Cerita

154 14 4
                                        

Kedua pangeran itu akhirnya sampai di Kerajaan Ambarawa tepat ketika semua warga istana akan segera tidur. Ratu Andira yang sejak tadi merasa khawatir dengan sang anak yang tak kunjung pulang, akhirnya merasa tenang ketika melihat gerbang terbuka dan memperlihatkan pangerannya sudah pulang dengan selamat.

"Kau dari mana saja El, hari sudah larut seperti ini dan kau baru saja kembali ke kerajaan? Apa yang terjadi? Apa semuanya baik-baik saja?" ucap Ratu Andira seraya memeluk putra semata wayangnya.

Pangeran Elbrata tersenyum, memang seperti inilah reaksi ibundanya ketika dirinya pulang terlalu larut malam.

"Aku baik-baik saja bunda, tidak ada hal buruk yang terjadi padaku." ucap Pangeran Elbrata seraya mencium kening ibundanya.

Ratu Andira akhirnya bernapas lega, ia bahagia karena tidak terjadi apa-apa pada anaknya.

"Ayah belum kembali?" tanya Pangeran Elbrata yang menanyakan sang ayah.

Raja Andrian saat ini tidak ada di kerajaan, ia sedang ada pertemuan di kerajaan kerabat, karena itulah Ratu Andira semakin khawatir ketika mengetahui bahwa putranya belum sampai di kerajaan padahal waktu sudah larut.

"Belum, mungkin besok."

Mata Ratu Andira kini beralih ke seorang pemuda di samping Pangeran Elbrata, sesekali ia menatap pemuda itu dengan penuh kebingungan, ia merasa ada banyak kemiripan antara pemuda itu dengan putranya sendiri. Bahkan nalurinya sebagai ibu pun mengatakan bahwa pemuda itu juga seperti anaknya sendiri.

"Ini siapa El" tanya Ratu Andira.

Pangeran Antareja tersenyum, "Salam hormat yang mulia Ratu Andira, saya Antareja dari Kerajaan Alaska."

Mendengar nama Kerajaan Alaska disebut membuat Ratu Andira kembali mengingat masa kecilnya, ia kembali mencerna-cerna ingatan masa kecil yang begitu lucu dengan sahabatnya. Putri Gayatri, seorang putri kecil cantik yang merupakan sahabat Ratu Andira sejak kecil. Namun keduanya berpisah dan mulai jarang bertemu ketika Putri Gayatri menikah. Selain itu, jarak antara Kerajaan Ambarawa dan juga Kerajaan Alaska juga sangat jauh, karena itulah mereka berdua jarang sekali untuk bertemu.

"Kau pasti putra Gayatri kan? Matamu mirip sekali dengannya." ucap Ratu Andira.

"Benar yang mulia."

"Kau sudah besar ternyata, aku masih ingat ketika pertama kali menggendongmu saat kau masih sangat kecil waktu itu. Aku tidak menyangka bahwa ucapan kami berdua saat kecil menjadi kenyataan, wajahmu dengan El sangat mirip, dan ternyata dugaanku benar bahwa kau adalah putra dari sahabat kecilku. Apa kabar kalian disana?"

"Baik yang mulia, kami semua baik-baik saja. Aku kemari untuk mengantarkan undangan khusus untuk kalian disini, tadinya mau dikirimkan ke pengawal istana, tapi bunda melarang dan menyuruhku untuk mengantarkannya langsung kemari."

"Biar besok saja, sekarang kalian berdua beristirahat saja dulu ya, hari juga sudah sangat larut."

"Baik yang mulia."

"El, antarkan Pangeran Antareja ke ruangan tamu ya, minta pengawal untuk menyiapkan tempat senyaman mungkin untuknya." ucap Ratu Andira kepada Pangeran Elbrata.

"Tidak usah bunda, Pangeran Antareja akan tinggal di ruanganku." kini Pangeran Elbrata yang bersuara.

"Jangan El, bagaimana jika Pangeran Antareja merasa tidak nyaman?"

"Mohon maaf sebelumnya yang mulia Ratu Andira, bagi saya akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri jika saya bisa menghabiskan malam ini bersama Pangeran Elbrata di ruangannya. Setidaknya saya bisa berbincang-bincang lebih dengannya, saya akan merasa punya teman disini yang mulia, apakah boleh?"

"Baiklah jika itu maumu pangeran, jika nanti ada sesuatu yang kamu mau bisa langsung panggil pengawal atau katakan pada El ya."

"Baik yang mulia."

"Aku ini sahabat ibundamu pangeran, jadi rasanya tidak pantas jika kau memanggilku dengan sebutan seperti itu. Bagiku kau sama seperti El, jadi panggil aku seperti ketika memanggil ibundamu."

