"Dia sudah sadar!" seru Soyeol. Dokter yang berada di sana mengecek keadaan Hae-seo. Wanita itu masih membuak matanya perlahan, rumah sakit dan orang yang sangat ramai.
Oh tidak, keadaan itu kembali ia rasakan. Tapi saat ini Hae-seo tidak memegang perutnya atau menanyakan keberadaan bayinya, ia hanya diam dan menatap mereka semua.
"Permisi nyonya?" panggil dokter itu. Hae-seo tidak menjawab, arah matanya tak beraturan seolah ada yang bilang.
"Nyonya apa yang kau rasakan? Apa kepalamu sakit?" Lagi dan lagi Hae-seo tidak menjawab. Seisi ruangan menjadi khawatir akan hal itu, Mira ingin kembali menangis. Takut jika cedera kepala anaknya semakin parah.
"Apa kau mengingat mereka?" Dokter tersebut sudah mengetahui keadaan Hae-seo sebelumnya. Itulah kenapa ia menanyakan hal itu terlebih dahulu.
Hae-seo menatap mereka semua dan mengangguk. "Iya, aku mengenal mereka. Mereka temanku dan keluargaku," jawab Hae-seo.
Mira mendengar itu senang bukan main. Ia berlari ke arah Hae-seo dan memeluk wanita itu kuat. Tangisan tak lagi bisa dibendung, bahkan Soyeol yang dari tadi memeganginya hampir oleng. Tenaga Mira sungguh luar biasa.
"Hae-seo sayang, terima kasih Tuhan. Kau sudah menyenbuhkan anakku, sekali lagi terima kasih." Hae-seo menerima pelukan Mira dengan senang hati, kehangatan yang sudah sangat ia rindukan kini telah terbayar.
Tepat saat itu mata Hae-seo menatap Daniel yang tak jauh dari mereka. Hae-seo tersenyum lebar, Daniel adik kesayangannya ada di sini, Daniel yang melihat senyum lebar itupun bergerak maju dan memeluk Hae-seo.
"Kakak, aku merindukanmu! Aku sangat merindukanmu!" seru Daniel. Hae-seo tertawa pelan dan mengusap kepala pria itu, tingkah Daniel yang seperti anak kecil masih lagi terikat ditubuhnya.
"Kau merindukanku? Apa kau yakin?" usil Hae-seo. Daniel merengut dan kembali memeluk Hae-seo, sungguh Hae-seo benar-benar merasa bahagia saat ini. Akhirnya masa kelam itu telah terlewati, pintu gelap yang tak ada penerangan kini sudah menemukan cahaya.
Hae-seo melepaskan pelukannya, matanya liar mencari seseorang sampai akhirnya ia menemukan Soyeol dan Sunghoon berdiri di depannya. Hae-seo agak terhenyak dan bahkan terlonjak kaget.
Soyeol ingin sekali memeluk menantu kesayangannya, tapi ia sadar akan kesalahan anaknya. Soyeol rasanya malu untuk sekedar melempar senyum ke wanita itu.
Soyeol hanya bisa menunduk dan mengambil tasnya pelan, sekarang bukan lagi dia yang merawat Hae-seo. Hae-seo sudah kembali seperti dulu dan pasti Mira lah yang akan merawatnya.
Tugas Soyeol sudah selesai, sekarang saatnya ia pergi. Di sini bukan keluarganya, ini keluarga Hae-seo yang dulu merasa terpuruk sekarang kembali bahagia. Mira melihat pergerakan Soyeol hanya diam, ia ingin melihat reaksi Haeseo yang sedari tadi menatapnya lekat.
Soyeol menghapus air matanya dan bergerak perlahan dari sana, Sunghoon yang melihat itu juga ikut bergerak. Mungkin memang tidak ada gunanyanmereka di sini, keluarga Haeseo sedang berbahagia dan kehadiran mereka nanti takutnya membawa petaka besar.
"Ibu mertua kau mau ke mana?" tanya Haeseo. Langkah Soyeol sontak terhenti, ibu mertua? Hey, Soyeol tidak salah dengar kan? Haeseo masih menyebutnya ibu mertua.
"Ibu mertua kenapa kau pergi? Kau tidak senang melihatku? Aku minta maaf karena tidak bisa memberikanmu cucu, tapi aku tau kau orang baik. Aku mohon jangan benci diriku, saat ini aku masih menjadi menantumu. Karena aku belum berpisah dengan anakmu, lalu kenapa kau ingin meninggalkanku?"
Soyeol menahan nafas dalam, untuk apa Haeseo meminta maaf. Itu bukan salahnya, itu sudah menjadi takdir untuk mereka, mungkin mereka belum diberi kepercayaan dalam mengurus bayi dan Haeseo tidak perlu minta maaf untuk hal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST A HOUSE! (END)
Fiksyen PeminatSemuanya hancur, semuanya telah direnggut. Harga diri yang dijaga puluhan tahun lamanya sudah dirobek oleh pria yang tidak dikena. Masuk ke kehidupan Hae-seo sebagai suami, tapi sama sekali tidak menjalankn tugasnya dan kewajibannya sebagai suami. H...
