4.

25.7K 1.8K 32
                                        

Genap sudah 4 hari Aerin bolos sekolah. Teman-temannya sudah sangat cerewet menanyakan kabar dirinya lewat grup dan personal chat.

Ia memang belum memberi tahu mereka pasal berita duka kematian kedua orang tuanya.

Tak ada keluarga yang berniat memberi tahu pihak sekolah, mungkin besok bisa Aerin beritahu saat ia memutuskan untuk bersekolah kembali.

Saat ini Aerin tengah berada didalam kamarnya, tepatnya diatas kasur, sedang memikirkan nasib ia dan Nio kedepannya. Sepertinya ia harus segera melamar pekerjaan lagi untuk memenuhi kehidupannya dan Nio kelak.

Mengambil ponsel diatas nakas, Aerin membuka sebuah situs untuk mencari pekerjaan. Jarinya dengan telaten menscroll pekerjaan yang sekiranya cocok untuk siswi SMA sepertinya.

Beberapa sudah ia apply.

'Semoga ada satu yang keterima' ujar Aerin berharap.

Ia kembali menscroll ponselnya saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, memunculkan wajah adiknya.

"Kak ada temennya" ujar Nio datar.

Akhir-akhir ini Aerin rasa adiknya ini sedikit lebih pendiam dan cenderung judes. Namun Aerin dapat memaklumi itu, mungkin adiknya masih dalam tahap berduka yang sangat dalam.

Ia tak bisa memaksa Nio untuk segera mengikhlaskan dan menerima kenyataan. Aerin saat ini sangat sadar ia adalah seorang kakak, biar ia yang akan bertanggung jawab. Nio harus tetap fokus pada sekolahnya.

Aerin tersenyum masam.
"Terima Kasih udah kasih tau, kakak ganti baju dulu nanti langsung kebawah"

Nio tak menjawab, adiknya itu langsung menutup pintu dan kembali ke kamarnya.

Selesai berganti pakaian, Aerin segera menuju kebawah. Diilihatnya teman-teman kelasnya sudah berkumpul di ruang tamu.

"Rin" Bima berucap pelan saat melihat Aerin sedang turun tangga.

Teman-teman lain yang mendengar itu sontak memalingkan wajah ke arah tangga dengan tatapan duka dilayangkan kearah Aerin.

Aerin tersenyum membalas itu, ia segera menghampiri teman-temannya dan duduk di samping Vini.

Vini pun langsung menggengam lembut tangan Aerin.

"Terima kasih udah dateng" Aerin berujar pelan sambil mengedarkan pandangan terharu menatap temannya satu persatu. Saat ini seluruh teman kelasnya datang untuknya.

Aerin tak bohong jika dirinya sangat tersentuh sekatang.
Masih banyak sekali yang peduli terhadapnya.

Satu persatu temannya mengucapkan kata-kata penghibur dan penyemangat. Aerin mendengarkan dengan seksama dan menyimpannya didalam hati.

"Rin, tadi pagi gue dapet kabar dari Nio. Lo kok ga kasih tau gue sih" ujar Vini sedikit cemberut. Ia merasa gagal menjadi sahabat Aerin.

Mendengar itu Aerin segera mengalihkan pandangan ke arah tangga lantai atas tempat adiknya berada sambil tersenyum. Mau sesedih atau sekesal apapun adiknya, Nio tidak pernah mengabaikan perasaan Aerin.

Aerin memang suka sendiri dan menyendiri. Tapi ia tak dapat menampik saat terkadang ia sangat membenci saat-saat ia merasa sendirian. Ia suka sendiri tapi ia benci merasa sendirian.

"Ini gue baru mau ngabarin kok sebenernya, eh kalian datang duluan ga diundang" Ujar Aerin sedikit bercanda. Ia hanya tak mau bersedih lagi.

Teman-temannya mungkin sadar jika Aerin saat ini sedang tidak ingin bersedih.

Mereka bersikap seperti biasa dan melontarkan jokes-jokes garing yang membuat Aerin tertawa mendengarnya.

Aerin memang sangat butuh penyemangat sekarang.

Somewhere in Neverland [Revisi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang