34. Merebut Hati

117 10 0
                                        

Bagas mendiami Sandra. Pria itu bahkan enggan untuk berlama-lama di dalam ruangan yang sama dengan istrinya—termasuk berbagi ranjang. Ketika Sandra bertanya, Bagas hanya menjawab singkat tanpa repot-repot menatap. Tidak ada lagi panggilan Dek Ayu menghiasi bibirnya. Panggilan itu lenyap bersama dengan senyum Bagas.

Di satu sisi, Sandra akhir-akhir ini merasa lemas tak berdaya, juga seringkali muntah dengan frekuensi yang semakin meningkat. Makan pun tak enak, apalagi makan bersama Bagas yang akan membuat suasana berubah suram. Rasa pasrah di awal saat menerima keputusan Bagas perlahan berubah menjadi rasa kesal. Namun walaupun begitu, tak dipungkiri, ia merindukan afeksi Bagas. Sandra ingin dipeluk, dicium, dan dibisiki kata cinta. Sandra merindukan itu semua tetapi takut untuk meminta. Bagas mungkin akan jijik kepadanya.

Tiga hari sudah Sandra tidak berani keluar rumah. Jika butuh keperluan apapun, Sandra mungkin akan meminta pertolongan Mak Ani ataupun memesannya secara online. Bagas sungguh merebut kebebasan Sandra dengan cara terkejam yang bisa pria itu pikirkan guna melampiaskan amarah.

Sandra menyambut kepulangan Bagas dengan senyum hangat. Setelah menyalimi tangan Bagas, ia membantu suaminya itu dengan mengambil alih tas kerja miliknya yang ternyata cukup berat. Sandra mengekori Bagas menuju kamar pria itu dan meletakkan tas kerjanya di atas lemari kabinet.

"Mas, mau aku ambilin apa? Air? Atau teh?" Tanyanya kepada Bagas yang kini tengah melepaskan jaket sergam dan meletakkannya ke dalam kantung pakaian kotor.

"Nggak usah, aku mau langsung mandi." Balasnya tanpa minat. Pemuda itu berdiri di ujung ranjang sedang Sandra hanya diam mengamati di depan kabinet—tak kunjung bernjak pergi. Pemuda itu melepaskan kacamatanya dan melemparnya sembarangan ke atas kasur. Tak hanya kacamata, semua barang di dalam saku yaitu ponsel dan dompet juga ia letakkan begitu saja di sana. Melihat itu, Sandra dengan cepat meraih barang-barang Bagas dan menyimpannya di tempat yang aman.

"Mas Bagas kebiasaan deh. Di simpen yang baik, Mas."

Sedang Bagas hanya bergumam asal dan meninggalkan Sandra begitu saja menuju kamar mandi dengan handuk di tangan. Meninggalkan Sandra yang menghelas napas.

*

Sandra sedikit kesulitan untuk menelan makanannya. Makan malam beberapa hari terakhir sungguh menyiksanya. Suasana meja makan terasa mencekam, ia seperti tengah menyantap hidangan terakhir sebelum dijatuhi hukuman mati. Sandra baru saja hendak menyuap satu sendok terakhir sebelum Bagas beranjak dari kursinya sembari membawa piring kotor. "Mas, sini aku aja yang nyuciin." Ia kembali menurunkan sendoknya—tidak jadi mengisi mulut dengan nasi terakhir.

Pria itu hanya melengos sebagai respon, mengabaikan Sandra dan memilih mencuci piringnya sendiri. Setelahnya ia berlalu. Sandra yang murung hanya menatap punggung Bagas dan kembali menunduk melirik piringnya yang hampir bersih. Ia sempatkan menarik napas lalu kembali melanjutkan makan.

"Mas Bagas, aku buatin teh." Sandra membuka sedikit pintu kamar Bagas dan mendapati suaminya itu tengah sibuk membaca buku di kursi sudut.

"Ya, taruh aja di atas laci." Ucapnya merujuk pada lemari kabinet di sebelah kursinya tanpa melirik Sandra sama sekali.

Lagi-lagi Sandra dicuekin, ia menghela napas—kali ini usahanya masih belum membuahkan hasil. Kala melangkah masuk, matanya mencoba untuk membaca judul buku yang berada dalam tangan Bagas yang kemudian diketahui adalah salah satu novel sains-fiksi remaja yang sempat populer dekade lalu. Seperti yang ia duga.

Bagas menyukai novel fiksi ilmiah. Sandra pikir, pria seperti Bagas mungkin akan memilih membaca bacaan berat—filosofi ataupun non fiksi lain, namun nyatanya pria itu mengoleksi puluhan buku novel fiksi sejak remaja. Berbagai trilogi dan prekuel ada di rak buku suaminya.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang