"Jangan mendiamiku seperti ini Dira, aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padamu, jujur aku tidak tau. Jika aku bertanya apakah aku berbuat salah padamu, pasti aku akan kembali membuatmu marah, benar kan? Jadi tolong beritahukan padaku apa yang salah, jangan mendiamiku seperti ini, apa kau tidak menyayangiku lagi? Aku sudah jauh-jauh datang kemari hanya untukmu, hanya untuk dirimu." ucap Pangeran Andrian yang saat ini tengah duduk bersama istrinya.
Bagaimana Pangeran Andrian bisa menemukan Putri Andira? Bukankan tadi ia sedang berbicara dengan ayah mertuanya? Jawabannya karena ibunda Putri Andira lah yang membawanya menemui Putri Andira.
Tanpa berniat menjawab, Putri Andira malah tetap diam membisu.
Melihat tingkah anak-anak yang baru menginjak dewasa itu membuat Ratu Reista yang merupakan ibunda dari Putri Andira tersenyum.
"Ketahuilah pangeran, Andira akan bersikap seperti itu hanya ketika ada yang akan menemuinya." ucapnya.
Mendengar itu Pangeran Andrian kebingungan, ia tidak mengerti apa yang ibu mertuanya katakan.
Sambil mengerutkan keningnya, ia pun bertanya "Tamu siapa bunda?"
Tepat ketika Pangeran Andrian mengatakan hal tersebut, Putri Andira mendadak langsung pergi meninggalkan ruangan ibundanya.
"Dira, mau kemana lagi? Dira tunggu aku, maaf, maafkan aku." teriak Pangeran Andrian tanpa mendapat perhatian dari istrinya.
"Duduklah disini Andrian, akan kuceritakan apa yang terjadi pada Andira." ucap Ratu Reista.
Pangeran Andrian pun duduk di samping ibu mertuanya, sesekali ia menarik nafasnya dalam-dalam karena tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya. Jujur sama sekali ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan istrinya, ia sama sekali tidak tau kenapa istrinya bersikap seperti itu padanya. Ini baru pertama kali ia mengenal secara dekat seorang gadis, dan sama sekali ia dibuat terkejut dengan perubahan sikap Putri Andira yang berubah-ubah.
"Dengarkan baik-baik Andrian, seorang gadis akan selalu berubah-ubah dengan sikapnya, apalagi ketika menjelang hari datang bulannya. Melihat kepolosanmu dari tadi membuatku semakin yakin bahwa kau sangat jarang berinteraksi secara dekat dengan seorang gadis." ucap Ratu Reista.
Pangeran Andrian sedikit mencerna apa yang baru saja ibu mertuanya katakan, sedikit demi sedikit ia mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi pada sang istri.
"Jadi ketika para wanita akan datang bulan, mereka akan seperti itu bunda?" tanya Pangeran Andrian.
"Tidak semua wanita Andrian, tapi Dira pasti akan seperti itu."
"Lalu apa yang harus aku lakukan supaya Dira tidak marah padaku bunda?"
"Dia tidak marah pada siapapun Andrian, dia hanya marah terhadap dirinya sendiri."
"Marah terhadap dirinya sendiri? Maksudnya bunda?"
"Biasanya Dira ketika akan datang bulan, perutnya akan sakit Andrian, pinggangnya akan nyeri, dan karena itu semua tubuhnya pun akan gelisah."
"Apa yang harus aku lakukan bunda?"
"Bawakan dia setangkai bunga lily, dia sangat menyukai bunga itu."
"Dimana aku bisa mendapatkan bunga lily itu?"
"Ambillah di taman kerajaan Andrian, disana ada."
Pangeran Andrian pun mengangguk disertai senyuman manisnya yang kembali terukir di bibirnya.
Pangeran Andrian berjalan menyusuri lorong-lorong Kerajaan Astrata untuk mengambil setangkai bunga lily untuk sang istri. Dengan bantuan para pengawal kerajaan, akhirnya Pangeran Andrian pun sampai di taman kerajaan. Disana ia melihat ada banyak jenis bunga dan juga pohon-pohon yang sangat indah. Ia mencari-cari dimanakan letak bunga lily itu berada, ia melihat kesana kemari hingga pada akhirnya matanya tertuju pada pohon yang berbunga putih itu. Ia bahagia karena ia menemukan bunga kesukaan istrinya.
Sejak saat itulah Pangeran Andrian menciptakan taman khusus istrinya di Kerajaan Ambarawa, taman itu hanya berisi bunga lily saja, dan hanya dengan persetujuan istrinya lah semua orang bisa memasukinya.
•••••
Flashback off
Putri Adara membawa Pangeran Elbrata menuju sungai di dekat perbatasan antara Kerajaan Ambarawa dan Kerajaan Adyapura. Sungai itu adalah sungai tragis yang tidak pernah dikunjungi siapapun sejak terjadinya peristiwa tragis antara Pangeran Adikara dan Putri Adisti.
