Bab 19

222 25 0
                                        

Jake dengan senyuman yang merekah mengetuk pintu kamar Hae-seo, hari ini seperti biasa ia akan memberikan makanan ke dalam kamar wanita itu. Tapi biarpun begitu, tetap ada sesuatu yang membuat Jake sedih. Wanita itu semakin takut untuk ke luar dari kamarnya. Ia hanya akan di dalam kamar berkurung satu harian.

"Hae-seo buka pintunya. Aku membawa pintu kesukaanmu," kata Jake. Pintu tak terbuka tapi Jake sabar menunggu. Memang selalu seperti ini, Hae-seo akan sangat lama membuka pintu kamarnya.

"Hae-seo," panggil Jake. Pintu mulai terbuka tapi pelan, Jake memberikan makanan itu ke tangan yang ke luar dari balik pintu. Wajahnya tidak terlihat sedikitpun, tapi tidak apa.

"Katakan apa?"

"Terima kasih," jawab Hae-seo pelan.

"Bagus, oh ya nanti sore kau mau kuajak ke luar? Aku akan pergi membeli makanan," tutur Jake. Jake menunggu Hae-seo yang tak kunjung bersuara. Tangannya mengetuk pintu dan terlihatlah Hae-seo memperlihatkan setengah wajahnya.

"Aku mau, tapi nanti tidak ada yang menjaga anakku," ujarnya. Jake tersenyum getir, di kondisi seperti saja sudah terlihat bahwa Hae-seo itu ibu yang baik apa lagi kalau ia sehat. Mungkin perempuan ini akan sangat menyayangi anaknya lebih dari apapun. 

"Kau bisa membawa anakmu, kita akan menjaganya bersama-sama nanti," kata Jake. Hae-seo menatapnya tak yakin, jarinya mengetuk-ngetuk pintu kamar dengan pelan.

"Kau serius dengan ucapanmu? Aku ... tidak ingin nanti anakku kenapa-napa di luar sana," tutur Hae-seo seraya terisak. Jake langsung panik dan berusaha mendiamkan wanita itu, situasi ini sungguh tidak baik.

"Anakmu pasti aman, kita akan menjaganya berdua nanti," ucap Jake. Hae-seo tak menghentikan tangisnya namun ia menutup pintu kamar itu keras membuat Jake terlonjat kaget.

"Astaga! Pelan-pelan Hae-seo, kau bisa merusak pintu mahal ini!" teriak Jake dari luar. Ia menggelengkan kepalanya, tingkah Hae-seo itu terkadang lucu dan terkadang menyeramkan. Jake sekarang tidak ingin melakukan apapun selain menyembuhkan Hae-Seo, tekadnya sangat kuat untuk itu.

"Jake." Soyeol memegang bahu Jake sampai Jake terkejut. Soyeol mengernyit heran, dia bahkan memanggil anak ini begitu lembut. Tapi kenapa?

"Maaf nyonya, aku tadi melamun," lirih Jake.

"Iya aku tau itu, tapi hey panggilan apa itu. Kau masih tetap memanggilku nyonya? Panggil aku ibu seperti Jay dan Hae-seo memanggilku, aku tidak suka panggilan itu Jake. Itu benar-benar terdengar asing di telingaku!"

Jake hanya terkekeh canggung, menghadapi wanita ini memang agak menguras tenaga. Tapi tidak apa, Jake menyukai aura keibuan Soyeol yang begitu kental. Kadang dia heran, ayah Jay baik begitu juga dengan ibunya tapi kenapa Jay bisa sejahat itu?

"Kau hanya selalu tertawa pelan jika aku berbicara seperti itu, tapi ... kenapa kau berdiri di depan sini? Apa terjadi sesuatu dengan menantuku? Kenapa dia?"

Nada bicara Soyeol terdengar panik membuat Jake juga ikut panik, Jake menggelengkan kepalanya cepat dan menghadang tangan Soyeol yang ingin membuka pintu.

"Tidak, Hae-seo aman di dalam. Aku baru saja mengantarkan makanan kepadanya," kata Jake membuat Soyeol bernafas lega. Ia pikir terjadi sesuatu yang mengerikan di dalam sana, mengingat Hae-seo yang dalam keadaan tidak normal membuat siapapun pasti akan merasa waspada terhadapnya.

"Tapi aku ingin membawa Hae-seo ke luar hari ini, tidak lama hanya sebentar. Aku ingin membawanya ke luar dari ruangan itu secara perlahan," usul Jake. Soyeol cukup terkejut mendengar itu, ia hanya sedikit tidak menyangka bahwa putrinya akan dibawa ke luar.

JUST A HOUSE! (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang