"Hin!" Tay berlari ke arah New yang kini tersungkur di lantai.
"Hin, kamu kenapa lagi?!" Tay menatap New dengan kesal.
New mendongak menatap Tay dengan wajah cemberut, "kakinya kesemutan, Te."
Tay mengerutkan keningnya. "Kesemutan??"
New mengangguk lemah, "kakinya gak berasa, kayaknya kesemutan. Trus gemetar. Liat deh."
Tay yang mendengar itu pun menjadi khawatir, "kakinya jangan ditekuk dong kalau kesemutan. Lurusin kaki kamu." Tay membantu New untuk meluruskan kakinya.
"Aw.." New meringis sambil menatap kakinya.
"Kenapa? Sakit?"
New menggeleng, "gak kok."
Tay menghela nafasnya lega dan memijat kaki New dengan pelan.
New yang melihat itu pun tersenyum. Tay memang selalu sigap dan perhatian seperti ini, bahkan sejak mereka belum menjalin hubungan. New merasa benar-benar beruntung memiliki Tay di sisinya.
New menarik dagu Tay agar Tay melihat ke arahnya.
"Kenapa, Hin—" ucapan Tay terhenti karna kini New mencium bibirnya.
Tay tersenyum dan memiringkan kepalanya.
Detik berikutnya Tay membuka mulutnya dan mulai melumat bibir New dengan pelan.
Tay selalu seperti ini. Sejak awal mereka menjalin hubungan, Tay tak pernah mencium New dengan brutal atau dengan nafsu. Tay selalu bersikap lembut, seakan-akan Tay tak ingin New terluka dan Tay hanya ingin menikmati momen saat itu.
New mengelus tengkuk leher Tay lembut dan membalas lumatan Tay dengan pelan juga.
Tay bergerak untuk menyesap bibir New, melumat bibir lembut New dengan pelan. Tay menikmati saat dirinya bersentuhan dengan New seperti ini. Tay bahagia dengan ciuman sederhana ini karna dengan ciuman ini, Tay bisa merasakan New masih bersama dengan dirinya.
New juga sangat menyukai ciumannya bersama Tay. Ciuman Tay terasa seperti Tay sangat mencintai nya, bukan sekedar nafsu. New bahkan kaget dengan kenyataan Tay tak menyentuhnya lebih dari sekedar ciuman setelah mereka empat bulan lebih menjalin hubungan.
Setelah melumat dan menyesap bibir New cukup lama, akhirnya perlahan Tay melepaskan ciumannya dan mengusap bibir New yang basah.
"Te.."
"Hm?"
"Gendong," ujar New dengan memanyunkan bibirnya dan mengeluarkan jurus andalannya yaitu, puppy eyes.
Tay yang melihat itu pun tersenyum. New sangat tahu kelemahan Tay.
"Kaki kamu masih kesemutan?"
"Masih lah, masa iya hilangnya secepat itu?" Balas New.
Tay mengecup bibir New singkat. Tay tahu jika New berbohong dan hanya ingin bermanja-manja saja dengannya.
"Ayo," ujar Tay akhirnya.
New tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Dengan sigap Tay menarik New ke dalam gendongannya, lalu membawa New menuju ruang makan.
"Tunggu sebentar. Aku masak sedikit lagi," ujar Tay saat New sudah duduk di kursi.
New mengangguk sebagai jawaban.
"Mau minum apa? Susu atau teh?" Tanya Tay.
"Susu aja deh."
Tay mengangguk mengerti dan melenggang pergi meninggalkan New.
Te, aku cinta kamu.
🕊️🕊️🕊️
KAMU SEDANG MEMBACA
POTRET HIN.. | End✓
Fanfiction⚠️ BOYSLOVE ⚠️ TAYNEW💙 Saat mulut ku tak mampu berucap, saat mata ku tak mampu menatap, kameraku terangkat untuk menjadikanmu bagian dari memori ku - Tay Tawan Vihokratana Saat kaki ku tak mampu melangkah, saat tubuhku telah membeku, kamu hadir unt...
