31. Memberanikan Diri

80 8 0
                                        

Sandra menyikat giginya sekuat mungkin, takut-takut jika ia kembali merasakan rasa apek kambing di dalam mulut. Bahkan ia berkumur dengan cairan kumur sangat lama. Sandra mendadak parno.

Dari arah pintu kamar mandi yang terbuka, Bagas berdiri dengan pandangan khawatir. "Mas bawain jeruk, Dek. Dimakan biar nggak mual ya? Dek Ayu juga belum makan malam. Udah disiapin sate ayam dan nasi sama Mbak Bunga." Ia menunggu, menonton Sandra yang sibuk membilas mulutnya dengan air kran.

"Kenapa, Dek? Kamu nggak suka kambing?" Tangannya menggenggam tangan Sandra yang keluar dari kamar mandi. Bagas tengah menuntun Sandra menuju kasur ketika wanita itu tiba-tiba berhenti dan melepaskan tautan tangan mereka.

"Kamu makan kambing, Mas?" Sandra menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan.

"I-iya Dek. Kenapa? Mas bau?" Bagas seketika ikut panik, takut-takut Sandra akan kembali muntah. Ia menciumi pakaian dan tangannya. Sedangkan wanita itu menganggukkan kepala. "Mas cuma makan dua potong padahal." Melihat Sandra yang berlari memasuki kamar beberapa saat lalu, Bagas juga seketika meninggalkan tusukan satenya yang belum habis—menyusul sang istri.

"Mandi, Mas. Aku nggak mau tidur sama kamu kalau masih bau kambing."

"Iya, Dek. Nanti sebelum tidur, Mas mandi ya. Tapi Mas mau makan dulu. Dek Ayu mau ikut gabung lagi?"

Dengan cepat Sandra menggeleng. "Aku takut mual lagi. Aku makan di sini aja ya, Mas. Bilang aja aku sakit." Suaranya sedikit teredam akibat tangan yang masih menutupi sebagian wajah. Posisi mereka sungguh terasa canggung, Bagas ingin memberikan afeksi, namun sang wanita menjaga jaraknya dengan baik.

"Mas anterin makanannya ke sini ya." Berakhir dengan sang pemuda yang beranjak keluar kamar, kembali menuju teras.


Pintu kamar Sandra terbuka lebar, membuatnya sontak menoleh dan seketika berdecak sebal karena mendapati Farhan dan Kevin dari arah bingkai pintu. Melihat senyum Farhan yang memuakkan, Sandra langsung saja menutup ponselnya dan bersedekap di dada.

"Masih mual, Dek Sandra?" Tanya Farhan dengan bibir membentuk lengkungan senyum jail. "Hamil kali."

"Mana ada!" Sergah Sandra dengan cepat. Kevin juga sama terkejutnya, terbukti dengan matanya yang melebar.

"Ya kan barangkali." Farhan berusaha ngeles, masih dengan raut menjengkelkan yang setia di wajahnya.

"Mana piring kotormu? Sekalian mau aku buang." Kevin menimpali sembari matanya menelusuri sesisi kamar Sandra dan tak menemukan piring plastik yang mereka gunakan. Tangannya turut serta membawa kantung sampah hitam yang ia ambil dari dapur.

"Udah aku buang sendiri tadi di belakang." Wanita itu menurunkan kakinya dari ranjang dan berdiri masih dengan jarak satu meter dari dua pria dewasa di hadapannya saat ini.

"Yaudah kalau gitu, ikut kumpul-kumpul sana, Dek Sandra. Semua jejak kambing udah diberesin sama Bang Fahri, Bang Rivan. Udah disemprot parfum juga tuh. Aman kalau mau keluar." Imbuh Farhan.

"Mas Bagas kemana?" Sandra hendak berjalan maju namun urung karena ia merasakan bau asap dari pakaian kedua laki-laki tersebut. Seketika ia bersikap hati-hati karena ketakutan jika tercium aroma sate kambing.

"Iya, iya ini mau mandi." Belum juga Sandra membuka suara, Farhan sudah terlebih dulu menimpali.

"Hehe, makasih Bang." Ia besorak senang.

"Itu suamimu lagi main sama bocil-bocil." Kevin kemudian berlalu yang diikuti oleh Farhan setelahnya. Meninggalkan Sandra yang kini berjalan mengintip suasana teras dari arah pintu kamarnya.

Bagas terlihat sangat seksi kala memandu ketiga keponakannya yang kembali melanjutkan bermain kembang api yang sempat tertunda agenda makan malam.

"Adek masih mual?" Dari arah belakang, Sandra dikejutkan oleh suara Hamzah yang ternyata berdiri sembari mengamati tingkahnya.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang