Setelah berjalan jauh Sandrina beserta Reyhan tidak menemukan satupun jalan menuju keatas. Tanah masih terasa licin dan banyak ranting tajam. Tidak memungkinkan bagi mereka untuk naik keatas apalagi melihat kondisi Sandrina yang tidak bisa berjalan dengan baik.
Reyhan menghentikan langkahnya dan menurunkan Sandrina dari gendongannya.
"Kita udah jalan jauh banget tapi gak nemuin satu jalan yang bisa kita gunain buat naik ke atas," Ucap Reyhan sambil mengambil nafas.
Sandrina melihat itu merasa bersalah "Yaudah kita istirahat dulu aja. Kamu juga keliatan capek banget. Aku bilang juga gak usah gendong aku,"
Reyhan mengikuti Sandrina yang menarik tangannya untuk duduk di akar besar "Gapapa. Kaki kamu masih sakit 'kan? Kalo di paksa jalan nanti takutnya malah bengkak,"
Cewek itu hanya diam. Jujur kakinya memang masih terasa sakit hingga sekarang. Tubuhnya juga terasa lelah dan letih.
"Kita istirahat aja dulu disini. Udah terlalu malam, besok pagi kita lanjutin cari jalannya,"
Tiba-tiba Sandrina merasa gugup. Itu artinya dia dan Reyhan akan berduaan disini? Astaga kenapa suasana tiba-tiba jadi canggung?
"Tenang aja, aku gak bakal macem-macem kok. Aku ini tipe menghargai wanita kalo kamu mau tau," Ujar Reyhan seraya beranjak untuk mencari sesuatu yang dapat menghangatkan keduanya di malam yang dingin.
"B- Bukan gitu, cuma canggung aja berduaan disini. Di tengah hutan lagi,"
Rey tersenyum. Tangannya terjulur mengambil beberapa kayu dan beberapa lembar dedaunan. Ia akan membuat api unggun disini.
"Gapapa, anggap aja kita lagi ngedate,"
Sandrina terkekeh mendengarnya. Mana ada ngedate di tempat seperti ini? Bukankah ini terlalu menyeramkan untuk di jadikan tempat ngedate?
"Gak estetik kamu mah, masa ngedate di tengah hutan," Balas Sandrina menatap cowoknya yang sedang mengumpulkan kayu dan dedaunan jadi satu.
Setelah selesai pemuda itu berdiri dan berbalik untuk menatap Sandrina "Kamu mau tau sesuatu gak?," Reyhan kembali membalikkan badannya berjongkok dan mencoba menggesekkan kedua batu untuk di jadikan api.
"Apa?,"
"Aku ngerasa kita bukan bocah. Aku ngerasa kita ini bukan anak SMP," Sandrina mengernyit tidak mengerti.
"Maksud kamu apa?," Reyhan tersenyum dan terus menggesekkan kedua batu hingga terlihat percikan api di antara gesekan batu itu.
"Kamu gak ngerasa? Kalau hubungan kita itu terlalu dewasa? Biasanya orang pacaran seusia kita pada alay-alay kan?,"
Cewek itu mengangguk membenarkan. Dia baru menyadarinya sekarang bahwa hubungannya dengan Reyhan sangat jauh dari hubungan seusianya. Biasanya anak-anak seusianya sangat alay dan terkesan sangat bucin. Berbeda dengan mereka.
"Benar juga, aku baru nyadar,"
Reyhan berdiri setelah selesai menyalakan api unggun.
"Wah kamu keren banget bisa nyalain api unggun. Padahal batu, daun sama kayu itu semuanya basah,"
"Itu tergantung siapa yang nyalain api unggun nya," Sandrina berdecih kesal melihat kesombongan pacarnya itu.
Kini mereka duduk bersampingan dengan tangan terjulur kedepan merasakan kehangatan dari api unggun. Suasana yang tadi sangat dingin kini mulai berangsur rendah karena api unggun yang Reyhan nyalakan.
"Sebenernya aku suka dingin," Sandrina menoleh begitu Reyhan mengatakannya. Reyhan pun ikut menoleh membuat mereka saling menatap.
"Tapi aku tau kamu kedinginan, jadi aku nyalain api unggun buat kamu," Cewek itu tersenyum simpul. Ia sungguh terharu atas perlakuan Reyhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAKE PERSON [ON GOING]
Fiksi Remaja{CINTA ANAK SMP} "Lo cantik dan manja gue suka," _Fahreyza "Rey suka sandrina? Tapi kenapa harus Sandrina? Kenapa engga yang lain aja?," _Sandrina "Karna lo berbeda dengan yang lain, jadi gue suka," • • • • Di Sekolah elite seantero Jakarta SMP NUSA...
![FAKE PERSON [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/263525510-64-k645143.jpg)