"Baj*ngan kau! Apa yang kau lakukan dengan kakakku sia*an!"
Sunghoon menahan tangan Daniel agar tidak mengenai walah sahabatnya, kabar Hae-seo yang masuk ke rumah sakit membuat semua orang panik.
Semuanya merasakan hal yang sama, seolah deja vu dengan kejadian dulu. Hal itu membuat mereka takut bukan main, sepertinya trauma itu belum hilang.
"Daniel tenang! Kendalikan emosimu atau nanti kita diusir dari sini," lerai Sunghoon. Tapi bukannya mendengarkan, Daniel malah semakin panas dan emosi mendengar itu.
"Diam kau tuan Sunghoon! Kau tidak berhak ikut campur dengan urusan keluarga kami, kau mengatakan itu karena membela sahabatmu kan? Tapi kau tidak memikirkan kakakku yang ada di dalam sana!" seru Daniel.
Sunghoon menggelengkan kepalanya, walau sedang emosi karena perkataan Daniel tapi Sunghoon memilih untuk meredam emosinya. Tidak, ia tidak boleh ikut terpancing dengan ucapan bocah ini.
"Kau salah sangka, aku mengatakan itu untuk kebaikan kita semua. Tenangkan diri dan berdoa agar Hae-seo tidak apa-apa," ucap Sunghoon tenang.
Daniel mendecih pelan dan mundur beberapa langkah. "Jika saja aku mendapatkan kabar buruk mengenai kakakku, maka aku tidak berpikir dua kali untuk membunuhmu Park Jongseong! Kau hanya sebatas tumbuhan tak berdaya di mataku! Ingat itu!"
Bak orang dewasa yang mengancam tahanannya, seperti itulah Daniel saat ini. Daniel meninggalkan semua orang yang ada di sana termasuk ibunya sendiri.
Jika dulu Jay sempat melawan dan memberikan pembelaan, tapi sekarang Jay hanya bisa diam. Lelah juga kalau memberikan pembelaan, tidak akan ada yang peduli dengan rentetan kalimat yang ia keluarkan.
Soyeol yang duduk di samping Mira mulai memeluk Mira dengan erat, ketakutan dan kekhawatiran mereka sama. Seorang ibu pasti akan merasakan naluri yang sama dari anak mereka.
Begitu Soyeol memeluknya saat itu juga Mira menangis, tangisannya tidak bisa berhenti dan itu membuat Soyeol juga ikut menangis. Tapi Soyeol menangis tanpa suara, ia sengaja agar Mira tidak merasa terbebani nanti.
"Maafkan putraku Mira. Maafkan dia, aku tahu dia salah aku mohon maafkan dirinya," ucap Soyeol. Suaranya bergetar, bibirnya ia gigit kuat agar isakan itu tidak terdengar. Bagaimana tidak, tangisan Mira membuat tameng Soyeol bergerak runtuh.
"Jangan terus menerus meminta maaf nyonya, kau tidak bersalah," jawab Mira. Jawaban itu membuat Soyeol merasa semakin sakit, dulu ia selalu berdoa agar anaknya tetap baik di mata semua orang. Tapi kenapa doanya tidak terkabul?
'Apapun kesalahan anakku aku mohon maafkan kesalahannya Tuhan, kau boleh menghukumnya seberat mungkin tapi aku mohon bukakan pintu hati orang yang telah disakitinya agar mereka mau memaafkan kesalahannya.'
Dalam hati Soyeol berdoa seperti itu, air matanya tetap turun tapi ia selalu menghapusnya. Entah sudah berapa banyak air mata yang ke luar karena ulah anaknya, terkadang Soyeol tidak tahan tapi ini semua sudah menjadi takdir.
***
"Jake pelan-pelan! Kita ke rumah sakit untuk menjenguk pasien buak berniat menjadi pasien!" tegur Leo.
Saat ini mereka sedang di dalam mobil menuju tempat Hae-seo dirawat, Leo berdoa sebanyak mungkin agar ia selamat sampai tujuan. Bagaimana tidak, sepupunya seperti orang kesetanan membawa mobil.
Semua pengendara di klakson dan tak jarang pengendara lain memaki mereka. Bersyukur karena kaca jendela mereka gelap jadi tidak terlihat siapa yang di dalam.
"Astaga ya Tuhan, aku mohon ampuni semua dosaku dan biarkan aku menempati surgamu. Jika memang hari ini adalah hari terakhirku, aku mohon biarkan aku meninggal dengan cara yang baik dan tidak menyiksa," ucap Leo dan kembali memperhatikan jalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST A HOUSE! (END)
FanfictionSemuanya hancur, semuanya telah direnggut. Harga diri yang dijaga puluhan tahun lamanya sudah dirobek oleh pria yang tidak dikena. Masuk ke kehidupan Hae-seo sebagai suami, tapi sama sekali tidak menjalankn tugasnya dan kewajibannya sebagai suami. H...
