Btw aku bingung banget sekarang, disini mereka masih SMA tapi hubungan mereka udah dewasa banget sekalipun mereka udah menikah. Aku takut anak-anak SMA jadi menormalisir hal-hal seperti ini. Wdyt guys?
_____
Aerin sudah memutuskan, ia akan mengambil seragam yang benar-benar pas untuknya, tidak kekecilan dan juga tidak kebesaran, ukuran M.
Radit, cowok itu sudah mencak-mencak sedari tadi karena ternyata stock ukuran M sedang kosong, alhasil Aerin harus menunggu 2 hari kemudian untuk mengambil seragamnya.
Juga mereka tidak mungkin beralih ke toko lain, karena toko yang menyediakan seragam SMA Cakrawala hanya toko ini.
"Saya ambil yang ini"
"Maaf kak tidak bisa, soalnya ini untuk display" Pegawai itu masih menjelaskan dengan sopan, masalahnya sedari tadi Radit memaksa pegawai perempuan itu untuk mengizinkannya mengambil satu seragam didisplay.
"Ga bisa diambil?"
"Tidak bisa kak, seragam display bisa dibilang seragam bekas, kami tidak mungkin menjual seragam bekas."
"Yaudah tunggu 2 hari lagi aja si dit"
Aerin sedari tadi menahan malu akan tingkah cowok itu yang masih saja kekeh memaksa pegawai tadi.
Mata cowok itu memicing tajam mendengar ucapan Aerin. Oke, Aerin sedikit menciut sekarang. Tapi dibandingkan cowok itu, bukannya harusnya Aerin yang kesal disini?
"Yaudah 2 hari lagi, semua nya 2 hari lagi kan? Seragam Olahraga sama Pramuka?"
"Betul kak, semuanya stock 2 hari lagi," Pegawai itu masih tersenyum menjelaskan.
"Ambil ukuran L dulu aja ya?"
Aerin berdecak, cewek itu menggeleng.
"Gede banget ah,"
Radit spontan menolehkan kepalanya ke arah Aerin saat mendengar ucapan cewek itu, "Apanya yang gede?" Cowok itu berbisik ditelinga Aerin, tubuh cowok itu sedikit menunduk.
"Seragamnya?" Aerin menjawab dengan polos.
"Oh" Radit menegakkan tubuhnya kembali. "Yaudah mba, lusa saya kesini lagi"
"Baik kak, ingin membayar sekarang atau nanti saja?"
"Sekarang"
"Mari ikut saya" pegawai itu berjalan kearah kasir diikuti Aerin dan Radit dibelakangnya.
"Dit, lupa bawa dompet. Tadi si Lo main tarik aja,"
"Pake duit gue"
"Oke, nanti gue ganti"
Cowok itu hanya diam tak membalas ucapan Aerin.
"Baik kak, totalnya 3.900.000 untuk 5 seragam"
Aerin memelalak matanya mendengar nominal yang disebutkan tadi.
'Gila mahal banget anjir, terbuat dari emas ape begimane' batin Aerin tak percaya.
Cowok itu mengeluarkan dompet dari saku celananya, lalu menarik sebuah kartu berwarna hitam didalamnya.
Pegawai tadi sedikit terkejut melihat kartu yang berada di genggaman cowok itu. "Maaf kak atas kelalaian saya. Mohon izinkan saya sebentar kak untuk memanggil manager disini"
Cowok itu hanya mengangguk. Pegawai tadi lalu mengambil telepon dihadapannya dengan sopan.
Aerin menatap Radit bingung. "kenapa?"
"Gapapa,"
Tak lama seorang pria berjas datang menghampiri mereka.
"Maaf atas kelalaian saya, izinkan saya melayani anda," kepala pria itu sedikit menunduk sopan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere in Neverland [Revisi]
Fantasía[Maaf, cerita ini tidak untuk diterbitkan🙏🏻] Debut story/ karya pertama, maaf kalo bacanya agak geli🤌🏻 [WARNING!!! : YOUNGADULT 17+ HARSH WORDS, KISSING, SMOKING, VIOLENCE] "Here's to all the place we went and all the place we'll go. Somewhere i...
![Somewhere in Neverland [Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/300993878-64-k828377.jpg)