Kisah remaja yang penuh rencana. Namun, semua yang direncanakan tidak berjalan sesuai rencana. Mempertaruhkan cinta dan perasaan demi sebuah cita-cita. Akankah, Raen mampu bertahan dengan permintaan Elizier untuk menunggunya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_________ ____
Kisah percintaan bukan sesuatu yang penting, kata sebagaian orang yang pernah terluka karenanya. Tapi tidak tepat, kalau orang hidup tanpa sebuah cinta yang tumbuh dalam hatinya. Memeluk tubuhnya erat, Raen kembali terngiang kegiatan Clara dan Galan di atas tempat tidurnya.
Menggeleng kuat, Raen berusaha untuk tidak membangunkan ingatan buruknya yang telah lama sirna.
Sebelum menemukan perasaan cinta di masa SMA. Raen benar-benar terpuruk, dia bahkan terkesan tidak peduli dengan percintaan. Bukan karena dia menyukai seseorang secara diam-diam. Tetapi perlakuan buruk yang diterimanya saat sekolah menengah pertama. Kakak kelasnya menyukainya dan memaksanya untuk melakukan sesuatu yang terlarang.
"Kalau lu suka sama gua. Lu harus buktiin! Gua lakuin ini karena gua mau buktiin ke lu, kalau gua suka. Jadi jangan menghindar." Tubuh yang terpojok dan terhimpit. Menjadikan Raen diam membeku dengan tubuh yang bergetar. Dia ingin melawan, tapi ketakutan menghentikan langkahnya. "GA BISA!" Suara itu bukan milik Raen.Tetapi telah membantunya selamat dari kungkungan kakak kelasnya.
"Hari ini lu selamat, Raen." Semenjak hari itu, dia Raen mengurung dia, dan hanya berteman dengan orang yang memang dekat dengannya. Dia tidak mau interaksi dengan banyak orang dan menghabiskan waktunya di rumah. Buruknya lagi tidak ada yang mengetahui kelakuan bejat kakak kelasnya sampai dia lulus.
Persepsi buruknya kian lama berubah. Ayahnya menunjukkan bahwa pria baik masih ada. Pemandangan dan harapan yang mampu menguatkan tekad Raen untuk bertahan.
Bukti kesempurnaan hidupnya dalam semu. Tidak pernah dia temukan pada dirinya sendiri.
Tok tok tok
"Ada apa?"
Menunjukkan bawaannya tanpa menjawab. Entah apa yang membawa Elizier mendatanginya. Setidaknya, Raen menyadari dirinya tidak sendirian saat ini.
Mencium bau menyengat di kamar hotel Raen. Mengingatkan Elizier pada pertanyaan konyol yang dilayangkan wanita di hadapannya beberapa jam yang lalu. "Tatap mata gua, Re! Apa pacar lu yang ngelakuin itu? Diakan orangnya yang buat lu nanya pertanyaan konyol itu?"
Menyadari dirinya yang memaksakan jawaban. Elizier mensejajarkan tubuhnya di hasapan Raen. "Gapapa, dia berarti bukan yang terbaik. Lu mau pindah kamar? Gua bantu. Ayo beresin dulu bajunya."
"Satu hari lagi gua di sini. Apa boleh di rumah lu?"
"Ya, boleh. Papa pasti senang. Ada banyak hal yang ingin gua perlihatkan di rumah."