"Pak Bagas."
Pria itu mendongak. Mendapati atasannya berdiri di depan mejanya, Bagas tersenyum singkat. "Iya Pak Jaya?"
"Ndak istirahat? Ayo temani saya lunch."
"Oke Pak." Dengan itu, Bagas bangkit dari kursinya, mengambil dompet dan ponsel beserta botol minumnya, ia kemudian mengiringi langkah sang team leader dengan ringan.
"Four weeks look ahead plan-nya segera diserahkan ke saya. Yang kemarin direvisi waktu OMT meeting juga jangan lupa ya Pak Bagas." Jaya mengingatkan sang anak buah sembari sesekali membalas sapaan karyawan lain yang tengah menikmati waktu makan siang.
"Siap Pak." Bagas mengangguk mantap. Mengundang senyuman pria berusia empat puluh tahunan itu. Tangan keriputnya bergerak menepuk pelan punggung pria itu.
"Pak Bagas kok lemes banget hari ini. Sakit Pak?"
Sontak menggeleng guna mengelak, Bagas lalu memaksakan untuk tersenyum. "Enggak kok Pak."
"Kok lesu gitu sih wajahnya. Biasanya senyum sana-sini."
Memilih untuk tertawa, Bagas membalasnya dengan candaan. "Sekarang saya sudah ada buntutnya Pak. Kalau main senyum-senyum nanti yang di rumah cemburu."
Jaya pun sontak berpura-pura lupa dengan menepuk dahi kemudian tertawa. "Waduh, saya lupa! Pengantin baru emang beda ya auranya. Pak Bagas tambah ganteng, berseri-seri gini. Kayanya lagi anget-angetnya ya?"
Anget darimananya?
Sudah dua hari ini ia mendiami Sandra tanpa sebab pasti. Yang jelas hatinya begitu tidak menyukai tingkah istrinya di kamar malam itu. Ada yang salah pada dirinya. Dan Bagas kesusahan untuk mengeluarkan sumber masalah tersebut dari tubuhnya. Di satu sisi, ia tidak tega dengan Sandra yang menjadi korban ketidakjelasan sikapnya.
"Ya gitulah Pak."
"Ah saya tau lesu-lesu kaya gini. Lagi marahan ya Pak?"
Bagas enggan untuk bercerita, secara ini adalah rumah tangganya, dan ia tidak mau orang lain ikut campur di dalamnya apalagi mengulik informasi dari sana.
"Nggak kok Pak Jaya, ini saya kurang tidur saja. Jadinya hari ini lemes."
"Oh seperti itu toh."
Keduanya berakhir di kantin. Jaya nampak mengambil nampan dan mengisinya dengan jatah makan siang hari ini yang menunya nampak begitu menggoda: nasi, ayam bumbu laos, pilihan sayuran dan buah, serta yoghurt sebagai pencuci mulut. Pun Bagas juga melakukan hal yang sama, namun matanya mengincar lemari kaca pendingin berisi eskrim yang baru diisi penuh. Ia jadi teringat sang istri.
Ah...apakah istrinya sudah makan siang? Haruskah Bagas mengiriminya pesan seperti biasa?
"Pak Bagas, mau saya kasih nasihat pernikahan ndak? Mungkin memang terkesan menggurui, tapi ini adalah hal yang saya lakukan sama istri selama dua puluh tahun pernikahan. Inshaa Allah semuanya bisa diselesaikan, Pak." Jaya membuka obrolan kembali sembari mengaduk nasi dan lauknya—tentu setelah mereka telah menemukan tempat duduk yang nyaman di dekat jendela yang memperlihatkan tangki penyimpanan minyak dari kejauhan.
Bagas lantas mendongak. Langsung mengangguk mendengar tawaran tersebut, berharap masalah pada dirinya dapat ia selesaikan sesegera mungkin. "Wah. Saya butuh nasihat, Pak Jaya. Nasihat apapun saya terima."
Pria bertubuh sedikit gempal itu pun tersenyum. "Nikah itu Pak Bagas, adalah berinti pada musyawarah, komunikasi, saling menghargai, dan kesabaran. Wis, pokok empat itu kuncinya. Kalau Pak Bagas terapkan, inshaa Allah pernikahan Pak Bagas dan istri bisa langgeng."
KAMU SEDANG MEMBACA
Propinquity Effect: Bittersweet
RomanceTidak pernah terbayang di kala usia Sandra Amirah uang menginjak 21 tahun bahwa ia akan menikah. Bagas Adiguna hanya seorang biasa, murid sang ayahanda, yang kebetulan sering datang; yang kebetulan menjadi kesayangan ayahnya; yang kebetulan menaruh...
