Sesaat setelah suga memeluk lama fifi. Jimin segera berlari keluar menuju kamar jungkook. Jimin merasa membawa segunung harta karun setelah tau suga dan fifi memiliki hubungan. Jimin terus berlari sembari tersenyum senang.
"Jungkookaa.." teriaknya.
Dengan tanpa mengetuk pintu jimin menelusup masuk ke kamar jungkook yang hanya memakai celana pendek.
"Kau tidak memakai baju? Pakai bajumu, cuacanya dingin." Tutur jimin.
Jungkook yang patuh segera memakai baju piyamanya dengan cepat. "Aku baru akan tidur."
"Kau tau? Suga hyung sedang berkencan sekarang."
"Aku tau, jin hyung mengatakannya padaku beberapa hari yang lalu"
"Apa ini? Apa semua member tau kecuali aku?" Protes jimin. Jungkook hanya tertawa seolah membenarkan perkataan jimin.
"Sungguh??? Waaah min suga!" Kesal jimin.
Jimin memutuskan untuk kembali ke kamarnya tanpa menutup pintu kamar jungkook. "JIMINSHIIIII" teriak jungkook kesal.
Jimin berlari melewati lorong sepi menuju kamarnya. "Yuri-ya.. kau datang?"
"Oppa aku mengetuknya berkali-kali.. dari mana saja kau!"
"Maafkan aku" jimin segera memeluk yuri gemas. "Ayo kita masuk? Kapan kau sampai?"
"Seokjin oppa yang mengantarku kemari, kau tidak bisa di hubungi" yuri melepas mantel besarnya kemudian merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang milik jimin. "Maafkan aku.. aku tidak bermain handphone dari tadi" jelas jimin. Kini yuri memeluk jimin yang sudah terbaring di sampingnya.
Jimin terdiam lama melihat yuri yang memejamkan mata sembari memeluknya erat. "Kau sangat cantik" jimin mencium pipi yuri lama. "aku datang bulan! Jangan menggodaku" yuri mendongkrak kepala melihat jimin dengan wajah galaknya. "Boleh aku mencium mu?"
"Tidak.."
"Sebentar saja.." jimin meraup pipi yuri dengan kedua tangan, kemudian beranjak untuk mengurung yuri yang saat ini sudah di bawahnya. Tak ada yang bisa yuri lakukan. Harus yuri akui bahwa dia rindu laki-laki yang sedang menciumnya kasar. "Sshhh.. bolehkah aku bermain sebentar?". Jimin mengangkat punggung yuri agar lebih leluasa untuk membuka bajunya. Seolah merasa di ijinkan jimin tersenyum miring membuat tatapan penuh sensual pada yuri.
"Tidak." Tangan yuri dengan cepat menghentikan jemari jimin yang sudah menelusup masuk kedalam bajunya. Namun jimin masih tak berhenti meremas dada yuri yang sungguh, membuat jimin semakin menggila. "Ca- chagiya.. aahhh.. hentikan kumohon." Tidak berhenti disitu jimin mencium leher yuri dan sesekali menggigitnya. Jimin terus melumat leher yuri, kemudian mulai turun kebawah. Dada yuri penuh dengan tanda kepemilikan jimin sekarang. "hmmmh.. kumohon" yuri memukul pelan dada jimin seolah ingin berontak, mamun sialnya seluruh tubuh yuri dibuat melemas hingga tak punya tenaga untuk membuka mata sekalipun. Jimin benar-benar bisa membuat yuri melemah. "Chagiya.." bisik jimin di telingan yuri. Wajah yuri memerah malu karena itu adalah titik lemah yuri. Yuri yang terengah-engah hanya bisa memejamkan matanya dan sesekali tersenyum.
"Ayo bermain sebentar" jimin mencium telinga yuri, menjilatnya, menciumnya, dan menggigitnya.
"Aku sangat merindukanmu" lanjut jimin. "Tahanlah sebentar" yuri mengusap lembut kepala jimin, membuat jimin segera beranjak dari atas yuri kemudian menciumnya singkat. "Baiklah"
Yuri sedikit tersenyum melihat jimin yang kini sudah berlari untuk mengambil selimut tambahan.
"Tidurlah, besok kau harus bangun lebih awal dan sarapan bersamaku" jimin mengusap lembut kepala yuri.
Sedang yuri sudah memejamkan matanya. "Kau lelah? Maafkan aku karena tidak menjemputmu."
"Namjoon oppa bilang aku harus memaklumi mu" ucap yuri masih dengan menutup mata. Jimin hanya tersenyum, dia sangat mencintai perempuan yang selalu bisa membuatnya tenang saat ini. Jimin tak akan berfikir apapun saat bersama yuri. Dia sangat bahagia, sangat sangat bahagia.
"Yuri aku sangat mencintaimu, maafkan aku dan terimakasih. Aku mencintaimu" kini jimin memeluk yuri. Menenggelamkan kepala yuri di dadanya hingga yuri yang belum sepenuhnya tidur itu mendengar suara detak jantung jimin. "Aku lebih mencintaimu, tolong jangan menghawatirkan apapun saat bersamaku" jimin mengangguk.
Yuri adalah perempuan polos.
Dia selalu jujur mengenai apapun padanya. Hingga suatu hari jimin menemukan yuri dalam keadaan mabuk di pinggir jalan sepi di jam 03.54 pagi.
"Chagiya.. kau tidak apa-apa?"
"Siapa kau?"
"Aku? Aku kekasihmu"
"Park jimin? Jimin BTS ?" jimin mengangguk dan tersenyum kemudian memeluk tubuh mungil yuri.
"Ayo kita pulang" ajak jimin.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau tak pernah minum sebelumnya. Kenapa tadi malam kau minum banyak?" Jimin merangkul yuri yang kini berjalan keluar kamar menuju dapur. "Aku di paksa minum, tidak masalah, aku baik-baik saja" yuri tersenyum ke arah jimin. "Untung saja kau cepat menemukanku" jimin memeluk pinggang kecil yuri.
"Apa kau tidak takut?"
"Aku tidak takut selama ada kau" kata yuri final. Jimin sungguh tau perempuan di pelukannya ini belum mengenal dunia dengan baik.
Yuri menganggap semua orang baik padanya. Membuat jimin selalu menghawatirkan yuri saat ia bepergian sendiri.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Dan katakan apa saja yang kau lakukan. Jangan tersesat dan jangan bicara pada orang yang tidak kau kenal. Selain itu.. jangan matikan handphone mu. Aku akan menghubungimu 30 menit sekali." Ucap jimin khawatir.
Yuri hanya tersenyum dan mencium pipi jimin singkat. "Baiklah aku pergi."
"Ya!! Kau..." Kesal jimin. Pasalnya yuri hanya terus tersenyum saat jimin berbicara membuatnya ragu, entah yuri mendengarkan atau tidak. Jimin tetap khawatir padanya.
Nanti bakal ada cerita yang fokusnya sama jimin and yuri doang. Kira-kira bakal gimana ya mereka?
Wait and see!
💜💜💜💜💜
KAMU SEDANG MEMBACA
I LOVE HER
Fanfiction*ini cerita imajinatif yang mungkin akan terlihat nyata* Manusia pada umumnya memiliki rasa bahagia, sedih, senang, khawatir, kecewa, dan juga cinta. Bukankan suga juga manusia? Seorang idol yang jatuh cinta pada staf yang ternyata bukan hanya sek...
