Aerin yang tengah berada di bilik toilet tersentak saat mendengar suara pecahan kaca dari arah luar bilik yang ia tempati.
Dengan cepat dirinya merapikan bajunya dan keluar dari bilik.
Hal pertama yang Aerin lihat adalah Radit yang tengah menyender pada wastafel dengan tangan yang berlumuran darah, menatap Aerin dengan pandangan kosong.
Aerin menutup mulutnya terkejut melihat pemandangan itu, dengan cepat cewek itu menghampiri Radit yang masih tak bergerak dari tempatnya.
"Kenapa?!" Tanya Aerin cemas.
"Kenapa Radit?!?!" Tanya Aerin lagi, cewek itu menggoyang-goyangkan kedua lengan Radit saat cowok itu tak merespon ucapan Aerin.
"Kamu bohong" gumam cowok itu tak jelas.
"Bohong apa?!" Tanya Aerin bingung.
"Tangannya cuci dulu, nanti infeksi" lanjut cewek itu, kembali menyadari luka di tangan cowok itu yang semakin banyak mengeluarkan darah.
"Ga"
"Bersihin dulu! Nanti marahnya!" Tegas Aerin sambil menarik paksa tangan cowok itu, lalu diarahkannya pada keran wastafel.
Mereka sama-sama terdiam, dengan Radit yang menatap fokus pada tangannya, dan Aerin yang mencuci tangan Radit dengan gemetar.
Perlahan terdengar isakan kecil Aerin saat menatap tangan cowok itu yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah.
Dengan masih terisak, Aerin membersihkan kaca yang menusuk pada tangan cowok itu telaten. Ditelitinya lagi tangan cowok itu, barangkali ada kaca yang tertinggal sebelum kembali membilas tangan cowok itu dengan air.
Dengan kasar, Aerin menarik dasinya sendiri, lalu melilitkannya pada tangan Radit dengan kuat, untuk menghentikan pendarahan cowok itu.
Ditariknya tangan cowok itu keluar dari toilet, menuju ke UKS.
"Ibu! ini ada yang luka!" cecar Aerin langsung saat sudah sampai di UKS.
"Yaampun, darahnya sampai netes-netes" ujar petugas UKS, menatap tangan Radit dengan khawatir. "Sini cepet, ibu ambil p3k dulu."
Petuga UKS tadi dengan tergesa mengambil kotak p3k dan menghampiri Radit dengan terburu-buru. Saat hendak membuka ikatan dasi ditangan cowok itu, Radit tiba-tiba menarik tangannya dan menghentikan kegiatan petugas UKS itu.
"Dia aja" tunjuk Radit ke Aerin.
"Jangan keras kepala! biar ibu itu yang ngobatin!" Ujar Aerin jengah.
"Ga" cowok itu menarik tangannya menjauh dari hadapan petugas UKS itu.
"Radit!" Geram Aerin, dirinya langsung menghampiri cowok itu, ditatapnya ibu petugas UKS itu sambil meminta maaf atas tingkah kekanakan Radit.
"Yaudah itu kamu yang gantiin cepet, nanti ibu arahkan" saran ibu petugas UKS itu yang masih dengan tulus ingin membantu mereka.
Dengan pelan Aerin membuka lilitan dasi pada tangan cowok itu.
"Yatuhan, kamu abis ngapain nak?" Tanya ibu itu dengan raut muka ngeri saat melihat luka ditangan Radit.
"Aku juga gatau Bu, tiba-tiba udah gini, kena kaca" Aerin yang menjawab pertanyaan petugas UKS itu, karena Radit sedari tadi hanya diam, menatap tangannya yang tengah diurus cewek itu.
"Udah dicabut semua kacanya?" Tanya petugas UKS itu.
"Udah Bu"
"Yaudah ambil cairan antiseptik terus tuangin kapas. Setelah itu ditap tap aja diseluruh lukanya untuk mencegah infeksi"
Aerin mengikuti seluruh instruktur dari petugas UKS itu.
Radit meringis saat merasakan kapas itu mengenai lukanya, cowok itu akhirnya membuka suara walau hanya sebuah ringisan.
"Udah bersih, lalu oles ini" petugas UKS itu memberikan semacam krim kepada Aerin yang langsung Aerin terima.
"Tutup pakai perban" lanjut petugas UKS itu, saat melihat Aerin telah mengolesi seluruh luka cowok itu dengan krim.
Aerin dengan sigap mengambil prban yang disodorkan ibu itu, lalu melilit tangan Radit dengan pelan.
