28. Hope

54 10 0
                                        

-- Siang hari --

Berbagai macam hiasan Natal tampak terpajang di banyak toko sejak musim dingin tiba. Pohon besar di tengah kota juga sudah dipenuhi dengan lampu-lampu menarik yang akan menyala terang pada malam hari nanti. Banyak orang juga ikut merayakan hari besar ini dengan menghadiri acara khusus di tempat-tempat tertentu.

"Libur di hari besar seperti ini seharusnya bisa kau nikmati dengan baik. Kenapa kau hanya berada di rumah saja, Jung Eunji?" Suara seorang wanita terdengar di ujung telepon.

"Aku hanya malas untuk berjalan keluar. Lagipula aku menikmati waktu liburku dengan beristirahat hari ini" Eunji terlihat sedang duduk santai di dalam kamar.

"Kau sangat membosankan. Seharusnya kau bisa menerima ajakanku kemarin untuk datang merayakan Natal di rumahku sekarang"

"Aku tidak bisa mengganggu acara keluargamu"

"Apa di rumahmu tidak mengadakan acara apapun?"

"Iya. Ayahku juga sedang tidak berada di rumah sekarang. Kami sudah tidak merayakan apapun sejak lama"

"Benarkah? Bagaimana dengan pria yang menyatakan perasaan padamu waktu itu?"

"Apa?"

"Pria itu yang mengirim banyak permen untukmu juga kan ke kantor? Apa dia sudah tidak menghubungimu lagi?"

"I-iya, begitulah..."

"Seharusnya kau bisa berkencan dengannya atau mencari lelaki lain kemarin. Jadi kau mempunyai rencana untuk pergi keluar rumah hari ini dan banyak menghabiskan waktu bersama"

"Memikirkannya saja sudah membuatku malas"

"Sampai kapan kau akan terus seperti ini, Jung Eunji? Apa kau ingin terus melajang sampai tua nanti?"

"Jangan menakutiku, Yoon Bomi. Aku pasti akan mendapatkan pasangan hidup juga, tapi tidak sekarang"

"Usahamu tidak terlihat sama sekali. Kau harus bergerak lebih dulu untuk mendapatkan kekasih"

"Aku bukan tipe wanita yang seperti itu"

"Berapa kalipun aku memberimu nasehat, kau tetap tidak akan berkencan dengan siapapun, kan?"

"Iya, kau benar..."

"Kalau begitu, aku akan mengakhiri panggilannya sekarang. Ada yang harus ku kerjakan di sini dan tidak bisa ku tunda lagi"

"Baiklah..." Eunji pun menurunkan ponsel dan mulai menghela nafasnya pelan. 

Dia menatap ponselnya lagi dan sibuk menggeser layar sampai tidak mendengar kepulangan Ayahnya di sana. 

"Kau belum makan siang?" Pria paruh baya itu membuka pintu kamar dan melihat sang anak masih berbaring di atas tempat tidurnya.

"Kau sudah pulang, Ayah? Kenapa cepat sekali?"

"Iya. Tidak banyak yang bisa ku lakukan di toko karena sebagian pekerjaan sudah di ambil alih oleh temanku. Aku membawa makanan dari sana untukmu"

Eunji segera keluar kamar dan mengikuti Ayahnya ke meja makan. Dia ikut menata makanan sampai mereka berdua bisa saling duduk berhadapan sekarang. 

"Makanlah lebih dulu. Aku harus mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil"

Eunji menuruti ucapannya dan sudah menikmati makanan yang tersedia. Batuknya sudah menghilang setelah rutin meminum obat selama satu minggu penuh kemarin. Dia juga bisa memulihkan kondisi tubuhnya dengan cepat. 

"Aku bertemu seseorang tadi di jalan dan dia menitipkan ini untuk ku berikan padamu" Sang Ayah kembali sambil membawa sesuatu di tangannya. 

Eunji menerima benda itu dan mengeluarkan isi amplop yang dipegangnya. 
"Sebuah tiket?"

Dive Into YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang