38. Kabar Duka

321 15 3
                                        

Sandra tengah mengetikkan balasan surat elektronik untuk seseorang ketika langkah kaki Bagas terdengar di lantai dua. Ia sempat menghentikan pergerakan jarinya dan menoleh ke belakang dan mendapati Bagas yang menatapnya. "Mau langsung makan malam, Mas? Aku angetin ya?"

Bagas hanya mengangguk singkat sebelum menghilang di balik pintu kamar.

Sandra tengah meletakkan piring berisi lauk dan mangkok sayur ke atas meja makan. Bagas datang tak lama dengan tubuh yang terlihat lebih segar dan Sandra hanya melemparkan senyuman formalitas kala pria itu mendudukkan diri di kursi makan. Wanita itu menyiapkan isi piring Bagas lalu mengambil porsinya sendiri.

Mereka makan ditemani hening dan suara dentingan sendok yang beradu. Sesekali saling melempar tatap penuh kecanggungan dan membasahi kerongkongan yang kering dengan air di gelas.

"Ibuk minta kita nginep di rumahnya." Bagas memuat nasi ke dalam sendok.

"Kapan, Mas?"

"Besok aku jemput setelah dari kafe, gimana?"

"Boleh." Sandra menyetujui dengan cepat dan kembali melanjutkan makan seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Bagas menatap lamat-lamat tingkah sang istri dan memilih untuk menghabiskan airnya. Kini ia tidak berselera untuk menghabiskan sisa makanan di atas piring.

Melihat itu, Sandra hendak menegur setelah ia mengelap sudut bibirnya dengan tisu. "Enggak dihabisin, Mas? Sayang nasinya..."

Bagas nampak terdiam. Pandangannya terpekur pada kedua piring di hadapan sembari kesusahan menelan saliva. Tenggorokannya tercekat.

"Mau sampai kapan, San?" Ucapnya dingin.

Sandra yang tidak memahami maksud Bagas itu pun mencoba meminta penjelasan. "Maksud Mas Bagas?"

Maka pria itu menoleh dan tersenyum sinis. "Mau sampai kapan kamu bersikap seolah nggak terjadi apa-apa di antara kita?"

"Aku bohong tentang Ibuk." Bagas tertawa hambar. "Kamu berlagak kita sedang baik-baik aja. Aku jemput kamu besok dan kita pergi ke rumah Ibu tanpa beban. Nyatanya...kita nggak sedang baik-baik aja, San!"

"Terus...kamu maunya aku kaya gimana, Mas?" Wanita itu kebingungan dengan sikap Bagas malam ini. Sandra sudah lelah dan tidak ingin ada perdebatan lagi.

Bagas membasahi bibirnya. "Setiap aku lihat kamu yang bersikap seolah nggak ada masalah di antara kita, aku marah, Sandra. Kamu berlagak seolah-olah kamu nggak pernah selingkuh di belakangku! Kamu seperti sedang merayu anak kecil yang minta dibelikan mainan. Kamu seperti sedang merayu orang ngambek karena hal sepele. Padahal masalah yang kamu buat itu besar, San!"

"Aku tanya sekarang...kamu mau aku kaya gimana, Mas?" Sandra mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Ia menghindari tatapan Bagas dan memilih untuk menatap kursi kosong di seberangnya. "Aku udah nangis di kakimu; aku udah minta maaf sampai mungkin kamu bosan mendengarnya; aku udah berusaha keras untuk bersikap baik dan berharap hatimu mencair; bahkan aku udah siap kalau kamu mau melampiaskan amarahmu itu ke tubuhku. Aku harus bagaimana lagi, Mas?" Urat di pelipis Sandra nampak menonjol, pertanda wanita itu tengah menahan sesuatu yang meronta ingin meledak.

Bagas terdiam.

"Aku mau kamu menyesal." Desisnya.

"Bagaimana cara yakinin kamu kalau aku bener-bener menyesal?"

Pria itu enggan menjawab. Ia sendiri juga tidak memahami apa yang hatinya inginkan selain melihat Sandra yang harus hidup dengan penyesalan yang begitu besar alih-alih hidup tenang seperti ini. Bagas...tidak punya jawaban.

"You know what?" Bagas melempar tisu yang ia gunakan untuk menyeka bibir ke samping piringnya. Ia memundurkan kursi sedikit ke belakang lalu tersenyum sinis. "Aku nggak pernah bisa tidur nyenyak setelah malam itu. Thanks to you." Sindir Bagas tepat di hadapan Sandra.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 14, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang