"Sedalam apa cintamu pada gadis itu?" ucap Putri Arinda setelah sekian lama keduanya saling terdiam seraya menatap aliran sungai.
Mendengar itu, Pangeran Adikara menoleh ke arah Putri Arinda.
"Kau menanyakan pertanyaan yang bahkan kau tau sendiri jawabannya, apa itu tidak menyakitimu?" ucapnya.
Putri Arinda hanya tersenyum.
"Aku memang tau pangeran, tapi aku hanya ingin mengetahuinya langsung darimu."
"Kau gadis yang aneh Arinda, kau tau ini akan sangat menyakitimu, tapi kau tetap ingin mendengarnya."
"Ayo gambarkan secara jelas padaku bagaimana cintamu pada gadis itu, aku ingin tau apa itu cinta dari sudut pandangmu."
"Cinta?"
Putri Arinda menganggukkan kepalanya.
"Apa yang harus kukatakan tentang cinta yang bahkan tingkatannya lebih rendah dari cinta seseorang yang menanyakannya?"
Mendengar itu, Putri Arinda sedikit kebingungan.
"Cinta lebih rendah dari cinta seseorang yang menanyakannya? Apa maksudmu pangeran?"
"Cintaku tidak ada apa-apanya dibanding cintamu Arinda, cintamu adalah cinta tingkatan tertinggi, lalu bagaimana mungkin kau menanyakan arti cinta pada seseorang yang memiliki cinta yang jauh rendah dibawah cintamu?"
"Dalam cinta tidak ada tingkatannya pangeran, lalu bagaimana mungkin kau mengatakan bahwa cintaku adalah cinta yang tinggi?"
"Tidak ada yang bisa menandingi cinta tanpa balasan Arinda, cintamu murni, dan itu tidak memiliki campuran noda dari siapapun. Cintamu hanya kau yang bisa merasakannya, dan dengan ketulusanmu itu, kau membuktikan bahwa cintaku tidak akan sebanding dengan cintamu. Kau rela melihatku bersama gadis lain dan kau tidak memberontak, itu adalah kekuatan cinta yang tinggi Arinda. Kau tersenyum ketika aku mencintai gadis lain dan kau tetap mencintaiku, itu adalah kekuatan cinta yang tinggi Arinda. Bahkan kau turut serta ingin menyatukan cintaku dengan gadis lain tanpa berniat menyempurnakan cintamu sendiri, itu adalah kekuatan cinta tertinggi Arinda. Bagaimana mungkin aku harus kembali menjelaskan tentang apa itu cinta padamu? Antara aku dan gadis yang kucintai belum tentu memiliki hati setulus dirimu. Jika ditanya apakah aku akan rela melihat seseorang yang kucintai mencintai orang lain, tentu aku tidak akan rela. Aku tidak akan tetap mengulas senyuman ketika aku tau seseorang yang kucintai mencintai orang lain Arinda, bahkan aku tidak akan sekuat dirimu untuk membantu menyatukan cinta seseorang yang kucintai. Aku tidak akan rela melihat seseorang yang kucintai bersama orang lain, aku tidak akan menerimanya Arinda. Karena itu aku merasa kagum atas cintamu, bahkan aku sangat menghormatinya."
"Pernahkah kau mendengar bahwa puncak tertinggi mencintai adalah ketika kau merasa bahagia ketika cintamu mendapat kebahagiaan pangeran?"
Pangeran Adikara menggelengkan kepalanya.
"Cinta itu tidak pernah menyakiti seorang pecinta pangeran, hanya saja mungkin sebagian orang salah mengartikan apa itu cinta. Cinta itu ada bukan hanya untuk mendapat balasan, tidak seperti itu. Bagimu mungkin aku akan tersakiti ketika aku melihatmu dengan gadis lain, tapi nyatanya aku bahagia disini."
"Bagaimana mungkin?"
"Itu mungkin pangeran, karena aku tidak melihat kau bersama gadis lain, melainkan aku melihat diriku sendiri yang ada bersamamu. Aku tidak melihatmu mencintai gadis lain pangeran, tapi aku melihat kau mencintaiku. Bagaimana mungkin aku membenci sosok gadis yang kau cintai, sedangkan aku melihat gadis itu adalah aku sendiri? Kemanapun aku melihat, aku hanya melihat aku dan dirimu, lalu bagaimana mungkin kau mengatakan bahwa cinta menyakitiku? Tidak pangeran, cintaku tidak pernah menyakitiku. Kau mengatakan bahwa cintaku tidak mendapat balasan, tapi bagiku cintaku mendapat balasan pangeran. Jika cintaku tidak mendapat balasan, bagaimana mungkin aku melihat dirimu memelukku seraya berkata bahwa kau sangat mencintaiku? Aku tau ini hanya terjadi pada penglihatanku saja, dan bahkan aku juga tau kalau ini tidak nyata. Tapi bagiku dengan itu saja sudah lebih dari cukup pangeran, itu sudah cukup bagiku. Kau boleh mengatakan bahwa aku sudah dibutakan oleh cintaku, tapi aku sangat bahagia dengan cintaku. Aku tidak tau sampai kapan labirin cinta ini akan menyelimutiku, yang kutau aku sangat bahagia dengan cintaku pangeran."