"Dimana ini Dara? Kau membawaku kemana?" ucap Pangeran Elbrata yang penuh kebingungan dengan tempat yang baru saja ia datangi.
"Kau melupakan tempat ini El?" ucap Dara memastikan.
Pangeran Elbrata hanya mengangguk seraya menatap kesana kemari seluruh area sungai.
Sungai itu terlihat sangat menyeramkan, seperti tidak ada sedikitpun tanda-tanda kehidupan didalamnya. Dari saking menyeramkannya, sinar matahari pun terlihat enggan untuk masuk menyinarinya. Bahkan awan pun tak terlihat disini, diganti oleh pohon besar dengan ranting-ranting yang menutupi awan di atas sungai itu.
"Aku merasa tidak nyaman disini Dara, ayo kita kembali ke kerajaan saja." ucap Pangeran Elbrata yang merasa ada sesuatu yang tidak menyenangkan pernah terjadi disini.
Tak menghiraukan ucapan dari sahabatnya, Putri Adara terus melangkahkan kakinya memasuki area sungai itu dengan memegang tangan Pangeran Elbrata. Sedangkan Pangeran Elbrata terus saja mengoceh untuk kembali ke kerajaan.
Sampai pada akhirnya mereka pun sampai di pinggiran sungai, keduanya sama-sama berdiri tepat di atas batu besar yang ada di pinggiran sungai. Konon katanya batu itu adalah tempat persinggahan antara Pangeran Adikara dengan Putri Adisti sebelum mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Batu itu kini dipenuhi oleh semak-semak belukar, bahkan semua area dekat sungai tertutupi oleh semak belukar itu. Namun anehnya, walaupun seluruh area sungai dipenuhi oleh semak belukar, tidak satupun ada daun yang jatuh di sungai tersebut. Sungai itu tetap bersih, jernih, bahkan terlihat sangat indah disertai air terjun di ujung sungainya.
"Sungainya tetap sama kan El, indah, jernih, dan tetap menjadi favoritku sampai saat ini." ucap Putri Adara seraya menatap aliran sungai yang kembali menyentuh hatinya.
Pangeran Elbrata dibuat semakin kebingungan oleh apa yang baru saja diucapkan oleh Putri Adara, bahkan untuk sedikitpun saja Pangeran Elbrata tidak mengerti.
"Apa yang sedang kau bicarakan Dara? Kapan kita pernah kemari? Bukankah ini yang pertama kalinya kau mengajakku kemari?" ucap Pangeran Elbrata.
Putri Adara hanya tersenyum, sejujurnya ia juga tidak mengerti apa yang baru saja ia ucapkan dari tadi. Ia merasa ada yang sedang mengendalikan dirinya sedari tadi, bahkan ketika sampai di sungai ini pun sempat Putri Adara dibuat kebingungan.
Sesaat hujan tiba-tiba turun membasahi seluruh area sungai, termasuk Pangeran Elbrata dan juga Putri Adara. Tepat ketika hujan itu turun, keduanya menjadi tak sadarkan diri.
"Bangunlah Alana, bangunlah." ucap sosok pemuda yang tak lain adalah Pangeran Elbrata yang saat ini tubuhnya diambil alih oleh Pangeran Adikara.
Putri Adara pun terbangun karena merasa terpanggil, saat ini tubuhnya pun diambil oleh oleh sosok gadis yang bernama Putri Alana.
"Kau kemari untuk kembali menemuiku?"
Putri Alana hanya mengulas senyuman.
"Kau tidak tau apa yang terjadi setelah kepergianmu waktu itu, bahkan tidak ada seorang pun yang tau, hanya aku yang tau Adikara, hanya aku."
"Kau masih mencintaiku?"
"Sejak kapan cintaku memudar?"
Pangeran Adikara hanya terdiam.
"Selama seratus tahun lebih cinta itu tetap ada, bahkan sedikitpun tidak pernah berkurang. Aku tetap seorang gadis yang sama, yang cintanya tidak pernah mencapai titik kesempurnaan. Aku gadis yang sama, yang cintanya tak pernah mendapat imbalan dari yang dicintainya. Aku tetap gadis yang sama Adikara, aku tetap gadis yang sama."
"Kenapa kau begitu mencintaiku seperti ini Alana? Bahkan saat kau sendiri tau aku mencintai orang lain, kau tetap masih mencintaiku. Bagaimana mungkin ada cinta seperti itu?"
Putri Alana hanya tersenyum.
•••••
See you next time 🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
AMBARAWA
FantasiAkankah cinta harus berakhir lantaran maut yang memisahkan antara sepasang kekasih yang memang ditakdirkan untuk hidup bersama? Bagaimana menurutmu? Menurut sebagian orang, kematian mungkin merupakan akhir dari segalanya, namun ada juga yang percaya...
