Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Azura menatap tubuhnya yang terbalut dres hitam yang di berikan mamanya. Katanya Zero juga menggunakan jas hitam juga. Satu minggu penantian, hari ini, tepat tanggal 1 September, Azura menjadi sangat tidak sabar untuk acara nanti.
Menarik salah satu laci meja riasnya, di dalamnya ada dua pasang pistol dan beberapa peluru. Di raihnya pistol-pistol itu ditatapnya intens dan tersenyum.
"Seandainya aku bisa membawa katana, maka bukan kalian yang berada di sini," kata Azura berkata seperti pistol-pistol itu adalah benda yang dapat mendengarnya.
Mengisi semua pistol dengan peluru dan diselipkan dalam dresnya. Di ambilnya sebuah tas kecil berwarna yang senada dengan dresnya, Azura mengisi semua peluru itu ke dalam tas dan beberapa suntik yang sudah berisi. Kalau gadis lain maka make-up yang berada di sana, tapi ini Azura, benda seperti itu tak dibutuhkan.
Azura menatap sekali lagi penampilannya. "Oke, dah cantik."
Tanpa berlama-lama dia turun ke bawah, dan sampai di sana terlihatlah Alasya, Leonardo, dan Zero yang memakai pakaian serba hitam.
"Ini kita mau ngelayat, Mah? Pake baju hitam semua?" tanya Azura heran sambil terkekeh.
"Bukan mau ngelayat Azura, memang dresscodenya warna hitam. Nggak tau deh," kata Alasya.
"Kan memang mau ngelayat," timpal Zero dan hanya dimengerti oleh Azura.
"Nggak lah Zero, kamu ini."
"Sudah, ayo kita segera ke sana," potong Leonardo. Kalau tidak dihentikan maka perdebatan itu akan terus dilanjutkan.
Beberapa menit setelah berkendara akhirnya kedua mobil yang dikendarai oleh Leonardo dan Zero sampai di hotel P'Wings tempat di mana acara itu dilangsungkan. Mereka membawa dua mobil.
Zero menatap Azura yang cantik malam ini dengan dres hitamnya. "Sudah siap?"
Azura tersenyum miring. "Sejak kapan aku tak siap? Aku yang sangat-sangat menunggu saat ini."
"Jika kau butuhkan, aku sudah membawakan katanamu. Ada di bagasi mobil."
Azura menoleh. "Pengertian sekali kau. Tadinya aku hanya akan menggunakan pistol dan suntikan racun saja. Terimakasih saudara kembarku~" kata Azura terkekeh. Zero membalasnya dengan tersenyum.
Keduanya keluar dari dalam mobil dan langsung disoroti oleh kamera. Azura dan Zero berdiri dengan anggun dan gagah. Azura merangkul lengan Zero dan berjalan bersama ke dalam.
"Akh! Mereka sungguh menyiksa mataku!" dengus Zero setelah masuk ke dalam.
"Haha, jangankan kau, rasanya mataku ingin copot dari tempatnya."
______
Azura merasa malas dengan acara yang diselenggarakan. Setelah memberi selamat pada Lenia dia duduk sendiri di sudut ruangan yang sebenarnya untuk memantau. Sedangkan Zero sudah di posisinya tapi sedari tadi dia tidak melihat laki-laki itu.