Kisah remaja yang penuh rencana. Namun, semua yang direncanakan tidak berjalan sesuai rencana. Mempertaruhkan cinta dan perasaan demi sebuah cita-cita. Akankah, Raen mampu bertahan dengan permintaan Elizier untuk menunggunya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_________ ____
Pagi dini hari, Raen dikejutkan dengan permintaan salah satu kliennya yang terkesan dadakan. Ingin marah dan kesal, tetapi dia juga yang membutuhkan kehadiran kliennya tersebut. Dengan lapang dada dan berusaha menerimanya. Raen mengemasi pakaian dan bawaan yang harus dibawanya. "Jogjakarta? Kenapa jauh banget? Terus juga dadakan kayak gini? Heran. Gua tau dia kaya, tapi jangan buat gua kelabakan gini. Mau marah beneran!" Walaupun terus saja mengomel dan merutuki kliennya. Raen berhasil menyelesaikan packingnya 30 menit.
"Nangis aja dulu, tapi pasti akhirnya selesai." Mandi buru-buru dan bersiap menaikki pesawat pagi. Raen semakin dibuat tidak tenang. Dia bahkan berangkat dengan wajah bare face dengan ditemani Rex yang masih muka bantal.
Rex ingin sekali mengatakan, bahwa semalam juga Bang Rafe pulang ke Jogja. Tetapi, tidak ingin kembali melihat kakaknya sedih dan menggila karena berusaha sibuk untuk menutup sedih. Rex menyimpan rahasia itu sendirian.
"Bye, makasih!"
Sesampainya di pesawat, Raen menulis pesan untuk Galan dan meminta maaf karena pergi tiba-tiba. "Dia padahal baru pulang kemarin. Gua juga pergi sekarang." Tidak ingin terlihat aneh berbicara sendirian. Raen memilih untuk mencari dan melihat konsepnya untuk kliennya tersebut.
Kopi jadi salah satu penguatnya untuk tetap membuka mata. Hoodie yang menutupi wajahnya sungguh menjadikannya seperti sosok yang misterius ditambah dengan ipad yang dipegangnya.
Helaan nafas lega Raen udarakan, tidak peduli pendapat orang lain. Bahkan dia hanya tersenyum ke seseorang yang duduk di sampingnya.
Anak kecil yang sedaritadi menatap konsep juga ikut menatapnya. "Sebentar lagi sampai, duduklah!"
Benar perkataan Raen, pesawatnya akan take off. Dengan tangan yang menarik koper dan berusaha membaca pesan dikirim atasannya. Raen mengubah arah jalannya untuk mencari taksi. Hanya ada satu taksi di sana, tanpa berpikir panjang Raen membukanya dan menemukan penumpang lain di sana. Segera supir taksi tersebut meminta maaf kepadanya. Raen juga tentu minta maaf, karena ini salahnya tidak berhati-hati.
Berdiam diri menunggu kepergian taksi di hadapannya, di luar dugaan supir taksi tersebut malah menawarinya untuk ikut naik. "Mba, bisa ikut bergabung. Mas yang di dalam yang mengajaknya."
Berusaha mengetahui wajah pria yang baik hati menawarkannya. Raen akhirnya setuju, dia ingin segera bersiap menuju tempat pertemuan dengan kliennya. "Terima kasih banyak, Mas!" Mata Raen tercekat, ketika wajah itu juga menatapnya. Dia Elizier.
Mereka kembali bertemu, merasa suasana sangat canggung. Raen tersenyum kikuk, dan berusaha mencairkan suasana. "Ternyata lu. Katanya seminggu lagi. Tapi kayaknya ini belum seminggu dari kita ketemu di rumah sakit."