Sandra bisa gila.
Mengapa sejak Sandra hamil, nafsunya malah semakin melambung tinggi?
Ini tidak baik. Ini mungkin akan membahayakan ketiga anaknya. Apalagi Dokter Azizah telah memberi wejangan untuk menghindari hubungan seksual untuk sementara. Ditambah Bagas juga tidak akan mungkin mau diajak senang-senang. Sandra frustasi.
Sandra yang awal harinya telah disambut oleh morning sickness itu tengah meminum airnya sebelum memulai aktivitas. Ia sempatkan diri mematut perutnya di cermin lalu tersenyum kecil dan berjalan keluar kamar hendak mengetuk pintu kamar Bagas yang sedikit terbuka.
"Mas?" Panggil Sandra sembari mengintip dan mendapati Bagas yang baru saja mandi. Tubuhnya nampak segar dan masih setengah basah. Dan yang parah adalah pria itu hanya mengenakan handuk di pinggang dan sepertinya hendak mengenakan seragam kerjanya.
Oleh karena itulah Sandra menjadi frustasi. Ia merindukan Bagas, di atas ranjang tentu saja. Pria itu yang akhir-akhir ini sering pergi ke gym mulai menunjukkan hasil, tubuhnya semakin terlihat menggoda. Menggoda iman Sandra tentu. Mengapa pula ia harus mendapati pemandangan seperti ini di saat ia harus puasa?
Yang diintip sontak menoleh, Bagas seketika menutup tubuh atasnya dengan sarung yang ia ambil sembarangan. Benar-benar tidak menginginkan pandangan kotor itu mengeksplorasi tubuhnya.
"Aku mau izin jalan pagi, boleh?"
"Enggak boleh." Ucapnya cuek, mengundang delik raut tidak percaya dari Sandra.
"Aku mau olahraga, bukan mau selingkuh."
Bagas tersenyum meremehkan. "Enggak ada yang bilang kamu mau selingkuh. Habis muntah kan kamu pagi ini? Makan dulu baru olahraga."
"Eh?" Sandra terkejut karena ternyata Bagas mendengar suaranya di kamar mandi pagi ini. Pria itu pun mendekati Sandra dengan pandangan serius. Bagas sempat terdiam sejenak sebelum memberanikan diri untuk bertanya.
"Jujur, San. Kamu beneran periksa ke dokter penyakit dalam atau...ke dokter kandungan? Kamu...nggak hamil kan?"
Ditanya seperti itu seketika membuat Sandra tertegun. Rasanya jantungnya serasa berhenti berdetak barang sejenak. Matanya mengerjap sebelum cepat-cepat tertawa hambar.
"Hah? Yakali hamil, Mas. Kamu pikir kalau aku hamil, aku masih bisa ketawa-ketiwi kaya gini? Kamu terlalu overthinking." Dengan tawa dibuat-buat, Sandra mengibaskan tangan kanannya, seperti mengusir kerisauan Bagas.
Bagas lantas mendengus. Lalu menatap Sandra dingin. "Good, aku selalu pakai pengaman. Nggak mungkin kamu hamil kan? Karena sekarang aku juga mikir ulang untuk punya anak sama kamu." Setelahnya pria itu menutup pintu dengan sedikit kasar.
Meninggalkan Sandra yang seketika terdiam dengan kedua tangan mengepal di sebelah tubuhnya. Matanya memerah menahan tangis.
'Bagas brengsek!'
Sandra beranjak menuju kamarnya, mengunci pintu, dan meluruhkan diri ke lantai. Kakinya terasa lemas, tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Dadanya begitu sesak mendengarkan kalimat Bagas barusan. Ia tidak peduli jika pria itu memandangnya rendah, tetapi kalimat pria itu yang mengindikasikan bahwa Bagas tidak mengharapkan anak darinya sungguh melukai hati Sandra.
Bagaimana bisa Bagas berkata demikian ketika jelas-jelas pria itu yang membuatnya dalam keadaan seperti ini? Pria itu masih dapat berkata demikian angkuh kala sosoknya telah menghamili Sandra.
Sandra mulai merasakan setitik rasa benci untuk Bagas. Anak-anaknya tidak pantas mendengarkan hal tersebut dari bibir ayahnya sendiri.
Sandra membisikkan kata-kata cinta sambil mengelus perutnya sendiri. "I love you so much."
KAMU SEDANG MEMBACA
Propinquity Effect: Bittersweet
RomanceTidak pernah terbayang di kala usia Sandra Amirah uang menginjak 21 tahun bahwa ia akan menikah. Bagas Adiguna hanya seorang biasa, murid sang ayahanda, yang kebetulan sering datang; yang kebetulan menjadi kesayangan ayahnya; yang kebetulan menaruh...
