43. END

650 15 3
                                        

20 Mei 2022.

Hari ini adalah hari terakhir bagi gadis yang akan menginjak usia 19 tahun itu untuk merasakan cinta dari Vanderer dan malam lalu adalah kilmaks dari kisahnya yang rumpang menjadikan buku sejarah yang ia tulis begitu abstrak dan tak layak untuk dicerna.

Caramel terduduk diam menatap dirinya sendiri dalam pantulan kaca yang menunjukkan utuh dirinya dari kepala hingga kaki. Caramel terlihat anggun pagi itu. Kebaya berwarna merah muda melilit tubuhnya yang ramping. Matanya nanar menelisik wajahnya yang terlihat lelah, ada getaran aneh yang mengalir dalam tubuh Cara——memaksa gadis itu untuk memberontak.

"Car, lo gak pa-pa? Atau lo mau pulang aja? Kalo gak nyaman bilang sama gue, kita pulang sekarang. Pikirin diri lo, Car."

"Gue gak pa-pa, Bel. Beberapa minggu ini gue sedih-sedihan mulu dan sekarang kayak udah di puncaknya gitu, gue kayak mati rasa. Bingung gue mau gimana juga."

Bella terdiam, matanya masih setia menatap Cara dari pantulan kaca di depan mereka. Keduanya tengah berada di toilet hotel yang Vicenzio sewa untuk acara pernikahan cucu semata wayangnya. Acara ini cukup mewah, luar biasa megah dan meriah. Cara sempat berpikir, jika dia yang berdiri di atas sana dengan Vanderer, apakah acara ini akan tetap semewah itu? Dan detik berikutnya Cara tertawa remeh karena dapat menemukan jawabanya dengan cepat——Vanderer tidak akan pernah menikah dengannya, jadi tidak usah di pikirkan.

"Lo udah okay? Ayo keluar, kasian yang lain udah nugguin kita dari tadi."

"Okay," Cara menghirup udara sekali lagi dengan lantang, menyetok oksigen dalam paru-parunya, untuk berjaga-jaga jika ia lupa bernapas ketika kembali memasuki aula pernikahan.

Cara benar-benar tak siap, setegar apa pun ia meyakinkan dirinya bahwa ini adalah jalan terbaik untuk dirinya dan Vanderer, sisi egois Cara tetap memberontak—mengajak anak itu untuk bersekutu dengan pikiran gilanya untuk mengacaukan acara pernikahan kekasihnya.

Cara berjalan lesu di belakang Bella, membiarkan gadis itu menuntunnya kemana tempat yang harus mereka kunjungi.

"Ve?" Bella tersentak saat melihat sosok Vanderer berdiri tepat di depan pintu toilet wanita. "Ngapain lo?" tanya gadis itu sekali lagi.

Ve tak perduli dengan eksistensi Bella, matanya sibuk menatap Cara yang berdiri tepat di belakang sahabatnya, keduanya hanya diam saling beradu tatap. Dan saat suara Ve yang cukup berat dan serak mengudara, Caramel kehilangan akal sehatnya, "Bisa ikut aku sebentar?"

Caramel bimbang, acara akan segera dimulai, namun sang pengaten malah mengajaknya untuk berbicara. Cara tidak ingin membuat masalah di sini, walau pun hatinya sudah menjerit untuk mengajak Vanderer kabur dari hotel bintang lima itu.

"Jangan lama-lama Ve, inget lo mau nikah." ujar Bella seolah menyindir keduanya. Bella berlalu sambil mentap Cara, "gue duluan ke dalam. Nanti nyusul aja," sambungnya lagi kepada Cara yang langsung dijawab anggukan kepala oleh gadis itu.

Vanderer terlihat tampan hari ini. Cara sempat terpesona sejenak sebelum akal sehatnya ia paksa timbul kembali ke atas permukaan. Vanderer terlihat jauh lebih rapih, kemaja putih dengan jas hijam yang membalut tubuhnya menambah kesan tampan untuk pemuda itu, rambut Vanderer ditata rapi menunjukkan jidatnya secara keseluruhan, wajahnya sedikit dipoles riasan agar wajah pemuda itu tidak terlihat pucat. Dan secara keseluran Vanderer sempurna hari ini.

Pemuda itu membawa Caramel ke dalam kamar hotelnya. Tidak ada siapa pun di dalam sana—sunyi, hanya sedikit berantakan—mungkin Vanderer telah meminta semua orang untuk keluar dari kamarnya dan Cara tidak ingin ambil pusing. Dia hanya ingin cepat-cepat keluar dari sini dan—entahlah, Cara tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Vanderer [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang