Catatan Keempat

1.3K 114 6
                                    

Waktu seolah berhenti berputar bersamaan pula dengan udara yang terasa tersekat tak berhembus sebagaimana mestinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Waktu seolah berhenti berputar bersamaan pula dengan udara yang terasa tersekat tak berhembus sebagaimana mestinya. Jaehyun tercekat suaranya tertahan di tenggorokan, tubuhnya terpaku dan selama sepersekian detik menegang menyadari anak semata wayangnya terjatuh. Ia membuka pintu mobil dan berlari secepat mungkin menuju depan gerbang sekolah. Belum ada lima menit sejak Jeno turun dari mobil berpamitan untuk masuk ke sekolah.

Seketika beberapa siswa berkerumun di sekitar Jeno. Namun tak ada satu pun yang menolong Jeno, malah kebanyakan dari mereka hanya menonton tanpa melakukan tindakan apa pun. Jaehyun membantu Jeno bangun dan merapikan beberapa barang Jeno yang berserakan, hatinya terkoyak saat menyadari dagu Jeno berlumuran darah membuat seragamnya memerah. Melepas dasi yang terikat di leher, Jaehyun menggunakannya untuk menutup luka Jeno.

Tanpa pikir panjang, Jaehyun membawa Jeno menuju klinik kesehatan di sekolah untuk mendapatkan pertolongan pertama. Tangan kanan Jaehyun memegangi dagu Jeno menahan darah yang keluar dengan dasinya. Ia mengucap sumpah serapah dalam hatinya, mengapa lokasi klinik sangat jauh dari gerbang. Butuh waktu lima menit lebih untuk keduanya sampai.

Jaehyun bisa melihat dengan jelas Jeno menahan rasa sakit dan perih secara bersamaan sangat kapas dengan cairan antiseptic menyentuh luka nya, luka nya harus dibersihkan lebih dahulu agar tidak terjadi infeksi. Jaehyun benar-benar tak tega melihat Jeno yang mendapatkan jahitan tanpa anestesi. Menurut penuturan dokter, Jeno mendapatkan tiga jahitan di dagu. Setelah luka Jeno tertutup dengan perban, Jaehyun keluar dari bilik untuk berbincang tentang keadaan Jeno.

Jeno masih bisa merasakan sakit walaupun lukanya sudah tertutup perban, meskipun tak sesakit saat ia mendapat jahitan tanpa anestesi yang sampai membuatnya menggertakkan gigi. Sungguh, Jeno tak mengerti dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tak menggunakan tangannya untuk menopang tubuhnya saat terjatuh jadi, setidaknya ketika terjatuh bukan dagunya terlebih dahulu yang menyentuh jalan beraspal di gerbang sekolah tadi.

Apakah refleks tubuhku sangat buruk?

Sejauh ini, Jeno adalah salah satu siswa yang memiliki nilai olahraga paling baik di sekolahnya bahkan ia sampai masuk ke dalam tim atletik sekolah dan bergabung ke dalam club dance. Tidak mungkin ia bisa mencapai hal tersebut jika refleks tubuhnya buruk.

Mungkin karena terlalu tiba-tiba sehingga aku tak sempat menopang tubuh dengan kedua tangan ku.

Jeno masih terus memikirkannya bahkan sampai Jaehyun kembali, Jaehyun membawa satu stel seragam baru untuk ganti Jeno karena seragam yang ia gunakan berlumuran darah. Setelahnya, ia membawa tas Jeno dan mengajak Jeno untuk pergi ke ruang kepala sekolah. Jeno melewati ujian satu mata pelajaran dan Jaehyun hendak meminta keringanan kepada pihak sekolah agar Jeno bisa mengikuti ujian susulan. Jeno duduk di depan ruang kepala sekolah sementara Jaehyun masih berbincang dengan kepala sekolah dan beberapa guru terkait.

Ayah, maaf, Jeno membuat ayah terlambat ke kantor hari ini.

Jeno menghembuskan nafas kasar merutuki dirinya sendiri yang terus menerus membuat masalah dan merepotkan ayahnya.

Dad, I'm Dying | JENO ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang