"Mau sampai kapan Lo gini anjing?!" Geram Daffin akhirnya setelah selama ini ia hanya diam melihat tingkah Radit yang tiap hari hanya mabuk-mabukan tanpa pergi kesekolah.
Kedua orang tua Radit dan Aerin tak henti-henti menanyakan kabar mereka kepada Daffin. Karena kedua orang itu tak bisa dihubungi. Dirinya sungguh stress, untung saja ia bisa berkelah bahwa kedua orang itu memutuskan untuk berbulan madu sekarang.
"Nyokap bokap Lo udah balik lagi ke US" ujar Daffin lagi.
Radit hanya berdehem menjawab itu.
"Anjing Lo!" Kesal Daffin saat cowok itu hanya bergumam menjawab ucapannya.
"Aerin dimana? Gue mau ketemu dia!"
"She's safe"
"Gue mau ketemu dia anjing! Gue yang buat dia! Cuma gue yang paham semua karakter dia!"
Radit menolehkan kepalanya ke arah Daffin. "Bisa Lo bikin dia ngubah keputusannya buat pulang ke dunianya?" Lirih Radit pelan.
"Ini gue mau coba" ucap Daffin tanpa menatap Radit.
Radit merogoh sebuah card key di sakunya, ia menatap itu sebentar sebelum memberikannya kepada Daffin. "I'm begging" lirih Radit lagi.
Daffin mengambil kunci itu tanpa menatap ke arah Radit, segera beranjak dari kursi dan berjalan keluar pintu. Namun Daffin berhenti sejenak, ia menatap ke arah Radit "Menurut gue lebih baik Lo makan dan mandi, Lo ga mau Aerin ngeliat Lo kayak gini kan?"
Bukannya tanpa alasan Daffin berbicara seperti itu. Lihatlah penampilan cowok itu, badan kurus dengan rambut acak-acak, juga jambang yang sedikit tumbuh dan wajah yang pucat dengan kantung mata tebal, benar-benar seperti mayat hidup.
Radit menatap ke arah Daffin, nampaknya cowok itu tengah berfikir sekarang.
"Gue bakal panggil orang kesini buat beresin tempat ini" ucap Daffin melihat keadaan sekitar yang penuh dengan pecahan botol-botol berserakan, baju kotor dimana-mana, bekas makanan cepat saji yang tak di buang. Benar-benar seperti tempat tinggal orang sinting, gumam Daffin dalam benaknya.
"Hmm" Gumam Radit lagi.
Radit menolehkan kepalanya saat mendengar pintu ditutup dari luar oleh Daffin, dirinya segera bergagas masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Cowok itu dengan telaten menggosok tubuhnya dengan sabun, mencukur jambangnya, merapikan rambutnya, dan berpakaian dengan rapi. Lalu bergegas menuju ke apartment tempat ia mengunci Aerin.
____
Tok tok!
"Ini gue Daffin" ucap Daffin dari luar.
Aerin yang berada didalam kamar mengernyitkan dahi, apakah ia sudah boleh keluar sekarang?
"Itu-- pintunya dikunci dari luar" teriak Aerin dari dalam kamar.
"Gue ada kuncinya, boleh gue buka pintu?"
"Go for it"
Daffin membuka kunci kamar itu lalu membuka pintu tersebut. Hal pertama yang cowok itu lihat adalah Aerin yang tengah bersandar di dipan kasur sambil memegang sebuah buku, menatapnya dengan bingung.
"Gue udah boleh keluar?"
"Boleh"
Daffin berjalan masuk kedalam kamar, lalu mendekati kasur yang Aerin tempati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere in Neverland [Revisi]
Fantasy[Maaf, cerita ini tidak untuk diterbitkan🙏🏻] Debut story/ karya pertama, maaf kalo bacanya agak geli🤌🏻 [WARNING!!! : YOUNGADULT 17+ HARSH WORDS, KISSING, SMOKING, VIOLENCE] "Here's to all the place we went and all the place we'll go. Somewhere i...
![Somewhere in Neverland [Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/300993878-64-k828377.jpg)