"Kita mau kemana ayah?" ucap Pangeran Elbrata yang sedari tadi kebingungan mengikuti sang ayah yang tak kunjung sampai di tempat yang mereka tuju.
"Sebentar lagi kita akan sampai El, sabarlah."
Melihat kereta kuda yang memasuki wilayah Kerajaan Arstrata membuat Pangeran Elbrata semakin kebingungan, apa yang akan ia dapatkan di kerajaan ibundanya ini?
"Kerajaan bunda ayah? apa yang akan kita lakukan disini?" ucapnya.
"Kau ingin tau yang sebenarnya kan?"
Pangeran Elbrata mengangguk.
"Jadi diamlah, sebentar lagi kita akan sampai."
"Hmm"
Beberapa saat kemudian mereka sampai di suatu tempat, tempat itu tak lain adalah rumah pendeta yang waktu itu menikahkan Raja Andrian dan juga Ratu Andira.
"Disini ayah? Aku akan mengetahui yang sebenarnya di tempat ini?" ucap Pangeran Elbrata.
Raja Andrian mengangguk.
"Kalian sudah datang? Masuklah." ucap seseorang dibalik pintu.
"Ayo El."
Raja Andrian dan Pangeran Elbrata pun memasuki rumah kecil milik pendeta itu.
"Salam hormat pendeta."
"Salam hormat."
Ucap Raja Andrian dan Pangeran Elbrata seraya menyatukan kedua tangannya dan sedikit menunduk.
"Kau tetaplah raja yang dermawan yang mulia, dan kulihat putramu akan mewarisi seluruh kedermawananmu itu." ucap pendeta itu seraya tersenyum.
"Siapa aku yang sebenarnya pendeta?" ucap Pangeran Elbrata.
"Tunggu sebentar pemuda tampan, aku masih menunggu seseorang kemari."
"Siapa?"
"Suruhanku"
Tak lama ada seekor burung merpati masuk ke rumah pendeta itu, entah apa yang burung itu sampaikan, tapi yang jelas dia membawa kabar untuk disampaikan.
Sesaat setelahnya, pendeta itu pun tersenyum.
"Ini akan menjadi awal dari sejarah baru yang tak akan pernah dilupakan oleh semua orang yang mulia, penyempurnaan cinta akan tiba sebentar lagi, dan kita adalah orang terpilih yang bisa menyaksikan penyempurnaan cinta sejati itu." ucap pendeta.
"Apa yang kau maksud pendeta?" tanya Raja Andrian.
"Gadis itu sudah mengetahui yang sebenarnya yang mulia, dia sudah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, dan kini giliran Pangeran Elbrata yang juga harus mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya."
Pangeran Elbrata semakin dibuat kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh pendeta di hadapannya.
"Dimanakah gadis itu pendeta?"
"Mohon maaf yang mulia, berkenaan dengan itu saya tidak bisa memberitahukannya. Nanti akan tiba waktunya untuk yang mulia mengetahui sendiri siapakah gadis itu dan dimana ia tinggal. Untuk saat ini saya hanya bisa memberitahukan bahwa gadis itu sudah mengetahui yang sebenarnya, dan mungkin dalam waktu terdekat dia akan menemui pujaan hatinya setelah beratus-ratus tahun lamanya. Karena itulah kini saatnya Pangeran Elbrata juga harus mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya."
Raja Andrian menggaguk mengiyakan.
"El, kau ingin tau siapa dirimu yang sebenarnya kan? Dengarkan apa yang dikatakan pendeta ini dengan baik-baik."
Pangeran Elbrata mengangguk.
"Kau adalah seorang pangeran yang beruntung, kau berhasil melewati ujian cintamu pangeran." ucap pendeta itu.
"Ujian cinta?" tanya Pangeran Elbrata kebingungan.
"Iya ujian cinta, kau berhasil melewatinya. Mungkin saat ini kau tidak akan mengingatnya, tapi setelah kau mendengarkan semuanya maka kau akan kembali mengingatnya. Kau adalah seorang pemuda dengan pemilik jiwa yang bernama Pangeran Adikara, kau adalah kekasih sejati dari Putri Adisti, ka-" ucapan pendeta itu terpotong.
"Pangeran Adikara? Putri Adisti? Apa maksudmu pendeta?"
