7. (17+)

41.9K 1.9K 53
                                        


Akhirnya dirinya selesai wawancara dan ia diterima disalah satu cafe yang berada didekat sini. Ia sangat bersyukur karena sisa uangnya benar-benar akan habis minggu ini.

Ia tiba dirumah pukul 7 malam.

"Nio udah ngangkut barang-barang belum ya?" Gumam Aerin. Ia ingin bersiap tidur dan butuh seprai sekarang.

"Nio kamu udah ngangkat barang digudang?" Aerin bertanya saat sudah sampai dikamar cowok itu.

"Eh iya lupa hehe"

Aerin mendengus mendengar itu. Ia keluar dari kamar Nio menuju ke gudang untuk mengambil seprai, biarlah barang yang lain diangkat Nio besok.

Saat sampai digudang. Ia menghidupkan lampu dan hendak mengambil seprai namun ia dilanda kebingungan, dahinya mengernyit.

Bagaimana bisa ada sebuah cermin luamayan besar yang terletak di gudang tua tempat tinggal nya beberapa hari saat ini. Terpaku rapi didinding sebelah kanan ruangan.

Seingatnya kemarin saat ia sedang berberes tak ada benda apapun disini.

Meraba-raba ujungnya, ia masih sedikit kebingungan, kemudian ia coba memegang cermin itu. Melepaskannya dari pakuan di dinding walau agak berat dan membawanya kelantai, menyender pada dinding.

Perempuan itu agak berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan cermin. Sambil terus meraba-raba bingkainya, irisnya tak sengaja melihat sebuah tulisan pada bingkai cermin, letak nya diatas.

Sebuah tulisan dengan corak yang sedikit aneh. Mencoba membacanya, namun tak kunjung paham, lalu ia coba menyipitkan mata untuk melihat apakah tulisan tersebut dapat terbaca jika pembacanya melihat dengan cara sedikit berbeda.

Sedikit jelas, ia mengeja perkata tulisan dibingkai cermin tersebut.

"Here's to all the place we went and all the place we'll go. Somewhere in Neverland"

deg.

Sesaat seusai membaca itu, ia merasakan sedikit perasaan yang tak asing, sedikit dejavu. Namun seingatnya ia sama sekali tak pernah membaca tulisan atau mendengar kalimat tersebut dari seseorang ataupun sesuatu.
Sedikit memiringkan kepala, ia terkaget saat tiba-tiba melihat ada sekelibat bayangan hijau didalam cermin itu, tepatnya dibelakangnya.

Ia terkesiap. Merasakan perasaan takut yang sedikit menyerangnya, perlahan ia memberanikan diri menolehkan kepalanya ke belakang, namun tak menemukan seseorang ataupun sesuatu. Mencoba mengabaikan itu, ia pun segera menolehkan lagi kepalanya ke semula.

Bak tersambar petir, ia sangat terkejut melihat ada seorang pemuda didalam cermin tersebut, melihatnya dengan tatapan bingung. Seketika ia tak dapat menggerakan badannya. Tubuhnya shock. sedikit keberaniannya tadi perlahan digantikan dengan rasa was-was dan takut.

Sedetik kemudian, seluruh ruangan gudang berubah menjadi cahaya kehijauan.
Ia seketika sadar, dan memekik kebingungan sembari berteriak meminta tolong.

Perlahan ruangan tersebut seperti tengah menyedotnya masuk kedalam cahaya yang berasal dari dalam cermin. Ia kelabakan, menolehkan kepala kekanan dan kekiri mencari pertolongan atau appaun itu.

Ia memegang dadanya, dadanya terasa sangat sesak. Sesuatu seperti memaksanya untuk terus masuk kedalam cahaya tersebut, ia merasa seperti akan mati saja.

'seseorang, tolong'
'siapa saja tolong'

Pasrah. ia tak dapat menapakan kakinya lagi.
Dadanya sungguh sakit, badannya sakit, semua tubuhnya sakit. Sampai kemudian perlahan kesadarannya direnggut paksa oleh rasa sakit yang tak tertahan.

Somewhere in Neverland [Revisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang