"I got you!" Bagas dengan gerakan refleksnya yang cepat berhasil menangkap Sandra yang membanting tubuhnya ke depan. Ia bernapas lega kala tubuh tersebut berhasil ia peluk erat dari belakang, membayangkan Sandra yang terjatuh ke lantai bukanlah hal yang ingin ia lihat. "Dek, jangan tidur dulu. Pindah ke kasur." Bisiknya sembari mengelus lembut pipi istrinya yang nampak bersandar pasrah pada dadanya.
"Nggak lagi-lagi aku ngide ngajak berenang terus dilanjut make out kaya gini. Rasanya mau pingsan." Bibir sang wanita tepat di sebelah telinga Bagas, membuat pria itu tergelitik akibat hembusan udara panas yang dikeluarkan.
Bagas—yang juga sama kelelahan—hanya bisa tersenyum simpul lalu menyandarkan kepalanya pada kursi tunggal sembari menahan tubuh Sandra pada pangkuan.
"Aku berat nggak Mas?" Bisiknya, matanya mengawang pada langit-langit kamar.
"Berat."
Sandra berdecak sebal. Dan Bagas tergelak setelahnya karena pukulan lemah wanita itu pada pahanya. "Jangan dipukul, Dek. Yang bawah nanti bangun. Ribet." Like a cherry on top, peringatannya itu di akhiri kecupan di bahu Sandra.
Bergidik ngeri, wanita itu dengan cepat berdiri dan melangkah mendekati ranjang meskipun kakinya terasa sedikit bergetar karena kehabisan tenaga. Bagas yang ditinggal begitu saja lagi-lagi hanya dapat tertawa renyah memandangi tubuh polos istrinya yang kini tertelungkup di atas ranjang.
"Mau langsung mandi?" Tanya sang pemuda yang tengah bangkit untuk membuang pengaman ke tempat sampah dan kembali mengenakan pakaian dalamnya, kemudian ikut menyusul sosok istrinya di atas kasur.
"Besok aja, aku nggak kuat berdiri. Mataku berat banget." Balasnya dengan nada mengantuk, wajahnya menghadap pintu kaca balkon—membelakangi Bagas yang kini menyamankan posisi termasuk menyelimuti tubuh mereka berdua.
Batal sudah niat pillowtalk yang sudah Bagas rencanakan. Membuatnya masih tertinggal rasa penasaran dengan perubahan sikap Sandra yang drastis akhir-akhir ini.
Sosok Sandra yang sudah nyaman membelakanginya itu tiba-tiba berbalik, meringkuk mendekat pada dadanya yang kemudian disambut lebar-lebar oleh Bagas. "Mas...perutku sakit. Kayanya mau mens." Rintihnya lemah sembari menekan perut bawah yang terasa nyeri.
Ini pertama kali—dalam dua puluh delapan tahun hidupnya—Bagas berhadapan langsung dengan wanita yang tengah mengeluhkan nyeri pra menstruasi. Tentu saja ia nol besar. Sandra tidak pernah mengalami kram perut sebelumnya selama mereka menikah.
Bagas harus melakukan apa?
"Mas...ambilin air panas dalam botol."
"Iya, tunggu ya. Mas ambil airnya dulu." Segera, tangannya meraih sebuah botol plastik kosong, tidak peduli jika botol tersebut nantinya akan sedikit meleyot karena panas. Toh ia akan melapisinya dengan kain.
Bagas kembali dengan sebotol air panas dan kaos bersih miliknya yang ia ambil dari koper, ia menyerahkan kompres tersebut kepada Sandra dan meraih pakaian istrinya yang tercecer di lantai. "Pakai baju dulu, Dek Ayu. Mas bantu."
"Aku jarang banget nyeri kaya gini, Mas. Bisa dihitung jari." Keluh Sandra yang pasrah kala Bagas membantunya kembali mengenakan gaun tidur dan pakaian dalam.
"Mau periksa? Bulan lalu juga telat, kan? Mau telepon Bang Farhan dulu?" Ia merujuk pada satu-satunya dokter kandungan dari keluarga Sandra. Bagas juga meraih piyama dari lantai dan kembali mengenakannya.
"It's fine." Alasan Sandra menolak adalah akan sangat memalukan jika Bagas berkonsultasi tentang kondisi nyeri perut yang ia alami selepas berhubungan seksual. It is embarassing. Mau ditaruh mana muka Sandra di hadapan Farhan? Ia membenci kemungkinan Farhan yang akan menggodanya. Ugh, membayangkannya saja Sandra sudah ogah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Propinquity Effect: Bittersweet
RomanceTidak pernah terbayang di kala usia Sandra Amirah uang menginjak 21 tahun bahwa ia akan menikah. Bagas Adiguna hanya seorang biasa, murid sang ayahanda, yang kebetulan sering datang; yang kebetulan menjadi kesayangan ayahnya; yang kebetulan menaruh...
