Catatan Keenam

1.1K 90 13
                                    

Beberapa detik yang lalu, Jeno baru saja ingin memejamkan mata namun urung ia lakukan. Ia tergoda dengan purnama yang entah mengapa begitu indah jika di amati lebih jauh. Jeno mengambil hoodie yang tergantung di belakang pintu kemudian mengenakannya. Berjalan-jalan di sekitar rumah bukan ide yang buruk bukan?

Jeno menuruni tangga, di lihatnya Jaehyun sedang menonton televisi di temani satu gelas kopi dan sepiring biskuit memalingkan pandangannya menatap ke arah Jeno. "Kau mau kemana, Jen?" 

Langkah kaki Jeno terhenti, bertepatan dengan matanya bertatapan dengan Jaehyun. "Hanya menghirup udara segar."

Jaehyun melirik jam dinding yang terpasang tak jauh dari tempatnya dan memekik kaget saat jarum jam menunjuk angka sebelas. "Selarut ini?" Tanya Jaehyun yang kemudian diangguki oleh Jeno. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Tidak. Hanya saja langit malam ini cukup bagus dan sayang jika di lewatkan. Aku hanya berjalan-jalan di sekitar kompleks, yah."

"Jam 12, ayah tunggu sampai jam 12." Jeno tidak menjawab. Ia berlalu melewati Jaehyun yang melanjutkan menonton acara tengah malam. 

Dibalik hoodie hitamnya, Jeno bersenandung sembari terus menarik kakinya tanpa arah. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku, sesekali ia mengamati sekelilingnya. Rumah-rumah di daerahnya terbilang begitu rapi kebanyakan darinya bergaya modern dengan warna netral seperti putih, krem, cokelat dan abu-abu. 

Sejak lahir, Jeno sudah tinggal di daerah ini baik dirinya ataupun Jaehyun tak ada niatan pindah dari sini. Selain karena lingkungan di sini nyaman dan memiliki akses ke banyak tempat seperti pusat perbelanjaan, sekolah, pusat kota, di sinilah kenangan masa kecilnya terukir. Jeno tahu, di sini pula banyak kenangan ayahnya dengan mendiang ibunya dan sudah jelas sulit bagi ayahnya untuk pindah.

Pandangan Jeno tertuju pada sebuah rumah di persimpangan, seingatnya itu adalah rumah kosong lantas mengapa kini ada sebuah mobil terparkir di depannya. Apakah ada yang menempati rumah itu?

Sontak kedua mata Jeno membulat dan langkahnya terhenti, ketika melihat seseorang keluar dari rumah itu dan berdiri di balkon. Keterkejutan Jeno tak berhenti sampai di situ, karena setelahnya matanya beradu pandangan dengannya.

Apakah takdir memang sedang berpihak padaku?

Jeno menurunkan pandangannya saat jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Saat ia kembali melihat ke balkon, orang itu sudah tak ada di sana. Jeno melihat sekeliling mencari keberadaannya. Mungkin dia akan pergi tidur.

Jeno kembali mengayunkan kakinya bermaksud menuju sebuah cafe yang berada di blok sebelah. Satu gelas kopi sepertinya lumayan.

Lonceng berbunyi tatkala Jeno membuka pintu caffe, tak terlalu rame pengunjung hanya ada beberapa orang mungkin karena sudah terlalu malam. Jeno berjalan masuk berniat untuk memesan, ia melihat menu dan matanya tertuju pada sebuah menu kemudian ia memutuskan untuk memesannya.

"Cheesecake satu dan ice americano sa---"

"Ice Americano nya dua, yang satu double shoot."

Jeno menoleh, mendapati seseorang yang tengah tersenyum kepada pelayan caffe setelah memesan. Tangannya terulur untuk memberikan kartu untuk membayar pesanannya. "Sekalian dengan cheesecake nya."

"Tidak perlu---"

Gadis itu mengambil pesanannya dan juga pesanan Jeno. "Terima kasih." Ucapnya setelah pelayan memberikan pesanan.

Gadis itu tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Jeno dan duduk di salah meja di sudut caffe. Jeno mengekor di belakangnya, keduanya duduk berhadapan. Meja mereka tepat berada di sebelah jendela sehingga keduanya bisa memandang ke luar, pemandangan jalan kompleks menjadi pemandangan mereka.

Dad, I'm Dying | JENO ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang