23.

12.6K 1.1K 18
                                        


Sebenernya aku udah nulis bab ini dari empat hari lalu, tapi kayak kurang sreg. Sampe sekarang juga kurang sreg sebenernya🥲 kayak ada yang kurang tapi ga tau apa

Btw kemarin vote nya ga sampai 200, gapapalah. Gas ae slur💃

___


"Feeling better?"

Radit menoleh ke arah sampingnya. Menatap Aerin yang menghampiri cowok itu, cewek itu mengibas-ngibas tangannya di udara, mendorong asap rokok yang baru cowok itu keluarkan agar tak mengenai dirinya.

"Maybe" balas cowok itu tak yakin.

"Semalem kenapa?" Tanya Aerin sedikit melembut.

Cowok itu hanya diam sambil menghembuskan kembali asap rokoknya, tak berniat menjawab ucapan Aerin.

"Every time you light up a cigarette, you are saying that your life isn't worth living" Aerin mengatakan itu sambil mengambil puntung rokok yang diapit di jari cowok itu, kemudian menekannya ke asbak rokok diujung pembatas balkon hingga mati. "Your life is worth living" lanjut Aerin.

Cowok itu menatap Aerin intens. "is it?" Tanya cowok itu setelah terdiam cukup lama.

"Of course,"

"What makes it?" Cowok itu mengangkat tangannya, kemudian mengelus bibir Aerin lembut.

Aerin membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Radit saat sebuah kilasan memori tiba-tiba muncul dikepalanya.

"Every time you light up a cigarette, you are saying that your life isn't worth living. Your life is worth living"

"is it?"

"Of course,"

"What makes it?"

"Your family? Your friends? Yourself?"

"I only smoke when I'm not feeling well"

"Then light up your day, not a cigarette"

Aerin memegang kepalanya yang terasa sedikit pening. Cewek itu menundukkan kepalanya, mengernyitkan kening saat mendengar sebuah kilasan tentang percakapan yang sama persis dengan yang tengah mereka bicarakan sekarang.

"Kenapa?" Lirih cowok itu dengan suara rendah, saat melihat Aerin memegang kepalanya seperti tengah kesakitan.

"I'm fine"
"Your family? Your friends? Yourself?"
Aerin mencoba menjawab persis seperti yang ia dengar di kepala nya tadi. Dirinya menanti jawaban cowok itu dengan gugup.

Cowok itu terdiam sesaat.
"I only smoke when I'm not feeling well" ucap cowok itu, menatap Aerin penuh arti.

Deg.

Aerin menatap cowok itu ragu.
'mungkin hanya kebetulan? Atau ini adalah ingatan asli Aerin disini? Tapi harusnya jawaban cowok itu tidak sama karena mereka bukan orang yang sama kan?' dirinya mengernyitkan kening, bertanya-tanya dalam benaknya.
'atau-- sama?'

"Lo--" Aerin menggantungkan ucapannya, tak yakin ingin mengutarakan pemikirannya atau tidak.

"Hmm?" Tanya Radit, cowok itu mendekat ke arah Aerin tanpa memutuskan tatapan mereka.
"What's wrong?" Lirihnya lagi sambil mengurung Aerin hingga tubuh cewek itu mentok ke pembatas balkon, tubuh cowok itu menunduk, menatap Aerin yang lebih pendek darinya.

"Nothing," ucap cewek itu mencoba terlihat biasa.

"What are you doing?" Gugup Aerin, menahan tubuh cowok itu yang tengah mendekat.

Somewhere in Neverland [Revisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang