15. Selamat, Sandra!

215 15 0
                                        

Pagi ini, Sandra terbangun dengan keadaan sisi kanan ranjang yang telah kosong. Padahal dirinya ingat sekali bahwa sosok Bagas tertidur di sana—bersamanya, semalaman.

Wait.

Something odd is happening.

Lalu sedetik setelahnya, matanya yang semula baru terbuka seperempat itu langsung terbelelak. Sosoknya yang terbaring menyamping itu seketika membanting tubuhnya untuk berbaring terlentang.

God...apakah semalaman Sandra tidur di kamar ini?

Sebuah pertanyaan retoris melintasi benaknya, masih dengan dada yang berdegup kencang bak tertidur di kamar suaminya setelah mereka bercinta adalah sebuah dosa besar.

"Sudah bangun Dek Ayuku?"

Belum reda perasaan syok yang ia alami, Sandra kembali dikejutkan dengan suara Bagas yang datangnya dari arah laci pakaian di sebelah sisi ranjangnya. Berdiri sosoknya yang kini tengah memunggungi Sandra sembari memasang sabuk pada celana nomex berwarna cokelat muda itu.

Daripada sapaan sang suami, nyatanya Sandra malah salah menaruh fokus pada penampilan Bagas di pagi buta seperti ini. Rambutnya yang setengah basah itu membuatnya terlihat segar. Ditambah kaus dalam putih berlengan yang dimasukkan ke dalam celana kerjanya, terlihat begitu...seksi di mata Sandra. Oh, oh! Jangan lupakan kacamata berbingkai hitam yang menghiasi mata sipitnya. Bagas terlihat tampan. Seratus persen tampan!

What a good morning.

"Mandi gih Dek. Udah jam berapa ini? Entar keburu terbit mataharinya. Kamu kan belum sholat." Ucap Bagas dengan suara beratnya. Kini pria itu berjalan mendekat, mengundang deru napas gugup Sandra. Harum tubuhnya begitu melemahkan, Sandra sampai salah tingkah.

Duh! Pagi-pagi seperti ini, Bagas sudah menyajikan tampilan yang memanjakan mata. Sandra merasa seperti tengah memenangkan jackpot.

Mengikuti Bagas yang tengah mendudukkan diri di samping ranjang, Sandra ikut bangkit lalu sedikit mencengkeram selimut sangking gugupnya. Kini pikirannya menyalahkan sang suami yang semalaman mengelus dahinya hingga Sandra tertidur lelap dan tidak kembali ke kamarnya di tengah malam.

Kontras dengan rautnya yang kikuk, canggung, apapun itu, Bagas malah tersenyum manis hingga sedikit memperlihatkan lesung pipit kecil di kedua sudut atas bibirnya. Ia memandangi sang istri dengan raut berbinar. Seolah-olah malam mereka mampu membuatnya terbangun dengan sejuta kesenangan tak terbendung. Bagas nampak begitu bahagia. Sandra sampai ikut bingung. Apakah malam mereka memang begitu luar biasa?

"Gimana tidurnya? Ada yang sakit?" Tanyanya lembut sembari mengelus pipi kemerahan sang istri.

"E-enak, Mas." Jawab Sandra ambigu. Mengundang hening sejenak.

Anjir?! Kok enak sih! Sandra bego!

Makinya dalam hati sesaat setelah menyadari betapa menggelikannya kalimat yang keluar dari belah bibirnya itu. Lalu dengan cepat ia meralat kalimatnya sebelum semua menjadi semakin memalukan. "Nyenyak Mas. Maksudku nyenyak dan nggak ada yang sakit." Ralatnya cepat. Aduh, kalau begini ia semakin tidak punya muka untuk menghadapi Bagas. Apalagi kala memori panas semalam kembali muncul di permukaan. Mana kalau diingat semakin memalukan lagi!

Kendati demikian, dari raut wajah Bagas yang cerah ceria pagi ini, sudah jelas pria itu begitu puas dengan apa yang mereka lakukan semalaman. Lihatlah sosoknya yang kini tertawa renyah mendengarkan kekonyolan Sandra yang datangnya tiba-tiba. "Iya, kamu pules banget, Dek. Mas bangunin kamu buat pipis juga nggak bangun."

"M-mas...jangan dibahas." Cicit Sandra dengan wajah menunduk menahan malu atas tingkahnya sendiri.

"Haha. Iya. Makasih ya Dek Ayuku." Timpalnya tulus. Tangan yang tadi masih setia mengelus pipi Sandra kini bergerak turun menuju dagunya—membawa Sandra agar kembali menatap ke depan, ke arahnya. "Sekarang kita baikan ya? Dek Ayu jangan marah-marah lagi. Mas sedih."

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang