8. Kunjungan Mertua

201 20 1
                                        

"Cantiknya mantu Ibuk."

Bersemu malu, Sandra menunduk menatap piring yang tengah ia bawa dan tersenyum. "Makasih Buk."

"Mas Bagas!" Teriak sang ibu mertua ke arah ruang tamu—ke arah Bagas yang kini sibuk bermain dengan adik dan ketiga sepupunya.

"Iya Buk!" Balas Bagas menghadap ke arah ruang makan. Menghentikan gerakan tangannya yang tengah sibuk merakit lego berbentuk helikopter yang belum jadi barang setengah.

"Istrinya mbok ya dibantuin dong, Mas. Sini dulu, biar Gama aja yang jagain. Ibuk juga mau ngomong."

"Udah sana, sana! Dipanggil tuh." Usir Gama sewot lantaran tidak diberi kepercayaan oleh ketiga bocah di depannya untuk merakit mainan digenggaman sang kakak.

Tanpa banyak bicara, Bagas menyerahkan rakitannya kepada sang adik untuk kemudian berdiri dan berjalan ke arah meja makan—tempat di mana kedua wanita kesangannya itu berkumpul. "Hehe, iya Buk. Apa yang bisa kubantu?" Pria itu menatap Sandra—yang kini sibuk menata semua lauk yang baru dipanaskan ke dalam wadah saji—sejenak sebelum memfokuskan perhatian kepada sang ibu.

"Ambilin nasi, Mas. Pindahin ke wadah terus bawa sini."

Berlalu tanpa suara, meninggalkan Sandra dan Fatimah—ibunya—guna beranjak menuju dapur. Sedangkan kedua wanita itu kini hening, dengan Sandra yang canggung setengah mati lantaran ditatap lekat-lekat bak hendak dinterogasi. Maka dari itu, setelah meletakkan sendok saji ke masing-masing piring lauk, ia hendak melangkah menuju kulkas, menghindar.

Namun belum sampai langkahnya menjauhi meja makan, ibu mertuanya memanggil. "Loh, mau ambil apa Mbak? Biar Mas Bagas aja."

Baik Sandra—yang terpanggil—maupun Bagas—yang ikut merasa terpanggil—menoleh ke arah wanita paruh baya yang kini tidak tengah menggunakan kerudungnya, menunjukkan rambutnya yang mulai memutih. Oleh karena itu, Sandra meremas tangan sendiri.

"Mau ambil kue di kulkas, Buk."

"Ah, itu nanti aja Mbak, habis makan aja ya. Mejanya juga sudah penuh. Belum lagi nasinya." Saran Fatimah. "Itu sepupunya Mas Bagas suka kue juga kok, pasti dimakan. Duduk aja Mbak, biar sisanya Mas Bagas."

"I-iya Buk." Matanya menatap Bagas yang tersenyum dan mengangguk kecil—membenarkan ucapan sang ibu.

Mengambil tempat duduk di seberang kursi mertuanya, Sandra kemudian berdeham gugup. Hal itu lantas mengundang senyuman maklum Fatimah. "Mbak Sandra gimana kondisinya? Sudah beradaptasi belum?"

Menaikkan pandangan menuju netra berkaca mata itu, ia mengangguk pelan. "Sudah lumayan kerasan Buk."

"Ayah sehat, Mbak?"

Eh, tiba-tiba?

"S-sehat kok Buk. Alhamdulillah."

"Kata Mas Bagas, Mbak nggak tega ya ninggalin ayah sendirian di rumah?" Dengan kalimat itu, maka Sandra beralih menatap Bagas yang membalas tatapannya karena merasa namanya ikut terseret. Sedang ibu mertuanya berlagak bak tengah menginterogasi Sandra saja.

Mas Bagas ngaduan banget sih!

Makinya dalam hati, walaupun ia dapat melihat dengan jelas Bagas yang menggeleng menyangkal. Sandra ini tidak bodoh ya, dari siapa lagi ibu mertuanya tau jika bukan dari Bagas suaminya itu.

Kini bahkan Sandra sudah memasrahkan diri jika ibu mertuanya itu akan memarahinya. Entah karena apapun, berurusan dengan mertua sanggup membuatnya tidak dapat berkutik. Takut-takut jika mertuanya itu akan memarahinya karena Sandra yang terlalu mengkhawatirkan sang ayah alih-alih suaminya.

"Sering nginep aja di rumah Ayah, Mbak. Mas Bagas juga diajak nggak apa-apa. Ibuk paham kalau Mbak Sandra khawatir sama ayah. Toh Mas Bagas sebenarnya juga sama khawatirnya. Kalau Ibuk kan sudah ada Gama yang jagain." Kini lengan dengan kulit yang telah mengeriput itu meraih tangan Sandra dan meremasnya lembut. "Ibuk ini anggaplah ibunya Mbak Sandra. Mas Bagas juga sudah anggap Ayahnya Mbak sebagai ayahnya sendiri. Tugas kalian berdua ya menjaga yang ada. Jadi, kalau Mbak kangen Ayah, cerita ke Mas Bagas ya. Bilang ke Ibuk kalau Masmu nggak mau diajakin nginep, biar Ibuk pites."

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang