Hari sudah menjelang sore, sinar matahari mulai meredup, dan awan mulai terlihat sedikit demi sedikit menggelap. Pangeran Elbrata terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sakit, sehingga menyebabkannya sulit untuk membangunkan dirinya.
"Bunda" ucap Pangeran Elbrata yang memanggil ibundanya untuk segera menghampirinya, namun ia lupa bahwasanya saat ini ia sedang tidak ada di kerajaan.
Dirasa tidak mendapat jawaban, Pangeran Elbrata pun membuka matanya. Saat itulah ia ingat bahwasanya ia tidak ada di kerajaan, melainkan ada di sungai bersama Putri Adara yang saat ini tertidur tepat disampingnya.
"Bangun Dara, hari sudah sore, kita harus segera kembali ke kerajaan." ucap Pangeran Elbrata seraya membangunkan Putri Adara.
Putri Adara pun terbangun, ia duduk dan menarik nafasnya begitu dalam. Dilihatnya area sekitar, lalu menatap wajah seorang pria yang sangat ia cintai dihadapanya. Wajah yang menyiratkan akan rasa khawatir dan rasa takut itu membuatnya sadar bahwa saat ini ia bangun sebagai Putri Adara, bukan sebagai Putri Arinda.
"Kepalaku sakit El." ucapnya dengan tangan memegang kepalanya yang terasa nyeri.
"Saat aku terbangun, kepalaku juga sakit Dara. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi dalam mimpiku, tapi aku tidak mengingatnya satupun. Aku merasa memiliki ikatan yang erat dengan sungai ini, aku merasa seolah-olah sungai ini menjadi tempat yang begitu sakral bagiku. Entah apa yang terjadi aku tidak tau, yang kutahu ada sesuatu yang tidak kuingat di tempat ini Dara."
'Tenanglah El, kau akan segera mengingatnya.' batin Putri Adara.
"Ayo pulang, kerajaan pasti sudah menunggu kita." ucap Putri Adara seraya bangun dari duduknya dengan tangan yang tetap memegang kepalanya.
Melihat kondisi sahabatnya, membuat Pangeran Elbrata merasa sangat khawatir dengan Putri Adara. "Tetaplah bersamaku Dara, kau tidak bisa membawa kuda dengan keadaan yang seperti ini." ucapnya.
"Tidak El, aku bisa."
"Jangan membantahku Dara, tunggu disini." ucap Pangeran Elbrata lalu segera mengambil kudanya yang ada di luar area sungai.
Sesampainya di pinggir sungai, Pangeran Elbrata langsung menggendong Putri Adara menaiki kudanya. Setelah dirasa Putri Adara sudah nyaman, Pangeran Elbrata langsung menaiki kudanya. Putri Adara duduk di depan Pangeran Elbrata, tangannya dililitkan ke tubuh Pangeran Elbrata agar ia tidak terjatuh.
*****
"Kenapa dengan Dara El?" ucap Ratu Dayana, ibunda dari Putri Adara yang melihat Putri Adara tak sadarkan diri dalam gendongan Pangeran Elbrata.
Saat ini keduanya ada di Kerajaan Alaska, kerajaan Putri Adara. Kenapa keduanya berada di Kerajaan Alaska dan bukannya di Kerajaan Ambarawa? Itu dikarenakan Putri Adara yang memintanya untuk pulang ke kerajaannya.
"Mungkin Dara kelelahan Bunda, aku akan membawanya ke ruangannya untuk beristirahat." ucap Pangeran Elbrata yang mendapat anggukan dari Ratu Dayana.
Pangeran Elbrata pun berjalan untuk menuju ruangan sahabatnya, sesampainya ia langsung menidurkan Putri Adara. Melihat sahabatnya yang tertidur, Pangeran Elbrata pun berniat untuk kembali ke Kerajaan Ambarawa.
"Aku akan segera menemukan cinta baru untukmu Dara, aku berjanji." ucapnya seraya mencium kening Putri Adara.
Setelah itu, Pangeran Elbrata langsung pergi meninggalkan ruangan sahabatnya. Sedangkan disisi lain Putri Adara mengulas senyumannya, "Kau pria yang sangat baik El, aku bahagia karena aku mencintai pria sebaik dirimu." ucapnya.
*****
Dengan hentakan keras, Pangeran Elbrata kembali memacu kudanya menyusuri lorong-lorong hutan. Pikirannya hanya dipenuhi oleh sahabatnya, yaitu Putri Adara. Ia berpikir keras bahwasanya ia harus segera menemukan pria yang baik untuk sahabatnya sesegera mungkin. Pangeran Elbrata tidak mau seseorang yang sangat ia sayangi merasa tersakiti ketika melihatnya harus bersanding dengan wanita lain, ia tidak mau itu.
