Calvin tersentak ketika seseorang menepuk bahunya, pria dengan kaus putih yang sedang mengantarkan istrinya ke toilet itu menoleh.
"Ada yang perlu saya bicarakan mengenai kandungan Ibu Ayla. Apa Anda ada waktu?"
Calvin mengangguk pada dokter wanita yang tadi menangani Ayla. Calvin mengekori dokter tadi, meninggalkan Ayla yang masih di dalam kamar mandi.
Keduanya duduk saling berhadapan, dokter tadi mengembuskan napas membuat Calvin mengernyit heran.
"Saya langsung saja," ucap dokter tadi.
Calvin hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Saya harap, Anda lebih memperhatikan istri Anda, jangan sampai hal semacam ini kembali terjadi. Apalagi, kandungan istri Anda yang sudah hamil tua."
"Perhatikan pola makannya dan jangan sampai membuat Ibu Ayla terlalu banyak berpikir. Itu tidak baik untuk bayi dan ibunya."
"Jika Ibu Ayla terlalu banyak berpikir atau sedih, itu akan menyebabkan perkembangan pada bayi lebih lambat."
Calvin diam, mencerna semua perkataan dokter di depannya. Pria itu mengangguk, kemudian pamit pergi ketika dokter tadi sudah selesai.
***
"To the point," ucap Calvin menatap datar perempuan di depannya.
Gladis menyunggingkan senyum manis yang membuat Calvin muak. Harusnya, pria itu sekarang menemani istrinya setelah dari rumah sakit tadi. Namun, karena manusia ular di hadapannya ini, Calvin harus membuang waktunya.
Tadi, setelah berbicara dengan dokter mengenai keadaan Ayla. Calvin yang hendak menghampiri Ayla mengurungkan niat ketika ponsel di sakunya berdering. Nomor tidak dikenal, tapi Calvin tetap mengangkatnya siapa tahu itu penting.
Ternyata, itu adalah Gladis. Calvin yang hendak mematikan ponselnya, ia urungkan ketika Gladis di seberang sana akan membicarakan masalah Ayla dengannya.
Calvin mengepalkan tangannya, menyetujui keinginan wanita itu untuk bertemu. Calvin terlebih dahulu mengantar Ayla pulang dan langsung menemui wanita ular. Dan, di sinilah mereka sekarang, sebuah restoran dekat apartemen Calvin. Karena Calvin yang akan mengambil beberapa barang di apartemenya nanti, ia tak mau ribet bolak-balik.
"Ayla Khumaira," ucap Gladis penuh penekanan.
Tangan Gladis bergerak membuka beberapa berkas yang entah sejak kapan ada di pangkuan wanita itu.
"Anak dari Adam Alghazali dan Ayna Humaira."
Deg!
Jantung Calvin berasa berhenti ketika Gladis mengucapkan kalimat tadi. Bagaimana wanita di hadapannya ini bisa tahu?
"Bagaimana jika aku katakan bahwa Ayna tidak pernah mengharapkan Ayla? Karena wanita itu menginginkan seoorang putra dan bukannya seorang putri." Gladis menyunggingkan senyum kemenangan ketika melihat wajah pucat pria di hadapannya.
"Ayna yang tidak menginginkan kehadiran Ayla mencoba membunuh putri kandungnya sendiri setelah putrinya itu lahir. Menggendong putri kecilnya berlari menuju jalan raya hendak menjemput ajalnya. Namun, seorang wanita lebih dulu mengambil Ayla dari gendongan ibunya. Ayna yang sepertinya sudah kehilangan akal berlari mengejar wanita yang mengambil putrinya.
"Namun, nahas, sebuah truk besar menghantam wanita itu. Ayna mengembuskan napas terakhirnya di sana. Wanita yang mengambil Ayla tadi, bernama Citra Reynata yang sekarang disebut 'Bunda' oleh Ayla Khumaira. Adam Alghazali menikahi Citra Reynata berdasarkan rasa terima kasih dan tak mencintai Citra sama sekali. Selesai," ucap Gladis menutup berkas terakhirnya.
