Soyeol ingin rasanya melemparkan mereka berdua dari rumahnya. Mendengar kabar tidak enak itu membuat Soyeol panik dan marah bukan main. Jake dan Jay hanya tertunduk, sedangkan Sunghoon sibuk makan di belakang.
Biar saja mereka kena marah, apa lagi Jay anak itu memang seharusnya dimarahi setiap saat. Biar dia tahu akan kesalahannya.
"Kenapa dia bisa hilang!" seru Soyeol. Tidak ada yang berani menjawab, mulut mereka seolah beku dan tidak sanggup untuk berbicara.
"Keributan." Itu suara Sunghoon yang datang dari dapur dan duduk di sofa yang diduduki oleh Soyeon.
"Tadi di sana ada keributan dan Jay berkelahi, aku tidak tahu kenapa dia bisa hilang. Tapi aku merasa bahwa keributan itu adalah yang membuat Hae-seo pergi dari sana. Dia pasti merasa ketakutan dan memilih pergi," jelas Sunghoon.
Soyeol menaikkan alisnya sebelah, sepertinya ada satu kejadian yang ia lewatkan. Apa tadi perkelahian? Jay berkelahi, tapi kenapa?
"Kau berkelahi?" tanya Soyeol dengan nada dingin ke arah Jay.
"Iya."
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Jay pun menjelaskan semuanya begitu juga dengan Jake, biarpun kadang Jay merasa bahwa Jake itu tidak berguna dan terlalu ikut campur dalam urusan mereka.
Penjelasan mereka sudah selesai, Soyeol menghela nafas lelah, ia bersandar di kepala sofa dan membiarkan mereka berdua terdiam seperti anak kecil. Ya, tapi tidak jarang keduanya saling melempar tatapan tajam dan masing-masing dari tangan mereka terkepal erat.
Ketara sekali sedang emosi, tapi ditahan agar Soyeol tidak bertambah terkejut. Tak ada yang tahu bahwa Soyeol sebenarnya sedang menahan tangis.
Bagaimana anak itu di luar sana? Kalau ada hal yang tidak baik terjadi, mereka pasti tidak akan tahu apa-apa. Komunikasi mereka begitu sulit dan kenapa Hae-seo harus hilang.
Soyeol dengan cepat mengambil ponselnya dan menghubungi Daejoon, biarkan saja kalau setelah ini Jay dimarahi habis-habisan oleh Daejoon Soyeol tidak akan peduli lagi.
[Halo, Daejoon tolong!]
[Apa yang terjadi?] Terdengar nada panik dari sana saat Soyeol menelfon dengan mulut yang menahan tangis.
[Hae-seo, putri kita dia hilang. Daejoon tolong cari dia, aku tidak tenang.] Nada itu terdengar begitu pilu, terdengar sangat pasrah. Bagaimana tidak, kekhawatiran yang dialami Soyeol benar-benar kuat.
[Apa yang terjadi? Mana Jay, baiklah aku pulang sekarang. Kau tenanglah, aku akan mencari Hae-seo. Jangan khawatir dan kumohon jangan menangis.]
Telfon itu terputus, Soyeol kembali memejamkan matanya dan membiarkan Jake dan Jay yang bergetar ketakutan. Astaga, ingin rasanya Jay memutar ulang waktu agar Hae-seo tidak hilang lagi.
Sunghoon menahan tawa melihat ekspresi mereka berdua, akhirnya Sunghoon bisa melihat wajah Jay yang ketakutan setengah mati. Memang Daejoon adalah pria yang paling berbahaya untuk Jay.
Sunghoon menatap jam dinding dan mulai bangkit dari duduknya. "Bibi aku pergi dulu ya, aku masih ada urusan yang harus diselesaikan," pamit Sunghoon. Soyeol hanya mengangguk tanpa melihat Sunghoon sedikitpun, tak apa Sunghoon paham bagaimana kondisi hati Soyeol saat ini.
Ia pergi dan sesekali melirik Jay seraya terkekeh pelan, untuk Jake sebenarnya Sunghoon tifka terlalu peduli dengan anak itu.
***
"Waah ini wangi sekali." Mira mengangguk semangat dan mengelus puncak kepala Hae-seo. Tak dapat dipungkiri bahwa Mira begitu terkejut dan nyaris menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST A HOUSE! (END)
Hayran KurguSemuanya hancur, semuanya telah direnggut. Harga diri yang dijaga puluhan tahun lamanya sudah dirobek oleh pria yang tidak dikena. Masuk ke kehidupan Hae-seo sebagai suami, tapi sama sekali tidak menjalankn tugasnya dan kewajibannya sebagai suami. H...
