"Bukan seperti itu Dara." ucap Pangeran Elbrata.
Putri Adara kembali tersenyum kala mendengar ucapan sahabatnya yang masih belum mengakui akan kebohongannya.
"Ku akui kau tidak ingin menyakiti hatiku dengan mengatakan dia gadis yang lebih cantik dariku kan El? Karena itu kau mengatakan bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menandingi kecantikanku, benar kan? Tapi jangan lupa El, aku ini sahabatmu, aku tau semuanya tentang dirimu, lalu bagaimana bisa kau berpikir untuk membohongiku?" ucapnya.
"Sudah cukup kau tersakiti olehku Dara, akan jadi pria seperti apa aku ini jika kembali menyakiti hati sahabatku sendiri? Aku tau hati wanita tidak sekuat itu untuk menerima suatu hal yang nantinya akan menyakitkan, karena itu aku tidak akan mengulang hal yang sama dengan menyakiti hati sahabatku." ucap Pangeran Elbrata.
"Dengan membohongiku El?"
"Aku tidak membohongimu Dara, kau ini cantik, kau sangat cantik. Lalu bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku membohongimu? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa cantik itu memiliki makna yang berbeda-beda? Cantik tidak hanya memiliki satu patokan kan? Jika kau mengatakan bahwa sahabatku cantik, yang lain bisa apa?"
"Bahkan jika gadis itu lebih cantik dariku?"
"Tidak pernah ada istilah bahwa wanita tidak cantik Dara, semua wanita cantik dengan patokannya masing-masing."
"Hmm baiklah."
"Sekarang ikutlah bersamaku, aku akan membawamu ke suatu tempat yang tidak akan kau lupakan seumur hidupmu. Ini akan menjadi kenangan indah yang kuberikan padamu, dan kuharap nantinya kau akan menyukainya." ucap Pangeran Elbrata mengalihkan pembicaraan.
"Kemana?"
"Rahasia"
Pangeran Elbrata pun beranjak dari tempat tidurnya, lalu ia memegang tangan Putri Adara seraya berjalan meninggalkan ruangannya. Namun sebelum mereka benar-benar keluar dari ruangan itu, Raja Andrian dan Ratu Andira pun terlihat memasuki ruangan Pangeran Elbrata.
"Kalian mau kemana?" ucap Ratu Andira yang melihat Pangeran Elbrata dan Putri Adara yang sedang berjalan meninggalkan ruangan.
"Kami akan segera kembali Bunda." ucap Pangeran Elbrata seraya mengedipkan sebelah matanya.
Ratu Andira yang melihat itu langsung mengerti bahwa Pangeran Elbrata ingin menghibur Putri Adara.
Pangeran Elbrata pun kembali melanjutkan perjalanannya meninggalkan ruangannya seraya memegang tangan Putri Adara untuk mengikutinya. Sedangkan Putri Adara tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dan akan dibawa kemana dirinya oleh sahabatnya.
"Mereka mau kemana?" ucap Raja Andrian.
"Aku juga tidak mengetahuinya." kini Ratu Andira yang berbicara.
"Jangan berbohong Dira, jika tid-" ucapan Raja Andrian terpotong kala mendapat tatapan maut dari istrinya.
"Jika tidak apa? Kau akan marah padaku? Kau akan memarahiku? Kau tidak sayang lagi padaku? Kau tidak mencintaiku lagi? Ka-" kini ucapan Ratu Andira juga terpotong.
"Ya Tuhan, kapan aku berkata seperti itu hmm? Aku hanya menanyakan kemana Elbrata pergi membawa Adara Dira, hanya itu. Lalu ada apa denganmu? Kurasa kau butuh seorang tabib sekarang juga." ucap Raja Andrian seraya membenarkan uraian rambut istrinya.
"Jangan menyentuh rambutku."
"Hey ada apa ini? Kau kedatangan tamu?"
Mendapat pertanyaan dari suaminya, Ratu Andira tak berniat untuk menjawab, melainkan dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMBARAWA
FantasíaAkankah cinta harus berakhir lantaran maut yang memisahkan antara sepasang kekasih yang memang ditakdirkan untuk hidup bersama? Bagaimana menurutmu? Menurut sebagian orang, kematian mungkin merupakan akhir dari segalanya, namun ada juga yang percaya...