"Apa ini Arinda, kau kembali membuatku kagum atas cintamu."
Putri Arinda hanya terdiam tak bersuara.
"Apa kau bisa mencintai orang lain dengan cinta seperti ini?"
Putri Arinda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau tau apa yang saat ini selalu kudoakan?"
"Apa?"
"Cintamu"
"Kenapa dengan cintaku?"
"Selama seratus tahun lebih aku selalu berdoa supaya Tuhan segera menyatukanku dengan cintaku, tapi mulai saat ini aku akan berdoa atas cintamu Arinda. Aku akan meminta padaNya agar cinta baru segera menghampirimu, aku akan selalu berdoa supaya cinta baru itu membawamu pada kesempurnaan cinta yang indah. Itu yang akan selalu menjadi doaku saat ini, dan Tuhan harus mendengar doaku. Jika Tuhan menyempurnakan cintaku di kehidupan yang saat ini, maka Tuhan juga harus memberikan cinta baru untukmu, dan Dia harus juga menyempurnakan cinta itu untukmu."
Putri Arinda tersenyum, "Sekarang coba katakan padaku pangeran, bagaimana mungkin aku tidak mencintai seseorang yang sudah mendoakanku?"
"Aku tau Arinda, tapi kau tidak bisa berhenti disini. Aku tidak ingin kau seperti ini, aku ingin kau melangkah maju dan kembali menikmati kehidupan baru ini. Jika aku tidak bisa membalas cintamu, setidaknya izinkan aku untuk bisa mengantarkanmu menuju cinta yang akan menyempurnakanmu. Aku akan bersumpah padamu Arinda, aku tidak akan menikah sebelum kau juga menikah. Masih ingat dengan janji yang dibuat Elbrata pada Adara? Itu adalah aku yang memintanya. Sebelum kau mendapatkan cinta baru dalam hidupmu, maka selama itu pula aku tidak akan menyempurnakan cintaku."
"Tidak pangeran, jangan berbicara seperti itu. Aku dulu mengira bahwa Elbrata hanya bercanda saja ketika ia mengucapkan janji itu padaku, aku tidak mengiyakan janji itu. Aku tidak mau menjadi penghalang bagimu untuk menuju kesempurnaan cintamu pangeran, aku tidak mau pangeran. Aku terlahir kembali bukan untuk menjadi penghambat cintamu, tapi aku terlahir untuk membantumu menuju cintamu. Jangan bersumpah yang bahkan tidak tau sampai kapan sumpah itu bisa tertepati pangeran, jangan."
"Akan tertepati Arinda, janji maupun sumpahku akan kutepati, aku tidak akan bermain-main dengan itu. Aku percaya Tuhan membawamu terlahir kembali bersamaku bukan hanya untuk membantuku mencapai kesempurnaan cintaku, tapi aku yakin ada maksud lain dibalik kelahiranmu saat ini. Jika di kehidupan saat ini aku akan mencapai puncak kebahagiaan setelah seratus lamanya dibuat menderita, maka kau pun sama. Kau akan mencapai puncak kebahagiaan itu di kehidupan saat ini Arinda, karena kau juga sama-sama diperlakukan tidak adil. Kita akan sama-sama mencapai puncak kebahagiaan itu bersama-sama, aku percaya itu."
"Apapun garis takdir Tuhan pangeran, aku akan menerimanya."
Keduanya kembali terdiam, seraya menatap aliran sungai yang menyejukkan hati keduanya. Satu sisi ada cinta yang akan segera menuju kesempurnaan cintanya, dan disisi lain ada cinta yang tak mengharap balasan namun memiliki kekuatan cinta yang tak terbatas. Akankah keduanya bisa menyempurnakan cinta mereka masing-masing, ataukah hanya salah satu cinta diantara mereka yang akan mencapai titik kesempurnaan cinta?
•••••
See you next time 🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
AMBARAWA
FantasiAkankah cinta harus berakhir lantaran maut yang memisahkan antara sepasang kekasih yang memang ditakdirkan untuk hidup bersama? Bagaimana menurutmu? Menurut sebagian orang, kematian mungkin merupakan akhir dari segalanya, namun ada juga yang percaya...