"Kau adalah Pangeran Adikara yang terlahir kembali pangeran, kau kembali terlahir untuk menyempurnakan kisah cintamu dengan Putri Adisti. Seratus dua puluh tahun yang lalu kau dikutuk kehilangan seluruh ingatanmu, karena itulah sampai saat ini kau masih belum bisa mengingat secara jelas kejadian yang sebenarnya. Tak hanya dirimu, kekasihmu pun juga tidak mengingat kejadian itu secara jelas. Kalian berdua sama-sama dikutuk kehilangan ingatan hingga saat ini. Kutukan itu tidak akan menghilang sampai kalian berdua bertemu kembali. Kau ingat dulu ketika bertemu seorang gadis di pasar?"
"Bertemu gadis di pasar?"
"Iya pangeran, dulu kau pernah tak sadarkan diri ketika bertemu dengan seorang gadis di pasar, kau tidak mengingatnya?"
"Oh iya pendeta, aku ingat. Aku pernah bertemu seorang gadis asing di pasar, tapi hatiku merasa bahwa aku sudah mengenali gadis itu sejak lama."
Pendeta itu tersenyum, "Dialah kekasihmu pangeran, dia adalah Putri Adisti yang terlahir kembali. Dia pergi ke pasar memang untuk menemuimu, hanya saja dia tidak mengerti kenapa dia harus datang menemuimu sedangkan dia sendiri tidak tau siapa dirimu yang sebenarnya."
"Benarkah pendeta?"
Pendeta itu mengangguk.
"Benarkan ucapan ku ayah, aku ada keterikatan dengan gadis itu, tapi ayah tidak sedikitpun mempercayaiku." ucap Pangeran Elbrata kepada Raja Andrian.
"Sekarang dimana gadis itu pendeta?" ucap Pangeran Elbrata.
"Kau tidak usah terburu-buru pangeran, sebentar lagi akan tiba waktunya."
"Tapi kenapa aku belum bisa mengingat secara jelas pendeta, bahkan disaat kau mengatakan bahwa aku adalah Pangeran Adikara yang terlahir kembali, kenapa aku belum bisa mengingatnya?"
"Ingatanmu akan kembali sempurna hanya ketika kau kembali bertemu dengan gadis itu pangeran, disaat itulah ingatan kalian berdua akan kembali."
"Kapan aku akan bertemu dengannya lagi?"
"Bulan depan"
"Benarkah pendeta?"
Pendeta itu hanya mengangguk.
Mendengar itu, Pangeran Elbrata menjadi tidak sabar untuk menemui gadis yang dimaksud oleh pendeta itu. Namun tak bisa ia pungkiri, ia masih memikirkan sahabatnya. Ia tidak rela jika harus bahagia diatas penderitaan sahabatnya.
"Boleh aku bertanya tentang hal lain pendeta?" ucap Pangeran Elbrata.
"Tentu saja pangeran, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apakah adil rasanya ketika berbahagia diatas penderitaan orang lain?"
"Kau sedang membicarakan Putri Adara?" ucap pendeta itu yang membuat Pangeran Elbrata sedikit terkejut.
"Bagaimana mungkin kau bisa tau yang kumaksud pendeta?" ucap Pangeran Elbrata yang sedikit kebingungan.
Pendeta itu hanya tersenyum.
"Setiap manusia, hewan, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya memiliki takdirnya masing-masing pangeran. Mereka hidup untuk menjalani takdir mereka masing-masing. Bagimu mungkin tidak adil ketika kau harus berbahagia diatas penderitaannya, tapi percayalah setiap manusia akan mencapai titik kebahagiaan ketika mereka berhasil melewati luka yang ada di tubuh mereka. Sama halnya denganmu saat ini, kau tidak akan langsung mencapai titik kebahagiaan yang saat ini kau rasakan jika dulu kau tidak bisa melewati ujian cintamu bukan? Maka sama seperti itu, Putri Adara akan mencapai titik kebahagiaannya jika ia berhasil melewati luka yang saat ini sedang ia rasakan."
"Tapi aku tidak bisa melihatnya tersakiti karena aku pendeta, dia sahabat kecilku, bagaimana mungkin aku akan bahagia di saat dia sedang terluka?"
"Jangan khawatir pangeran, akan kupastikan bulan depan Putri Adara akan baik-baik saja, dia akan bertemu sosok pria baru yang akan mengubah seluruh kisah cintanya. Percayalah, kau dan Putri Adara akan sama-sama bahagia di kehidupan ini."
•••••
See you next time 🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
AMBARAWA
FantasiAkankah cinta harus berakhir lantaran maut yang memisahkan antara sepasang kekasih yang memang ditakdirkan untuk hidup bersama? Bagaimana menurutmu? Menurut sebagian orang, kematian mungkin merupakan akhir dari segalanya, namun ada juga yang percaya...
