Kisah remaja yang penuh rencana. Namun, semua yang direncanakan tidak berjalan sesuai rencana. Mempertaruhkan cinta dan perasaan demi sebuah cita-cita. Akankah, Raen mampu bertahan dengan permintaan Elizier untuk menunggunya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_________ ____
Pusing kepala menjadi sapaan di pagi hari. Raen sudah di kamarnya dan di sebelahnya ada Clara yang masih teler. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Raen di tengah keadaannya memilih membersihkan diri dan mendatangi rumah kliennya.
"Gua berangkat dulu ya. Bye, broken girl!" Selesai bersiap, Raen bergegas berangkat ke rumah Asep. Menuju ke sana, Raen berharap kliennya tidak lagi menyinggung soal Rafe kembali.
Menarik nafas panjang, dengan langkah mantap Raen berangkat.
Di satu sisi ada sosok yang datang dengan senyum merekah menuju hotel.
Tok tok tok
Sudah 10 menit menunggu dibukakan oleh penghuni kamar. Dia masih terus tersenyum dan bersabar. Di telepon juga, tidak dibalas.
Terbuka kamar, dan menampakkan wajah kacau dan berantakkan dari sosok yang dikenalinya. Tanpa ragu wanita itu memeluknya erat dan membawanya masuk. "GUA HANCUR! Gua sakit. Apa gua sejelek itu? Apa lu juga jijik sama gua."
"Clara, lu mabuk!" Ketus Galan melepaskan pelukkan Clara. Dia menyadari jelas gelagat sahabat kekasihnya tersebut. Apalagi Clara hanya menggunakan pakaian dalam saja.
Pertama kali Galan melihat tubuh molek wanita tanpa busana di hadapannya langsung. Dia menggeram kesal, dan berusaha menepiskan pikiran buruknya. Tetapi, Clara bukanlah wanita yang dapat mengerti dengan mudah. Dia bahkan mendudukki pangkuannya. "Aahh" Ingin sekali Galan menghardik tubuhnya, karena berani mendesah atas perbuatan orang asing.
Suhu tubuh Galan memanas, detak jantungnya berpacu. Tatapannya sayu dan menggelap. "Clara, tolong berhenti ahhh" Lagi-lagi dia meleguh kenikmatan, dengan gerakkan pinggul Clara di atasnya.
"Raen bilang lu pria baik dan tulus. Gua mau tau apa lu bisa nerima gua atau enggak?!"
Mencium rakus bibir kekasih sahabatnya dengan rakus. Clara menyadari sesuatu bahwa ini salah. Tapi dia ingin melakukannya, pikirannya hanya tertuju pada sosok pria tulus yang dikatakan Raen.
Tidak bisa menolak sama sekali, Galan masuk ke permainan penuh dosa Clara yang salah besar. Namun, gerakkannya di luar kendalinya. Dia bahkan sekarang tengah memimpin pergerakkan.
Tangan Clara juga tidak diam. "I want you more, Galan!" Wanita itu dengan berani mengelus kemaluannya yang mulai mengembung.
"Ahhh"
Raen yang sudah sampai halte bus kembali menuju ke kamar hotelnya. Setelah berada di sana, dia melihat pintu hotelnya terbuka. Menampakkan hal yang tidak pernah dia duga.