"Tuhan, rasanya tidak adil jika Kau menghilangkan kutukanku namun Kau mengutuk Dara seperti diriku. Aku tau setiap manusia memiliki takdirnya masing-masing, namun akan sangat tidak adil jika takdir Dara seperti ini. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan bahagia ketika melihat kehidupan sahabatku tersiska karena diriku? Tidak Tuhan, Kau tidak bisa melakukan hal ini padanya. Setidaknya jika memang takdir Dara tidak bersamaku, maka jangan tumbuhkan cinta untukku dalam hatinya. Tapi apa nyatanya? Kau menumbuhkan rasa itu dalam hatinya hingga dengan kerendahan hatinya, ia rela untuk melihat orang yang disayanginya menikah dengan wanita lain, bahkan walaupun ia tau bahwa hal itu akan sangat menyakiti hatinya. Itu akan sangat menyakitinya, dan aku tidak bisa melihatnya tersakiti karena diriku." ucap Pangeran Elbrata dengan pikiran yang dipenuhi oleh Putri Adara.
Dengan hentakan kuda yang begitu cepat dan pikiran yang hanya terfokus pada sahabatnya, membuat Pangeran Elbrata lupa bahwasanya ia juga harus fokus menyusuri lorong-lorong hutan yang ia lalui. Namun karena keteledorannya, Pangeran Elbrata tanpa sadar hampir menabrak seorang pemuda dengan kereta kuda di depannya, dan hal itu membuatnya terjatuh dari kudanya.
Pemuda itu segera turun dari kereta kudanya dan membantu Pangeran Elbrata untuk bangun. Jika dilihat dari cara pemuda itu berpenampilan, sangat mencerminkan bahwasanya pemuda itu adalah seorang pangeran dari salah satu kerajaan. Parasnya bisa dikatakan hampir menyetarai Pangeran Elbrata, karena itu Pangeran Elbrata sedikit kagum pada pemuda itu.
"Apa kau baik-baik saja pangeran?" ucap pemuda itu seraya membantu Pangeran Elbrata duduk.
"Kau tau aku seorang pangeran?" kini Pangeran Elbrata yang bertanya.
Pemuda itu tersenyum, "Bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu?"
Melihat senyuman dari pemuda dihadapannya itu membuat Pangeran Elbrata merasa bahwa saat ini ia sedang bercermin, "Senyumanmu terlihat sama seperti senyumanku, siapa dirimu?"
"Aku Antareja, dari Kerajaan Alaska. Aku sangat menyukaimu pangeran, bahkan dari saking sukanya padamu, banyak orang di kerajaanku mengatakan bahwa aku mirip denganmu."
"Bagaimana kau tau bahwa aku adalah pangeran yang kamu sukai? Bukankah ini baru pertama kalinya kita bertemu?"
"Bagimu mungkin iya, tapi bagiku tidak. Aku satu asrama denganmu ketika kau belajar tentang persenjataan waktu itu, hanya saja kita tidak sekelompok, jadi wajar saja jika kau tidak mengenaliku. Tapi walaupun demikian, aku tau tentangmu. Bagaimana mungkin? Itu karena kelompokku dulu sering membicarakan tentang dirimu, dan karena itu aku menjadi sangat menyukai kegigihan dan juga keberanianmu pangeran."
"Kerajaan Alaska bukankah ada di ujung selatan? Tapi bagaimana mungkin kau ada disini? Apa yang kau lakukan?"
"Bunda memintaku untuk menemui yang mulia Ratu Andira di Kerajaan Ambarawa, aku sangat bahagia karena aku tau bahwa aku akan segera bertemu denganmu kembali, tapi siapa sangka kita malah bertemu lebih dulu disini."
Mendengar nama sang ibunda disebut, membuat Pangeran Elbrata sedikit khawatir, "Apa ada sesuatu yang penting? Apa semuanya baik-baik saja?"
Pangeran Andika tersenyum, "Semuanya baik-baik saja pangeran, aku kemari hanya untuk mengantarkan undangan khusus untuk seluruh keluargamu."
"Undangan?" Pangeran Elbrata sedikit kebingungan.
"Nanti kau akan tau sendiri, hari sudah sangat larut, kurasa kita harus segera menuju kerajaanmu."
Pangeran Elbrata mengangguk, keduanya pun kembali menyusuri jalan untuk menuju Kerajaan Ambarawa. Kali ini Pangeran Elbrata tidak menunggangi kuda, melainkan ia turut serta menaiki kereta kuda milik Pangeran Antareja.
•••••
See you next time 🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
AMBARAWA
FantasyAkankah cinta harus berakhir lantaran maut yang memisahkan antara sepasang kekasih yang memang ditakdirkan untuk hidup bersama? Bagaimana menurutmu? Menurut sebagian orang, kematian mungkin merupakan akhir dari segalanya, namun ada juga yang percaya...