"Hm, kira-kira kalau Ayla tau yang sebenarnya gimana perasaannya, ya? Apalagi, keluarga yang selalu ia banggakan menyembunyikan rahasia sebesar itu darinya."
Calvin menatap tajam wanita di depannya. Ini tidak boleh dibiarkan, mengingat perkataan dokter tadi yang mengatakan agar Ayla tak boleh banyak berpikir dan bersedih.
"Mau apa lo?" tanya Calvin tajam.
"Ck ... ck ... jangan melihatku seperti itu, Calvin."
"Aku hanya ingin makan siang denganmu hari ini, itu saja." Gladis mengusap tangan Calvin yang ada di atas meja, tapi langsung disentak pria itu.
Calvin berdecak malas. Hanya karena ingin makan dengan dirinya, wanita di depannya ini rela mencari informasi sedetail itu tentang Ayla.
"Buruan, gue nggak punya banyak waktu."
Gladis menyunggingkan senyum, memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan.
Tanpa curiga Calvin segera melahap makanan yang sudah ia pesan. Memakannya cepat, agar bisa segera pulang menemani istrinya yang sakit. Tak memperhatikan senyum penuh kemenangan wanita di hadapannya.
Calvin selesai. Pria itu berdiri hendak pulang. Namun, kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Mencoba menghiraukan rasa pusing di kepalanya, Calvin terus berjalan ke arah mobilnya meskipun dengan sempoyongan. Sesampainya di dalam mobil, pria itu sudah kehilangan kesadarannya.
Calvin tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Yang ia tahu, Ayla tiba-tiba mendobrak pintu dan menampar pipinya.
***
Suara pecahan benda dan pukulan di tembok mengisi keheningan malam ini. Calvin memukul tembok di hadapannya berkali-kali, meluapkan semua emosinya. Tak peduli dengan tangannya yang mulai mengeluarkan darah segar.
Calvin menonjok cermin di depannya, membuat cermin tadi pecah dan beberapa pecahan menancap di tangannya.
"Argh!" teriaknya menjambak rambut frustrasi.
Calvin sudah seperti orang kesetanan. Pria itu terus menghancurkan benda-benda yang ada di hadapanya. Bahkan, kamar itu sudah sangat berantakan karena ulah Calvin.
Tadi Calvin mengejar Ayla yang pergi naik taksi, tapi pria itu kehilangan jejak istrinya. Calvin berkeliling mencari Ayla ke mana-mana, mulai dari rumah orang tuanya dan pondok pesantren, tapi Ayla tidak ada.
"Lo dimana, Ay." Calvin tergugu, tubuhnya merosot di pojokan. "Please, jangan pergi."
Calvin menjulurkan tangannya, mengambil tasbih pemberian Ayla yang tergeletak di bawah.
"Gue berengsek, kan, Ay?" ucapnya parau memandangi tasbih di tangannya. "Gue berengsek, Ay."
Pria itu memukul kepalanya menggunakan tangan.
"Bukan. Bukan lo yang nggak pantes buat gue, tapi gue yang nggak pantes buat lo."
Suara ponsel yang berbunyi membuat Calvin menunduk untuk mengetahui siapa yang meneleponnya.
Nama Aaron tertera jelas di sana.
Calvin menggenggam ponselnya erat. Membenturkan ponsel tadi ke tembok cukup keras, membuat ponsel tadi hancur. Calvin berdiri, mengacak rambutnya frustrasi. Menginjak ponsel tadi, tak peduli jika pecahan ponsel menancap pada kakinya.
"Persetan dengan pertandingan, gue cuma butuh Ayla," ucapnya emosi, lalu pergi untuk kembali mencari keberadaan istrinya.
Calvin tahu, Aaron menghubunginya pasti akan bertanya di mana dirinya karena malam ini waktunya untuk Calvin terbang ke Argentina.
**
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Calvin [TERBIT]
Teen FictionNamanya Calvin Aldeguer. Pria penuh kharisma yang mampu membuat kaum hawa ketika melihatnya langsung terpana. Pemegang kandidat pembalap termuda di dunia membuat pria itu cukup populer di banyak kalangan. Hidup Calvin yang biasanya hanya di penuhi...
![My Sweet Calvin [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/307080265-64-k351434.jpg)