"Udah" ucap petugas UKS itu pelan.
"Kalau darahnya masih belum berhenti segera bawa ke rumah sakit atau klinik ya. Ini ibu kasih krim antibiotik. Untuk perban nya jangan lupa diganti secara berkala" terang petugas UKS itu panjang lebar.
Aerin mendengarkan dengan seksama, lalu mengucap terima kasih dan maaf dengan tulus saat petugas UKS itu telah selesai menerangkan.
Radit dengan kepala menunduk juga nampak bergumam terima kasih dengan sedikit tak jelas.
Aerin memijit pelipisnya dengan gusar saat ibu petugas UKS itu telah pergi.
"Kamu bohong" ujar cowok itu tiba-tiba sambil menatap Aerin tajam.
Aerin menghela nafasnya lelah.
"Bohong apa Radit?"
"Tadi kamu sama cowok brengsek itu hampir ciuman kan?"
"Hah?" bingung Aerin.
"Didepan toilet"
Cewek itu berpikir sejenak tentang perkataan Radit, didepan toilet?
Apa mungkin saat ia dihadang kak Galih tadi?
Aerin mendengus saat mengingatnya, mungkin cowok ini sedikit salah paham tentang itu.
"Kamu salah paham, tadi aku mau masuk ke toilet tapi tiba-tiba kak Galih ngehadang aku didepan toilet. Dia ga aneh-aneh kok, cuma nanya kenapa aku semingguan ini ga sekolah" terang Aerin lembut kepada cowok itu.
"Si anjing itu ngapain nanya-nanya begituan?" Tanya Radit dengan raut wajah tak suka.
"Mana aku tau" balas Aerin.
"Word please" ucap cewek itu saat sadar Radit telah mengumpati kak Galih dengan kasar.
"Lain kali ga usah diladenin"
"Iyaa"
Dengan perlahan Aerin mengangkat tangannya untuk menangkup wajah Radit agar cowok itu mendongak. Ditekannya pipi cowok itu, lalu dengan cepat Aerin mengecup bibir lucu cowok itu yang sedikit maju akibat tekanan dipipinya.
"Makanya tanya dulu, jangan asal marah" dengus Aerin.
Cowok itu hanya terdiam.
"Terus ini kenapa bisa luka?"
Aerin mengangkat tangan Radit, diperlihatkannya lilitan perban ditelapak tangan hingga punggung tangan cowok itu ke depan muka Radit.
Cowok itu memalingkan muka lagi.
"Gatau" ucap cowok itu asal.
"Gatau gimana? Ga mungkin kan kacanya jalan terus tiba-tiba masuk ke telapak tangan kamu"
Cowok itu diam lagi, sebelum menjawab pertanyaan Aerin.
"Tadi aku pecahin kaca yang didepan watafel" aku cowok itu tanpa melihat ke arah Aerin.
Aerin mengingat-ingat kaca yang berada di wastafel toilet, seingatnya kaca itu sangat tebal. Aerin benar-benar tak memperhatikan sekitar tadi karena cewek itu fokus pada darah yang berceceran di tangan Radit.
"Kaca tebel itu?" Tanya Aerin sedikit tak percaya.
"Iya"
"Yaampun kenapa bisa?" Aerin menatap cowok itu dengan ngeri.
"Ya bisa" balas cowok itu lagi, asal.
Aerin memijit pelipisnya, tak habis pikir dengan kelakuan cowok ini.
"Yaudah gausah masuk kelas dulu, gabisa nulis juga kan" ucap Aerin sambil menatap tangan kanan cowok itu.
Cowok itu hanya berdehem, lalu perlahan membaringkan tubuhnya di kasur UKS dan mengeluarkan ponsel dari kantung celananya lalu mulai memainkan game pada ponsel itu dengan satu tangan.
Aerin mendengus melihat kelakuan cowok itu yang masih dengan lancar bermain game walau menggunakan satu tangan.
____
Next minimal vote 250
17 Agustus 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere in Neverland [Revisi]
Fantasy[Maaf, cerita ini tidak untuk diterbitkan🙏🏻] Debut story/ karya pertama, maaf kalo bacanya agak geli🤌🏻 [WARNING!!! : YOUNGADULT 17+ HARSH WORDS, KISSING, SMOKING, VIOLENCE] "Here's to all the place we went and all the place we'll go. Somewhere i...
![Somewhere in Neverland [Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/300993878-64-k828377.jpg)