Mas Bagas
Jangan ke kafe hari ini.
Di rumah aja.
Tunggu aku pulang.
Kenapa mas?
Mas kemana?
Kok aku bangun mas gak ada?
Sandra kebingungan dengan pesan Bagas. Bahkan pagi ini ia tak mendapati Bagas di rumah, termasuk mobilnya yang telah menghilang dari area parkir.
Namun semua kebingungannya terjawab ketika menyadari ruang pesan yang tak pernah ia buka tiga hari terakhir itu terbuka. Termasuk dua riwayat panggilan berdurasi kurang dari lima menit dengan sosoknya.
Bagas tau.
Dan Sandra panik. Seketika ia berkeringat dingin dan jantungnya berdebar keras. Sungguh tidak nyaman. Sandra kembali mual.
Wanita itu berlari menuju toilet. Kali ini mualnya terasa lebih menyiksa dari sebelumnya. Ia memuntahkan semua isi perutnya yang kosong. Rasa getir dan asam kemudian memenuhi indera perasanya.
Suara pintu kamar yang dibuka membuat Sandra menoleh. Mak Ani berdiri dengan segelas air putih di tangan.
"Ibu!" Wanita paruh baya itu berjalan cepat dan membantu Sandra untuk bangkit menuju wastafel. Ia membersihkan mulutnya yang terasa menjijikkan kemudian menerima gelas dari Mak Ani. "Ibu masuk angin ta? Mau Mak kerok, Bu?" Tawarnya sembari memijit pundak Sandra yang lemas.
"Nggak usah, Mak." Sandra menggeleng lemah, tangannya meletakkan gelas tersebut di pinggir wastafel. "Bapak ada bilang sesuatu ke Mak pagi ini?"
"Ada Bu." Jawabnya ragu—takut menyakiti hati Sandra.
"Apa kata Bapak?"
"Ibu ndak boleh keluar rumah. Mak disuruh bawa kunci pintu dan nunggu Bapak pulang."
'Bagas sinting!'
Dengan umpatan yang tertahan di ujung lidah, Sandra berjalan kembali menuju ranjang.
"Ibu makan dulu ya? Mak antar ke sini makannya ya, Bu?"
"Aku nggak lapar, Mak."
"Tapi Bu, kata Bapak, Ibu harus makan. Ibu juga baru muntah. Nanti Bapak khawatir Bu."
'Nggak mungkin.'
Bagas mungkin jijik kepadanya alih-alih merasa khawatir.
"Mak harus banget laporan semuanya ke Bapak?" Sandra sedikit kesal. Mak Ani begitu setia mengabdi pada Bagas. Dan itu merepotkan. Ia seperti tengah diawasi secara tidak langsung oleh suaminya.
Wanita paruh baya itu terlihat kikuk ketika ditanya mengenai keberpihakan di antara Sandra atau Bagas. Jelas, kedua suami istri itu lagi tak akur. Pagi ini ia bahkan tak mendapati tuannya berada di rumah, yang mana sangat aneh. Dan Bagas hanya mengirim perintah melalui panggilan telepon. Tidak mungkin Bagas pergi meninggalkan waktu sarapan bersama istrinya.
'Pasti ada sesuatu.'
"Yaudah, bawain makanannya ke sini, Mak." Sandra pada akhirnya menyerah. Mungkin Bagas tidak akan begitu marah jika Sandra menurut.
Sandra mondar-mandir di kamarnya dengan mata yang tak berhenti menatap jam yang telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Harusnya, sebentar lagi Bagas tiba. Dan ia ketakutan bukan main.
Keringat dingin tak berhenti membuatnya merinding ketakutan. Tubuhnya juga lemas karena ia muntah tiga kali hari ini. Semua terasa kacau.
Pintu kamar dibuka. Sandra segera beralih dan mematung karena mendapati Bagas yang berdiri di sana, siap menghujaninya dengan pertanyaan dan tuntutan. Siap menghakiminya. Pria itu terlihat lelah, kantung matanya menghitam, dan tampilannya terlihat berantakan. Wajahnya datar dan dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Propinquity Effect: Bittersweet
RomanceTidak pernah terbayang di kala usia Sandra Amirah uang menginjak 21 tahun bahwa ia akan menikah. Bagas Adiguna hanya seorang biasa, murid sang ayahanda, yang kebetulan sering datang; yang kebetulan menjadi kesayangan ayahnya; yang kebetulan menaruh...
