Dengan hentakan kudanya, Raja Andrian membawa kudanya menuju tempat pendeta di Kerajaan Astrata. Rumah pendeta ini ada di perbatasan antara Kerajaan Astrata dengan Kerajaan Alaska. Tadinya Raja Andrian berniat untuk mampir ke Kerajaan Alaska, karena disana merupakan kerajaan sahabatnya, namun itu terhalang karena ia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan menemui pendeta pernikahannya.
"Apa kau sudah datang?" ucap seseorang ketika mendengar suara langkah kaki Raja Andrian yang tengah memasuki rumah kecilnya.
Mendengar itu, Raja Andrian kaget, ia tidak menyangka bahwa kehadirannya sudah diketahui oleh sang pendeta bahkan sebelum melihat dirinya.
"Bagaimana mungkin kau tau bahwa aku akan kemari pendeta? Bahkan itu tanpa melihatku terlebih dahulu?" ucapnya.
"Tentu saja, aku sudah lama menunggumu kemari yang mulia."
"Menungguku?"
"Iya"
"Apa kau juga tahu apa maksud dari kedatanganku?"
"Apa yang tidak ku ketahui yang mulia? Aku tahu semuanya."
"Jika kau sudah tahu semuanya, kenapa saat itu tidak langsung kau beritahukan pada kami?"
"Jika aku memberitahu kalian waktu itu, maka Tuhan tidak akan tahu sejauh mana kalian berdua bisa bersabar, benar kan?"
Mendengar itu Raja Andrian terdiam, jika dipikir-pikir ucapan dari pendeta di hadapannya ini memanglah benar.
"Kau memanglah Raja yang patut ditiru yang mulia, bahkan disaat istrimu tak kunjung mendapatkan keturunan, kau tetap selalu bersamanya dan tak sesekali berniat untuk pergi meninggalkannya. Semoga saja di dunia ini masih banyak pria yang berhati sepertimu."
"Tidak pendeta, aku tidak sebaik itu untuk menjadi panutan bagi semua orang. Aku belum bisa menjadi anak yang baik dan juga suami yang baik. Aku melawan orang tuaku sendiri, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika istriku menangis karena hinaan dari orang-orang. Aku tidak sebaik itu pendeta, tidak sebaik itu."
"Kau melawan ibumu sendiri karena membela istrimu kan? Istrimu tidak bersalah, lalu kenapa kau merasa salah akan hal itu?"
"Aku tahu itu, tapi tetap saja aku sudah menyakiti hati Bunda kan? Aku bukan anak yang baik pendeta."
"Itu tidaklah salah yang mulia, jika demi kebenaran maka apapun bisa kita lakukan. Ibumu salah karena dia meminta sesuatu diluar kendali istrimu, dan dia pantas akan hal itu. Jadi tidak ada yang perlu kau sesali, semua yang kau lakukan sudah benar dan sesuai dalam garisan takdir."
"Lalu sekarang apa yang harus kami lakukan?"
"Kebahagiaan itu akan segera menghampirimu yang mulia, dia akan segera hadir di antara kalian berdua."
"Benarkah pendeta?"
"Kau meragukan ucapanku yang mulia? Butuh bukti?"
"Tidak, tidak, aku percaya padamu."
"Saat ini istrimu sedang sakit kan?"
Raja Andrian mengangguk.
"Panas di sekujur tubuhnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
AMBARAWA
FantasyAkankah cinta harus berakhir lantaran maut yang memisahkan antara sepasang kekasih yang memang ditakdirkan untuk hidup bersama? Bagaimana menurutmu? Menurut sebagian orang, kematian mungkin merupakan akhir dari segalanya, namun ada juga yang percaya...
