Bab 20

234 26 0
                                        

"Makanlah ini." Sunghoon memberikan satu mangkok ramyeon dan duduk di depan super market. Jiwon mendengkus kesal melihat makanan itu, masih ingat dengan Jiwon? Seorang anak dari panti asuhan yang marah karena ulah Jay.

"Kupikir semua orang kaya itu akan makan makanan mahal ternyata tidak juga," ujarnya dengan muka yang sangat mengesalkan. Sunghoon mendelik, ia paham apa maksud anak itu terlihat jelas dari wajahnya.

"Aku hanya malas ingin makan di restoran mewah, aku lagi ingin makan di tempat seperti ini," ucapnya dan langsung menyeruput mie yang ada di depannya. Meladeni ucapan Jiwon juga butuh tenaga, anak itu benar-benar pandai dalam berbicara.

"Ohh begitu rupanya, apa kau pernah makan jajanan pinggir jalan?" Selain cerewet, ternyata Jiwon juga anak yang selalu penasaran dengan hal apapun.

"Setiap hari," jawab Sunghoon singkat.

"Jadi kapan kau akan makan di restoran mewah seperti di depan sana," ucapnya seraya menunjuk restoran bintang lima yang ada di depan super market itu. Sunghoon mengedikkan bahunya dan memakan kembali mie panas yang ada di depannya.

Sunghoon tiba-tiba teringat dengan asal ia bertemu dengan Jiwon di super market ini. Selesai menyeruput mie sampai habis, akhirnya Sunghoon mencoba bertanya meski ia tidak tahu bagaimana tanggapan anak ini nanti.

"Kenapa kau bisa ada di sana? Kau tidak pulang ke rumahmu?" tanya Sunghoon pelan.

"Apa tuan berpikir bahwa kami mempunyai rumah? Benar begitu?" Tenggorokan Sunghoon agak tercekat mendengar itu, dari kalimat yang Jiwon utarakan sepertinya mereka tidak baik-baik saja di luar sana.

"Dengar Tuan, rumah kami dihancurkan habis tanpa tersisa sedikitpun. Kami hanya bisa pergi dengan barang seadanya dan memilih untuk mencari rumah tua yang tidak terpakai," kata Jiwon. Nada ucapannya terdengar menyimpan dendam yang begitu banyak, apalagi kepalan tangan anak itu. Semuanya sudah terlihat jelas.

Sunghoon memandang Jiwon dengan tatapan prihatin, tapi jujur saja Jiwon membenci tatapan itu. "Tidak usah menatapku seperti itu, aku tidak butuh tatapan kasihan dari orang berdasi seperti kalian. Orang berdasi yang hanya mementingkan hidupnya sendiri dan tidak memikirkan orang lain, " Caci Jiwon.

Sunghoon tidak menjawab, ia bahkan tidak menyeruput mie nya lagi dan memperhatikan Jiwon. Begitu pintarnya anak ini berbicara, kalau ia bersekolah pasti bisa lebih baik lagi kan? Hanya itulah sekarang yang ada dipikiran Sunghoon.

"Karena temanmu itu kami jadi begini, kalau saja dia tidak membeli tanah itu. Mungkin kami tidak akan kelaparan dan harus memulung untuk makan, tapi aku tidak heran. Karena orang kaya memang kebanyakan seperti itu."

Sunghoon mendelik, dia orang kaya juga tapi tidak seperti itu. Ada-ada saja anak ini, hanya karena satu orang yang membuat masalah semua kdang dianggapnya sama.

"Tapi aku tidak seperti itu," celetuk Sunghoon.

"Aku tahu, tapi beberapa orang seperti kalian memang banyak seperti itukan, lebih suka meremehkan orang lain dibanding menolong. Padahal kita sama-sama manusia," kata Jiwon.

Sunghoon terdiam seribu bahasa, anak ini berbicara seperti orang dewasa saja. Padahal dia masih kecil, apa karena kehidupannya membuat ia menjadi seperti ini. Menjadi anak yang harus bisa melawan orang lain agar tetap hidup di dunia ini?

Memang dunia ini bukan hanya berisi orang baik, ada juga orang jahat dan Sunghoon yakin, sepertinya Jiwon lebih sering bertemu orang jahat dibanding orang baik.

"Aku sudah kenyang dan aku akan pulang," ucap Jiwon. Ia turun dari bangku yang tersedia di sana dan ingin melangkah pergi, tapi Sunghoon tersadar akan lamunannya dan menahan tangan anak itu.

JUST A HOUSE! (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang