Catatan Kedua puluh sembilan

616 56 6
                                    

Sebelum baca yuk follow dulu akun trulyzen kalo udah pencet bintangnya terus spam komen yaa~

Siap? Tarik napas dulu dan happy reading!

▪︎▪︎◇▪︎▪

Jeno menatap langit-langit kamar selepas kepergian Jaemin dan Nara, kenyataan yang ia hadapi lebih menyakitkan dari apa yang dibayangkan. Meskipun ia tidak tahu secara detail rencana apa yang dilakukan Jaemin dan Nara namun mendengar fakta bahwa mereka berdua saling mengenal dan sedekat itu kemudian merencanakan sesuatu di belakang Jeno terasa sangat menusuk relung hatinya.

Apakah sebenarnya Nara tidak menaruh perasaan pada Jeno?

Ataukah Jeno yang terlalu percaya diri jika Nara juga memiliki perasaan yang sama dengan nya?

Kemungkinan lain, jika Nara mendekati Jeno hanya sebatas kasihan melihat kondisinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Jeno, semakin lama terasa semakin pening.

Jeno memegang kepalanya sangat keras, kemudian memukul-mukulnya, "harusnya kau sadar Jung! Mereka semua hanya kasihan karena melihat keadaanmu yang menyedihkan seperti ini!" Jeno berbicara kepada dirinya sendiri.

Jeno memalingkan pandangan nya, ia melihat kedua kaki nya yang masih belum bisa digerakkan. "Semua gara-gara kaki sialan ini!" Jeno berteriak kemudian di iringi dengan tangisan sendu. "Kau itu cacat! Tidak sepantasnya kau menginginkan gadis seperti Nara bersanding denganmu, Jung!" Jeno terus meneriaki dirinya sendiri.

Jeno menggelengkan kepala, kemudian ia kembali berteriak. "Kau itu tidak punya masa depan, Jung! Jangan menyeret orang lain untuk menderita bersamamu!"

Jeno meraih barang-barang yang bisa ia jangkau dengan kedua tangannya, buku catatan, tempat makan, nampan, vas bunga, ponsel, berserakan di lantai. Jeno kemudian mencoba untuk bangun, sekuat tenaga ia menggerakkan kakinya, "lihat! Bahkan untuk bangun saja kau tak bisa, Jung!" Pada akhirnya Jeno terjatuh ke lantai.

Telapak tangan dan kakinya mengenai pecahan vas bunga yang tercecer di lantai, darah segar keluar menyentuh lantai. Tangis Jeno semakin pecah seiring dengan berjalannya waktu, pemikiran-pemikiran mengenai dirinya yang lumpuh, orang-orang yang hanya kasihan karena keadaannya yang menyedihkan dan pemikiran mengenai dirinya yang tak punya masa depan terus saja berputar di kepala sampai seorang wanita masuk ke dalam ruangan.

"Ya Tuhan! Jeno!" Wanita itu meletakkan barang-barang yang dibawanya, kemudian melesat menolong Jeno yang berada di lantai dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Wanita itu memencet tombol emergency meminta bantuan, kemudian memeluk Jeno dengan erat. "Apa yang terjadi sayang? Kenapa kau bisa di bawah sini."

Tangisan Jeno belum juga mereda, napasnya kini tersengal-sengal.

"Bangun dulu, nenek bantu." Jessica berusaha menolong Jeno, namun tangisan Jeno terdengar semakin parau. Jessica melihat telapak tangan dan kaki Jeno yang terluka, "ya Tuhan, kenapa bisa sampai seperti ini?"

Jeno menangis di pelukan Jessica.

Beberapa perawat dan seorang dokter dan beberapa saat kemudian, Jeno yang sudah bisa di bujuk kemudian di pindahkan kembali ke ranjang. Luka Jeno segera di obati oleh dokter, sementara Jessica dan perawat membereskan barang-barang yang berserakan di lantai.

Setelah luka Jeno di obati, dokter menjelaskan bahwa luka yang ada di telapak tangan dan kakinya tidak parah, selanjutnya akan di tangani langsung oleh dokter Seo.

Jessica mendekati cucunya, "apa yang terjadi pada Jeno? Jeno bisa menceritakan pada nenek, sayang."

Jeno tak merespons sama sekali, tatapannya kosong. "Jeno tadi jatuh waktu mau bangun? Jeno bosen ya, ingin pergi ke suatu tempat?" Jessica masih berusaha melempar pertanyaan berharap cucunya mau menjawab atau setidaknya memberikan respons.

Dad, I'm Dying | JENO ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang