Kisah remaja yang penuh rencana. Namun, semua yang direncanakan tidak berjalan sesuai rencana. Mempertaruhkan cinta dan perasaan demi sebuah cita-cita. Akankah, Raen mampu bertahan dengan permintaan Elizier untuk menunggunya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_________ ____
Berhasil keluar dari percakapan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Raen kembali dikejutkan oleh Clara. Sahabatnya tersebut membawa banyak alkohol. Wajahnya juga tampak lesu dan berantakkan. "Lu kenapa? Please, gua belum tidur nyenyak."
"Hanya bersenang-senang."
"Jangan buat gua mikir di tengah kalutnya otak gua. Lu pasti ada masalahkan? Jangan bilang ini ada hubungannya sama Jevan?"
Clara memeluk sahabatnya erat. Berapa banyak orang yang bisa ditipu, tetap saja Raen menyadarinya dan langsung memahami apa yang terjadi. "Re, gua tuh udah bilang sejak awal. Kalau gua bukan perempuan baik yang bisa buat dia bangga. I mean, reputasi dan tinta hitam gua terlalu banyak di belakang. Walaupun semua orang lupa itu, tapi suatu saat kenyataan itu akan kembali munculkan?"
"Ya terus kenapa? Apa hubungannya sama Jevan. Diakan udah nerima lu!"
"Waktu gua nginggung soal pernikahan. Dia bilang begitu. Gua bukan wanita baik, dan ga mungkin dia pilih buat jadi pendamping. Jadi selama ini gua cuman jalang? Bahkan lebih buruk. Gua ga dibayar untuk itu."
Hiks hiks hiks
Mengelap air matanya yang jatuh. Clara memegang kedua bahu sahabatnya. "Dia lagi pulang kerja. Dia pasti bercandakan? Aslinya dia ga niat begitukan?"
Raen sungguh buruk untuk berpikir baik saat ini. Pikirannya sangat rumit. Apalagi setelah bertemu dengan teman sepekerjaan Rafe yang mengatakan semuanya. Hanya menatap Clara tanpa berkata apapun. "Kalau itu yang lu percaya. Lakuin itu sampai akhir. Tapi gua sebagai sahabat lu, sangat amat ga mau liat lu sakit. Kalau dia ga cariin lu, jangan balik lagi ke dia ya!"
Air mata Clara semakin deras, dia tidak bisa menjauhi Jevan. Hubungan keduanya berjalan sangat baik tanpa pernah ada masalah hampir 4 tahun ini. Clara selalu membayangkan hari bahagianya dengan Jevan. Bagaimana dokter itu menjadi suami dan Ayah dari anak-anaknya. Tapi ternyata dia yang terlalu naif dan berharap.
"Gua ga layak buat siapapun!"
"Siapa yang bilang gitu? Banyak pria tulus di dunia ini. Lu harus percaya itu. Kita cari sama-sama!" Perkataan terakhir Raen membuar Clara terkekeh.
"Playgirl?"
"Wtf! Gua ga berpikir kayak gitu. Cuman gua akan bantu lu buat nyari pria itu."
"Now you better accompany me to go have fun, Re! You want right? Don't mind the clothes, I've brought them especially for you."