Empat hari ini Calvin dibuat uring-uringan karena Ayla yang berada di rumah orang tuanya. Pria itu sudah seperti duda muda. Semua harus Calvin lakukan sendiri, mulai dari masak, mencuci, bahkan tidur pun pria itu sendiri.
Masak? Ya, Calvin sedang belajar, meskipun akhirnya dapur akan menjadi seperti kapal pecah dan masakan yang gosong. Jika tidak gosong, pasti keasinan. Begitu terus, tidak apa yang penting ada kemauan dari dirinya untuk belajar, kan?
Bisa saja Calvin pergi ke rumah mertuanya. Namun, ia tak mau merepotkan Ayla di sana. Pria dengan balutan kaus abu dan celana di atas lutut itu memainkan PS di ruang tamu. Di tangannya terselip nikotin yang baru saja ia bakar. Mumpung tak ada Ayla, Calvin bisa merokok sekarang.
"Asalamualaikum."
Calvin membulatkan mata ketika suara lembut Ayla berada di sebelahnya. Pria itu segera mematikan rokoknya. Ayla menghampiri Calvin yang duduk di lantai, mencium punggung tangan suaminya itu.
"Kok, lo-"
"Waalaikumussalam," potong Ayla.
Calvin tersenyum kikuk, menampilkan gigi rapinya. "Waalaikumussalam. Kok, lo udah pulang?"
"Kenapa? Nggak boleh?"
"Bukan gitu. Harusnya, kan, lo ngomong sama gue. Biar gue jemput."
Ayla menggeleng pelan, wanita itu berdiri, melipat tangannya di depan dada membuat Calvin meneguk salivanya susah payah. Akan kuberi tahu bahwa rumah dua lantai itu sudah seperti kapal pecah sekarang. Alasannya tentu saja Calvin yang tak membersihkan rumah itu selama empat hari terakhir.
Lihat saja di ruang tamu itu, putung rokok ada di mana-mana, kulit kacang berceceran, kaleng soda yang sudah tak ada isinya, bungkus camilan berserakan dan bantal sofa yang sudah tak berada di tempatnya. Calvin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mematikan PS, lalu menggiring Ayla agar duduk di sofa.
"Tenang, Ay, tenang. Biar gue beresin. Kalem oke, nggak usah marah."
Ayla mengerutkan keningnya heran. Siapa yang marah? batinnya.
Calvin mengambil tempat sampah, memunguti kaleng dan bungkus camilan tadi, lalu memasukkanya ke tempat sampah. Setelahnya, pria itu mengambil sapu untuk membersihkan kulit kacang dan putung rokok.
"Kamu ngerokok?"
Calvin menoleh, ia lupa jika Ayla tak tau jika dirinya merokok. "Kalau lo nggak ada, gue ngerokok," jujurnya.
"Kenapa?"
"Kalau ada lo kasian, nggak baik buat kesehatan lo asapnya."
Ayla tertegun. "Udah tau nggak baik buat kesehatan, ngapain diterusin?"
"Gabisa, Ay, udah kecanduan. Gabisa berhenti."
Ayla mengembuskan napas, membuka cadarnya pelan, "Jangan sering-sering, kalau bisa gausah ngerokok lagi."
Calvin hanya mengangguk singkat, pria itu kini memunguti bantal sofa yang tergeletak di lantai. Ayla bangkit, berniat mengambil minum di dapur. Baru saja memasuki dapur, Ayla dibuat terkejut melihat kondisi dapur sekarang.
"ASTAGFIRULLAH!" teriaknya.
Calvin yang mendengarnya dari ruang tamu menutup mata. Ia tahu apa yang terjadi disana. Calvin bergegas menghampiri Ayla.
Dengan wajah tanpa dosa, pria itu bertanya. "Kenapa, Ay?"
Ayla menoleh, memberi tatapan tajam pada suaminya. "Kenapa bisa gini?" tanya Ayla menunjuk kondisi dapur.
Calvin bergumam tak jelas, beralih menatap kondisi dapur.
Gila! Kok, bisa gitu, sih," batinnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Calvin [TERBIT]
Novela JuvenilNamanya Calvin Aldeguer. Pria penuh kharisma yang mampu membuat kaum hawa ketika melihatnya langsung terpana. Pemegang kandidat pembalap termuda di dunia membuat pria itu cukup populer di banyak kalangan. Hidup Calvin yang biasanya hanya di penuhi...
![My Sweet Calvin [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/307080265-64-k351434.jpg)