16. Hanya Berdua

203 16 1
                                        

"Mas Aare udah punya pacar belum, Di?"

"Ya mana aku tau." Jawabnya malas karena sedari tadi pertanyaan mengenai sosok 'Aare' tidak berhenti dilontarkan kepadanya. Mana yang ditanya seputar itu-itu saja—Diana muak. "Tanya sendiri kalau penasaran."

"Loh kan kamu sepupunya. Masa nggak tau sih?" Balas si penanya dengan kekehan bermaksud bercanda. Namun semua orang pasti paham betapa mengesalkannya kalimat tersebut terdengar di telinga. Begitupun Diana. Lantas alisnya menukik, membalas tatap sosok gadis dengan jaket hitam tersebut dengan kekehan yang sama menyebalkannya.

"Ya maaf, aku kan bukan orang yang kepo tentang urusan percintaan orang lain, termasuk sepupuku sendiri." Sindirnya. Sukses membuat sang lawan bicara memerah malu.

"I juga masih nggak percaya kalau si Aare-Aare itu sepupunya Diana. Dunia sempit banget ternyata." Bisik Arin tepat pada telinga Sandra. Keduanya yang sibuk menonton drama yang tersuguh di depan sana memilih tak ambil pusing dan kini ikut menikmati makanan hasil kegiatan bakar-bakar mereka malam ini. "Terus juga ngapain dese ikutan acara kita coba?" Tambahnya. Kali ini dipenuhi dengan nada sinis sekaligus tak percaya.

Sandra mendengus kecil. Jangankan Arin, Sandra juga tak kalah terkejutnya mengetahui keberadaan Aare malam ini—bersama mereka di tengah perkemahan yang mereka sewa.

Mendengar kembali nama pria bertubuh tinggi tersebut, pandangan Sandra secara otomatis bergerak melirik sosoknya. Mencari keberadaannya dan memastikan untuk barang sekali lagi bahwa kehadiran Aare malam ini memang benar adanya.

"Aneh banget." Arin masih saja melemparkan kalimat-kalimat sinis. Namun seakan kemampuan pendengarannya berkurang tajam, telinganya tak lagi mampu mendengarkan bisikan sang sahabat. Sandra terdiam khusyuk.

Ditatapnya Aare yang tengah duduk santai di kursi depan tenda miliknya—dengan jarak yang sedikit jauh dari lokasi perkumpulan mereka malam ini dan sebuah kaleng soda di tangan kanan. Seolah-olah pria itu hanya hadir di tengah-tengah mereka sebagai pengawas yang tidak terlihat namun ironisnya semua gadis di acara malam ini malah menjadikan sosoknya sebagai pusat perhatian yang wajib disebut di dalam setiap obrolan.

Aare nampak begitu menikmati acara kumpul-kumpul malam ini. Mengesampingkan fakta bahwa dirinya menjadi bintang utama di antara wanita-wanita yang mengagumi sosoknya.

"Lihatin siapa sih? Fokus amat. I ngomong sampai nggak digubris." Lantas setelah menyadari ke mana arah tatapan Sandra tertuju, Arin berdecak. "Hey, hey." Ia menjetikkan jarinya di depan wajah sang puan, bermaksud mengganggu fokus Sandra yang ternyata sukses mengembalikan kesadarannya kembali. "Inget noh suami di hotel sendirian. You malah asik melototin jantan lain."

"Ck, apaan sih Rin?! Nggak ada juga yang melototin 'jantan' lain." Ia menggerutu sembari menekankan kalimat yang diucapkan Arin dengan bibir mengerucut. Matanya melirik sinis sang sahabat yang malah tertawa puas melihat reaksinya.

"Ngeles aja terus." Kalimat terakhirnya itu sontak dibalas dorongan pelan di lengan atas. "Tuh suami tuh, lagi kangen. Niat hati mau anget-angetan di hotel berbintang eh taunya ditinggal camping."

"You sekali lagi ngomong gitu, I tampol ye." Ancamannya terasa bak angin lalu, nyatanya tawa Arin semakin menjadi yang mana mengundang perhatian beberapa temannya di depan sana.

"Arin sama Sandra jarang banget denger kabarnya. Apalagi Sandra kemarin pas nikah. Kok nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba nikah aja."

Dari adu mulut ringan beberapa teman mereka di depan sana dan adu mulut Sandra dengan Arin yang menyebabkan fokus mereka terbagi sendiri-sendiri, kini semuanya malah menaruh perhatian pada sosok Sandra dan Arin yang mendadak menoleh karena merasa namanya disebut.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang