[Maaf, cerita ini tidak untuk diterbitkan🙏🏻]
Debut story/ karya pertama, maaf kalo bacanya agak geli🤌🏻
[WARNING!!! : YOUNGADULT 17+ HARSH WORDS, KISSING, SMOKING, VIOLENCE]
"Here's to all the place we went and all the place we'll go. Somewhere i...
Btw bab 39 ada yang aku revisi dikit. Kalau mau, boleh dibaca ulang sebentar
___
Aerin menjatuhkan tubuhnya di lantai, lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangan, bahu nya bergetar seiring dengan tangisnya yang semakin kuat.
"Dia memang harusnya ga disini Aerin, dan dia juga mau nyakitin kamu" Radit berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Aerin. Lalu memegang bahu Aerin, mencoba menghentikan tangis cewek itu.
Aerin membuka tangkupan wajahnya lalu menatap Radit. "Dia tersiksa disana Radit. Aku udah baca cerita yang Daffin buat tentang dia dan aku pernah mengalami hal yang sama" "Struggling with a lot of things in my life. Money, my family, and overall myself. Selalu mengkhawatirkan nilai karena cuma itu yang bisa aku pegang, karena kalo aku ga berprestasi mau jadi apa aku nanti. Aku merasakan hal yang sama Radit. Dan itu bener-bener capek. Bener-bener capek selalu mengkhawatirkan segala hal untuk tetap bertahan hidup" lirih Aerin. "Kamu mungkin ga pernah merasakannya, tapi aku pernah. Dan itu bertahun-tahun aku rasain"
"And my gosh- I really felt sorry for her" lanjut Aerin sambil masih sesegukan.
Radit menatap Aerin dengan perasaan bersalah. Merasa marah sekaligus kasihan bahwa Aerin pernah merasakan semua itu.
"I'm sorry, tapi itu semua udah keputusan Daffin dari awal--"
"Dia ga bisa tinggal disini karena dia udah ga mempunyai raga semenjak gue dulu nyingkirin dia. Kalau dia tetep disini, dia harus mencari raga orang hidup untuk menempati jiwanya." Potong Daffin menatap Aerin.
Aerin perlahan balik menatap Daffin dengan perasaan campur aduk.
"Dan gue juga merasa bersalah terhadap dia Aerin, selalu.." lanjut Daffin. Cowok itu mendongak menahan buliran air mata yang hendak turun.
Pada akhirnya, semua yang dia lakukan hanyalah sebuah cara untuk mendapat hidup yang lebih baik.
Aerin yakin dia tidak berbahaya selama seseorang tidak berniat untuk merenggut kembali kebahagian singkat yang dia miliki.
Aerin jadi befikir, siapa gerangan yang membuat dia sampai bisa melakukan hal kejam seperti ini.
Mereka hanya bertemu dalam kurun waktu yang singkat, namun Aerin sangat merasa saat itu adalah waktu yang sangat bermakna antara Aerin dan dia.
__
"Just thought you could use a hug" Radit perlahan mendekati Aerin, lalu ikut mendudukan dirinya di kasur, tepatnya di samping Aerin. Lalu menatap intens mata cewek itu.
Aerin yang di tatap seperti itu semakin melengkungkang bibirnya ke bawah, dengan wajah merah dan pipi bekas air mata yang telah mengering.
"Come here baby" cowok itu menarik Aerin ke dalam pelukan, sambil mengelus punggung Aerin dengan lembut.
Kembali terdengar isakan pelan Aerin di ceruk leher Radit.
"I adore your hugs, but looks like your enjoying my boobs more so for this situation" ucap cewek itu dengan suara sengau.
Radit tertawa mendengar itu. "Maybe a little, yeah, but can't blame me, perfect height to lay my head on."
Aerin melepas pelukannya, lalu memukul lengan cowok itu sambil tertawa.
Radit ikut tertawa lalu mengelus lengannya yang di pukul oleh cewek itu. Sedetik kemudian raut wajah cowok itu berubah. "Denger, Daffin barusan ngomong sama aku, katanya dia bisa ngubah alur di novel itu-- and he can make a happy ending for her. Karena novel itu belum sampai pada ending."
"Beneran?" Tanya Aerin antusias sambil mengusap air matanya senang.
Radit mengangguk, "dia merasa cukup bersalah selalu membuat pemeran utama wanita yang menyedihkan"
Aerin merengut. "Aku pingin banget nanya sama dia, kenapa selalu bikin karakter wanita dengan hidup menyedihkan terus"
"You know, male ego. Cowok lebih suka cewek yang menyedihkan tapi selalu bahagia disaat yang bersamaan."
Aerin mengernyitkan wajahnya bingung "Aneh banget" ucap cewek itu.
Radit tertawa, "intinya ego cowok lebih suka kalo dirinya ada di atas cewek dalam segala hal"
"Kamu juga?"
"Of course, aku lebih suka di atas kamu" ucap cowok itu dengan arti yang berbeda sambil menatap Aerin mesum.
Aerin yang tau maksud cowok itu segera mendorong Radit. "Mesumm!" Teriak Aerin.
Cowok itu tertawa, lalu perlahan mendorong badan Aerin hingga cewek itu terlentang di atas kasur. Aerin menggeliat, ingin melepaskan diri dari kukungan cowok itu. Radit tertawa lagi, lalu makin mengurung cewek itu hingga tak bisa bergerak.
"Look at me now, I'm falling again" Cowok itu menatap mata Aerin intens, menyelami keindahan bola mata coklat terang di hadapannya."
Aerin hanya bisa terdiam dengan pipi memerah saat di tatap sedemikian rupa oleh cowok itu.
"Aku lagi jelek Radit" ucap Aerin malu, mengingat wajahnya pasti sangat jelek setelah menangis selama 5 jam.
"You look beautiful"
"No"
"Falling in love with you is a nice accident" ucap cowok itu, lalu perlahan mendekatkan bibirnya pada bibir Aerin.
___
Seseorang yang sedari tadi melihat insiden cermin itu menatap jendela kamar Aerin dari luar dengan santai. ia menghisap sebatang rokok, lalu meniupnya dengan tenang.
"Bodoh" maki orang itu sambil menyeringai tipis, seringai tersebut perlahan menjadi sebuah senyuman mengerikan saat melihat setengah tubuh Cecil berada di dalam cermin itu. Ia mengisap lagi Putung rokok nya sebelum menutup tudung hoodie nya, lalu dengan santai berbalik arah dan meninggalkan tempat itu dengan tenang.
END.
AA GILA, AKHIRNYA END! ANEH GASIE TIBA-TIBA END BEGINI?Bener-bener mentok bestie
ANYWAY, TYSM YG UDAH BACA CERITA INI SAMPAI END! I LOVE U SO DAMN MUCH GUYS! :")
Ohiyaa, aku ada bikin cerita satu lagi. Judulnya "Check Yes! Juliet" Di jamin seru sih! Tapi mungkin agak toxic dikit ygy.
Bonus selfie alay Radit
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.