"Baik bunda."

Ratu Andira tersenyum dan pergi meninggalkan kedua pangeran di gerbang istana, sedangkan kedua pangeran itu saling bertatapan dan langsung pergi menuju ruangan Pangeran Elbrata.

"Dipikir-pikir bagaimana bisa wajah kita mirip, apa kita sebenarnya kembar beda orang tua?" ucap Pangeran Elbrata yang membuat Pangeran Antareja tertawa.

"Entahlah, aku juga tidak tau. Mungkin bunda kita sama-sama menyukai wajah ini, karena itulah kita berdua terlihat sangat mirip." ucap Pangeran Antareja.

"Segera bersihkan dirimu, setelah itu ada yang ingin kubahas denganmu, tapi jika kau merasa lelah mungkin besok saja."

"Tidak pangeran, kau bisa bahas nanti setelah aku membersihkan diri."

Pangeran Elbrata mengangguk.

*****

Setelah kedua pangeran membersihkan diri masing-masing, kini keduanya sama-sama duduk di teras ruangan Pangeran Elbrata seraya melihat ribuan bintang yang seakan-akan menyiratkan ribuan kenangan akan kehidupan yang terus berjalan setiap malamnya.

"Kau suka bintang pangeran?" tanya Pangeran Antareja yang melihat Pangeran Elbrata duduk melamun dengan tatapannya yang tak pernah berpaling dari ribuan bintang.

Ucapan Pangeran Antareja membuat Pangeran Elbrata tersenyum dengan tatapan yang tetap menatap indahnya ribuan bintang yang menghiasi langit malam.

"Bukankah tatapan mataku sudah menunjukkan betapa aku sangat menyukai dunia malam pangeran? Dibanding dunia di pagi hari, aku lebih menyukai nuansa di malam hari, tenang, damai, dan sepi bisa kudapati di saat seperti ini. Kau sendiri? Apa kau juga menyukai dunia malam sepertiku?"

"Sesekali ikutlah ke Kerajaan Alaska bersamaku pangeran, disana akan kutunjukkan ribuan kertas yang sudah kuiisi bait-bait rasa didalamnya."

Mendengar itu membuat sedikit harapan Pangeran Elbrata hancur, ia merasa bahwa Pangeran Antareja sudah memiliki kekasih. Padahal niat awal Pangeran Elbrata ingin sahabatnya dinikahi oleh Pangeran Antareja itu sendiri, tapi dilihat dari apa yang disampaikan oleh Pangeran Antareja membuatnya ragu dengan harapannya sendiri.

"Apa yang kau pikirkan pangeran? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" ucap Pangeran Antareja yang melihat Pangeran Elbrata yang tiba-tiba terdiam ketika mendengar ucapannya.

"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

"Tentu saja pangeran, apa yang ingin kau tanyakan?"

"Apa kau sudah mempunyai seorang kekasih?"

Pangeran Antareja tersenyum, "Kekasih?" ucapnya.

Pangeran Elbrata mengangguk.

"Aku belum siap untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis pangeran, lagi pula aku juga belum menemukan gadis impianku. Entahlah, banyak gadis yang menawarkan diri untuk bisa menjalin hubungan denganku, tapi rasanya hatiku sama sekali tak tersentuh, bahkan rasanya hatiku tertahan oleh sesuatu yang membuatku sama sekali tidak tertarik pada mereka." ucap Pangeran Antareja.

"Tapi kau pernah mencintai seseorang?"

Pangeran Antareja menggelengkan kepalanya.

"Boleh aku menceritakan sebuah kisah cinta padamu pangeran?"

"Tentu, aku akan mendengarkannya dengan sebaik mungkin."

"Cerita ini dimulai dengan dua sosok anak kecil laki-laki dan juga perempuan, mereka sudah bersahabat sejak kecil. Keduanya saling dekat, bahkan melebihi ikatan persaudaraan itu sendiri. Singkat cerita waktu berjalan begitu cepat, mereka pun kini beranjak dewasa. Siapa sangka sang gadis sangat mencintai sahabatnya, namun takdir tidak berpihak pada mereka. Sang pemuda terlahir untuk mengakhiri kutukan bersama kekasihnya sejak seratus tahun yang lalu, dan itu membuktikan bahwasanya pemuda itu ditakdirkan bukan dengan sahabatnya, melainkan dengan sosok gadis lain. Dan kau tau apa yang sahabatnya lakukan ketika cintanya tak mendapat balasan?"

"Dia memberontak?"

•••••

13 Agustus 2025

AMBARAWACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang