulai mengikis jarak di antara mereka. Ayla memegang ujung rambut Calvin, mengikatnya hingga membentuk apple hair.

"Ih, lucu banget," ucap Ayla gemas setelah melihat hasil ikatannya pada rambut Calvin.

Calvin menyentuh ikatan rambutnya. "Lo suka?"

Ayla mengangguk. "Lucu soalnya."

Calvin dibuat gemas dengan mata Ayla yang berbinar dan terus menatapnya. "Ay, lihat itu apa?" tunjuk Calvin ke arah pintu.

Ayla menoleh ke arah yang ditunjuk suaminya dan ....

Satu kecupan berhasil mendarat di pipi Ayla. Wanita itu terkejut, ingin protes membalikkan wajahnya. Namun, astaga ....

Bibir keduanya justru saling bertubrukan karena Calvin yang belum menjauhkan wajahnya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Calvin langsung memberikan kecupannya pada bibir Ayla yang sekarang seolah-olah menjadi candunya.


**

My Sweet Calvin [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang