Bab 10

433 47 2
                                        

"Permisi nyonya."

"Astaga!" Hae-seo yang sedang memilih buah-buahan di super market memekik kaget. Matanya menatap seseorang yang lebih tinggi darinya dan ternyata pria ini!

"Kau tuan Leo?" gumam Hae-seo. Leo mengangguk dan tersenyum, ia mengambil satu kotak strawberry dan memasukkannya ke dalam keranjang.

"Kenapa kita selalu bertemu, apa kita memang ditakdirkan untuk bersama?" canda Leo.

Hae-seo terkekeh canggung, ia belum terlalu kenal dengan pria ini. Tapi Leo berbicara seolah-olah sudah mengenalnya lama, Hae-seo tidak risih ia bahkan suka dengan sikap humble pria ini.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Sangat bodoh! Jelas-jelas Hae-seo berdiri di depan rak buah dan sudah pasti ia membeli buah, tapi Leo dengan gobloknya bertanya seperti itu.

"Aku ingin mencari buah yang asam," jawab Hae-seo.

"Oh, kau mengidam?" tebak Leo.

"Hm, mungkin," kata Hae-seo. Ia lanjut memilih buah dan terkadang ia berbicara sendiri, tidak memperdulikan Leo di sampingnya yang juga ikut memilih buah.

"Kenapa kau pergi sendiri, di mana suamimu?" Tangan Hae-seo berhenti mengambil buah, pertanyaan Leo membuatnya berhasil terdiam. Mendengar nama Jay kini tidak sehat untuk jantungnya dan dirinya.

Hae-seo merasa dirinya semakin lama semakin aneh, ia juga tidak tahu apa penyebabnya. Yang pasti, semua ini ada setelah ia menikah dengan Jay.

"Dia di luar sedang sibuk, jadi aku memutuskan untuk pergi sendiri," tutur Hae-seo. Hae-seo berusaha bersikap biasa sjaa walaupun dalam hatinya terbesit rasa sakit yang tiba-tiba saja muncul.

"Sesibuk apapun dia, dia tetap suamimu. Di saat kau sedang dalam kondisi seperti ini seharusnya dia menemanimu ke manapun, bukankah kau sedang mengandung anaknya bukan anak orang lain?"

"Cih, suami macam apa dia!" cibir Leo. Hae-sep menggigit bibir dalamnya kuat, tangannya juga ikut terkepal kuat. Leo benar-benar membangkitkan rasa sakit hatinya yang sempat terlupakan har ini.

"Kau berbicara seperti ibu-ibu penggosip, apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menggali informasi tentang keluargaku?" cibir Hae-seo. Netranya menatap Leo tajam tapi Leo membalasnya dengan kelehan, lihatlah betapa beraninya perempuan ini sekarang.

Leo meletakkan buah jeruk yang dipegangnya tadi ke dalam keranjang. Ia menghela nafas dan melipatkan tangannya di dada lalu menatap Hae-seo yang masih terlihat sangat kesal.

"Kau tau nyonya, semua orang ingin tahu kehidupan suamimu itu. Termasuk aku, kuakui ... aku bukan orang baik yang bisa berteman dengan suamimu, aku musuhnya di dalam dunia bisnis begitu juga di luar. Aku hanya ingin mencari celah untuk menghancurkan suamimu itu," jelas Leo dengan nada dingin.

"Tadinya aku tidak ingin melibatkanmu dalam pertempuran dingin kami, tapi melihat reaksimu seperti ini aku jadi tertarik untuk bermain-main dengan kalian berdua."

"Perlu kau ingat Hae-seo, suamimu bukan orang yang gampang berubah atau bahkan tidak akan pernah berubah. Kekerasan yang dilakukannya padamu bisa saja sebagai balas dendam terhadap kekasihnya yang sudah meninggalkannya, karena wajahmu benar-benar mirip dengan kekasihnya yang sudah menikah di Amerika."

"Itu artinya, selama sakit hatinya terhadap mantan kekasihnya itu belum hilang maka selama itu juga kau akan disiksanya habis-habisan, pergilah sejauh mungkin sebelum ia menggila. Jay bukan orang yang baik dan tidak pantas bersanding dengan orang baik sepertimu!"

Usai mengatakan itu Leo pergi meninggalkan Hae-seo, sebenarnya tentang ia ingin bermain-main juga dengan Hae-seo itu hanyalah sebuah kebohongan, tapi tidak dengan ucapan yang lainnya.

JUST A HOUSE! (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang